Kuliah Sambil Kerja, Kenapa Tidak?

MASIH ada anggapan bahwa dunia mahasiswa adalah dunia serba wah: glamor, suka foya-foya dan sebagainya. Barangkali asumsi ini memang berlaku pada segelintir mahasiswa yang latar belakang ekonomi keluarga mereka berangkat dari kelas menengah-atas. Keluarga mereka lebih dari sekedar kecukupan. Sehingga semua keperluannya, baik yang berhubungan dengan kuliah atau biaya hidup, selalu tercukupi.
Akan tetapi segelintir mahasiswa berkecukupan itu tidak dapat mewakili kebanyakan mahasiswa kita. Apalagi tingkat kebutuhan hidup yang terus meningkat
Sebagai negara dunia ketiga, Namun setelah gelombang krisis menghantam perahu perekonomian nasional di penghujung abad 20 asumsi itu secara tidak langsung runtuh dengan sendirinya. Artinya, dunia mahasiswa tidak jauh berbeda dengan iklim kehidupan masyarakat pada umumnya.
Di dunia kampus, mahasiswa sudah lebih dewasa dan mampu mengolah pikir untuk mencari pekerjaan. Mereka seakan acuh dan tak acuh dengan jerih payah orang tua yang telah mengucurkan keringat membiasakan mengirim anak dengan uang hasil dari kerja. Pada budaya menengah keatas, ada budaya yang mengakar bahwa bekerja adalah perbuatan nista, kepercayaan ini mendorong lahirnya sikap tidak perduli dan gengsi bagi sebagian mahasiswa untuk bergelut di antara pekerjaan yang menghasilkan uang menopang studi mereka. Mereka terpenjara kepercayaannya membiasakan diri membaca tanpa mau bekerja kasar seperti anak-anak dan orang miskin kebanyakan.
Membongkar mitos tersebut memanglah tidak mudah, jika merasuki mahasiswa kebanyakan dari keluarga berada, maka akan mengalami kedangkalan pengalaman dari lika-liku bagaimana susahnya mencari uang guna memenuhi kebutuhan hidup.
Berbeda dengan budaya di Barat, seperti Jepang atau Amerika, kebanyakan pada usia mahasiswa, orang tua sudah tidak membiayai kehidupan mereka. Dengan budaya kerja yang mereka usung, sangat banyak ditemukan mahasiswa bekerja sambil kuliah dengan menjadi loper korban, wartawan, membersihkan kantor dan di pabrik. Mereka terbiasa dengan kuliah sambil terus berkarier di bidang bakat yang terus terlatih dengan usaha nyata.
Dalam tradisi agama, betapa nabi-nabi telah bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup. Lihat misalnya, nabi Muhammad yang memilih berdagang sebagai lahan kerjanya. Atau nabi Musa yang menggembalakan kambing. Tanpa bekerja, akan sulit nantinya menemukan pekerjaan yang terintis dari bawah. Bekerja merupakan perwujudan dari aktualisasi diri. Puncak dari kebutuhan manusia menurut Maslow adalah beraktualisasi diri. Perwujudan aktualisasi diri akan nampak dari hasil usaha yang dikerjakan secara penuh dan sungguh-sungguh. Dengan berusaha melatih diri secara terus menerus secara maksimal akan menempa pribadi lebih tangguh menghadapi pasang surut kehidupan.
Pendidikan di bangku kuliah mestinya mampu mendorong usaha mahasiswa untuk ulet dan mempunyai pengalaman dinamis tentang aplikasi teori-teori yang digeluti di bangku perkuliahan. Para mahasiswa bisa saja mengambil pekerjaan seusai kuliah dengan memberikan les privat, bekerja di pabrik, menjadi kuli, sales dan membantu memberikan jasa layanan kepada orang-orang yang membutuhkan, seperti mengadakan pengetikan komputer, bengkel, jasa internet dan cleaning service.
Pekerjaan semacam itu tidak membutuhkan skill yang terlalu rumit, hanya membutuhkan sikap berani dan membuka diri bahwa pekerjaan akan membantu usaha mandiri dengan cepat. Keyakinan itu penting untuk menerima diri dalam dunia usaha, dari pada menunggu selesai menjadi sarjana baru memulai bekerja. Hal itu akan sangat terlambat dan menjadikan pengangguran semakin bertambah. Berapa banyak sarjana, sebagaimana diilustrasikan Iwan Fals lewat lagunya Sarjana Muda, yang bingung mencari kerja?
Jika mahasiswa mempunyai bakat dan keberanian memulai usaha, maka sejak awal harus dikembangkan dan berusaha mewujudkan saat ini. Menunda pekerjaan hanya akan membawa ketergantungan hidup dan membawa penderitaan. Dengan bekerja sejak awal, pengalaman dan kedewasan sikap akan menempa mahasiswa menjadi pekerja keras yang mengutamakan nilai rasional.
Tunggu apa lagi, ayo bekerja dengan gembira. Apapun yang kita lakukan akan membawa nilai guna untuk kemajuan diri. Bekerja apapun demi menopang hidup dengan kualitas lebih baik, akan mendorong upaya kemajuan peradaban generasi kerja mencapai prestasi tinggi. Bermalasan dan menunda pekerjaan akan menambah penderitaan yang membawa kemiskinan semakin melebar.
Upaya mahasiswa hidup mandiri perlu diapresiasi yang memungkinkan lahirnya tradisi kebebasan yang memberikan ruang usaha keras mewujudkan asa. Kemandirian adalah puncak hasil kemandirian seseorang. Kapan lagi kita akan menabung kemandirian jika tidak dimulai dari sekarang. []
*) Penulis adalah Saiful Amin Ghofur, Pemimpin Redaksi Penerbit Kaukaba Dipantara Yogyakarta.
Pekerja sosial yang kini menetap di pinggiran Jakarta
Total Posting: 563 | Rating: 138



del.icio.us
Digg

Komentar terkini (0 komentar):
Jika anda akan memberikan komentar dan memberikan rating pada artikel ini, silahkan login atau klik disini untuk pendaftaran baru