Home | Opini Warga | Agama | Haji dan Kesalehan Ritual Sosial

Haji dan Kesalehan Ritual Sosial

image

SIAPA yang tak ingin menunaikan ibadah haji? Setiap muslim pasti ingin menunaikan rukun Islam yang terakhir ini. Sebab haji hakikatnya adalah penyempurna empat rukun Islam sebelumnya. Namun demikian, kewajiban haji hanya dibebankan kepada muslim yang mampu (istitha’ah) baik secara fisik maupun materi.

Karena itulah, haji merupakan aplikasi ajaran Islam yang paling bergengsi. Syarat istitha’ah menjadikan haji sebagai ritus ibadah yang istimewa. Mereka yang terpanggil ke tanah suci adalah orang-orang pilihan (khaira ummatin). Sehingga menjadi sebuah keniscayaan bagi mereka yang terpilih untuk merenungkan secara mendalam substansi simbolitas syarat-rukun haji. Dengan begitu, diharapkan mereka mampu menemukan energi transformatif internal yang dasyat dan memancar keluar hingga terjadilah sinergi kesalehan ritual dan sosial.

Pencapaian inilah yang terpenting dalam haji. Tapi, kebanyakan umat Islam belum sampai pada permenungan reflektif semacam itu. Sehingga mereka terjerembab dalam kubangan simbolitas syarat-rukun haji. Maka bisa dimaklumi bila setelah haji tak ada perubahan signifikan ke arah transformasi kesalehan sosial, kecuali kesalehan ritual (setidaknya) dengan memboyong gelar haji. Sayang sekali, bukan? Padahal, kesalehan ritual dan kesalehan sosial tak dapat dipisahkan. Ibarat dua gambar dalam sekeping mata uang, keduanya harus menyatu. Kesalehan ritual semestinya mampu mendorong orang menjadi saleh sosial. Begitu pun sebaliknya, kesalehan sosial lahir karena intensitas yang massif dalam saleh ritual.

 

Makna Simbolik

Untuk mencapai sinergi yang dinamis antara kesalehan ritual dan sosial, salah satu caranya adalah mengungkap makna simbolik syarat-rukun haji. Pertama, haji diawali dengan ihram berpakaian putih. Ini menandakan, agar jamaah haji selalu menekankan kesucian hati dan jiwa dari segala penyakit yang merusak, seperti dusta, iri dengki, mengadu domba, terlalu cinta dunia dan melupakan Tuhannya. Ihram juga menunjukkan egalitarianisme manusia di hadapan Tuhan. Manusia sama di depan Tuhannya. Hanya takwa yang mampu membersihkan hati dan jiwa yang mampu menaikkan harga diri dan martabatnya di hadapan Tuhan.

Kedua, tawaf menggambarkan kebersamaan, persaudaraan, dan kesatuan kolektif. Sebaik apa pun sebuah umat, kalau tidak mampu menjaga rasa kebersamaan dan persaudaraan maka tidak akan pernah mengalami masa kejayaan. Konflik, intrik, dan egoisme sektoral hanya akan memperlemah kekuatan umat ini. Maka melalui tawaf, umat Islam belajar bagaimana pentingnya membina kerukunan, persaudaraan, dan kebersamaan menuju masa depan yang menggembirakan.

Ketiga, sa’i menggambarkan usaha yang terus menerus, tidak kenal lelah dan selalu optimis. Seberat apa pun rintangan dan halangan dihadapi dengan penuh kegigihan, kesabaran, keuletan, dan kesungguhan untuk mencapai cita-cita luhur. Memaksimalkan ikhtiar dan selalu tawakal kepada Tuhan adalah ciri utama umat Islam.

Keempat, haji selalu diiringi gema takbir dan talbiyah. Ini menunjukkan, umat Islam harus mampu menempatkan Tuhan di atas segala-galanya. Umat Islam mesti bisa mengalahkan semua interes duniawi, seperti harta, jabatan, kekuasaan, popularitas, dan publisitas demi menggapai rida Ilahi.

Kelima, haji selalu diakhiri dengan prosesi penyembelihan hewan kurban yang bertujuan menapaktilasi pengorbanan besar Nabi Ibrahim yang tega ‘menyembelih’ putra tercintanya; Ismail. Ini menandakan, jamaah haji harus membuang jauh-jauh sifat kebinatangan, seperti rakus, buas, serakah, memakan yang lemah, tidak mau diingatkan, dan seenaknya sendiri.

 

Menuju Kesalehan Sosial

Kelima nilai itu yang harus diresapi sungguh-sungguh dan diaktualisasikan di tengah situasi yang serba carut-marut dewasa ini. Dari kelima nilai itu, kesalehan sosial yang tersanggul dalam terminologi haji mabrur bisa dikembangkan. Dalam sebuah hadis Nabi dijelaskan ada tiga indikator penting guna mengidentifikasi haji mabrur, yaitu thibul kalam (baik perkataannya), ith’amu ath-tha’am (memberi makan) dan ifsyau as-salam (menyebarkan kedamaian).

Jika hadis tersebut diselami maka akan ditemukan makna bahwa ‘baik perkataan’ dapat diimplementasikan dalam moralitas dan mentalitas luhur, jujur, amanah, sopan santun, dan penuh kerendahdirian (tawadu’) baik di hadapan Tuhan maupun sesama manusia. Saat ini, makna tersebut adalah nuansa langka yang sepertinya perlahan-lahan menguap dari ranah dinamika kehidupan sosial. Mentalitas dan moralitas luhur semakin mahal harganya. Virus patologi sosial seperti korupsi yang mentradisi adalah satu tamsil dari sekian bentuknya. Dengan menginsafi makna ‘baik perkataan’ diharapkan intensitas patologi sosial dapat ditekan secara maksimal.

Sebagai seorang pimpinan, kemabruran haji dapat dilihat dari hilangnya sifat-sifat primordialisme, eksklusifisme, neofeodalisme, dan nepotisme. Ia akan lebih all out berjuang untuk kesejahteraan rakyatnya sesuai dengan sebuah kaidah fiqhiyah, “tasharruful imam ‘ala ar-ra’iyyah manuthun bi al-mashlahah" (kebijakan seorang pemimpin harus mencerminkan kemaslahatan rakyat). Ia akan berusaha menjadi pelayan rakyat, bukan sebaliknya, menjadi majikan rakyat.

Sementara ‘memberi makan’ seyogiyanya dipahami sebagai bentuk kepedulian tinggi terhadap persoalan rakyat kecil dengan berjuang memberantas kemiskinan, kelaparan, kebodohan, keterbelakangan, penindasan, kesewenang-wenangan, dan kezaliman. Fenomena tersebut adalah fakta sosial yang berseliweran di ruang publik. Karenanya, menjadi kewajiban yang tak terelakkan untuk menafikan ketimpangan sosial itu.

Pengusaha dan mereka yang diberi kelebihan rezeki akan semakin dermawan dalam memberikan beasiswa kepada anak didik yang membutuhkan, memberi santunan yatim piatu, anak terlantar dan mereka yang dalam kondisi miskin dan lapar. Pendidik akan semakin ikhlas mengabdikan ilmunya untuk kecerdasan dan keluhuran moral anak didiknya. Ia akan berusaha memberikan yang terbaik agar tumbuh kader bangsa berkualitas yang akan meneruskan estafet kepemimpinan negeri ini.

Sedangkan maksud ‘menyebarkan kedamaian’ adalah berjuang menegakkan perdamaian, persaudaraan, keadilan, persamaan dan kebahagiaan dari orang atau institusi yang tirani, anarkis dan feodal. Diskriminasi dan lemahnya upaya supremasi hukum, kriminalitas yang meningkat, merebaknya aksi terorisme merupakan tantangan dari manifestasi kesalehan sosial itu.

Hal itulah yang menjadi ‘pekerjaan rumah’ bagi mereka yang menunaikan ibadah haji. Di situ tersimpan makna sesungguhnya kesalehan sosial dalam bingkai haji mabrur yang telah dijanjikan surga sebagai balasannya. Surga dalam konteks imanensi duniawi dapat dilihat dari tercapainya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat di segala bidang sekaligus membenarkan adagium klasik gemah ripah loh jenawi tata tentrem kerta raharja.

Ibadah haji tanpa implikasi konkret seperti itu sesungguhnya tak bermakna apa-apa melainkan sebatas menggugurkan kewajiban, apalagi bila ditumpangi dengan interes temporal seperti popularitas dan status sosial. Haji, dengan begitu, telah terreduksi hanya ritualitas tanpa menemukan makna reflektif-transformatif sosialnya. Semoga para jemaah haji tidaklah seperti itu. @

*) Saiful Amin Ghofur, Staf Pengajar Ponpes Roudlotun Nasyi'in Beratkulon Mojokerto.

Komentar terkini (0 komentar):

Jika anda akan memberikan komentar dan memberikan rating pada artikel ini, silahkan login atau klik disini untuk pendaftaran baru
  • email Kirim kepada teman
  • print Cetak berita ini