Arini ... Dambaan Setiap Laki-laki

Seringkali Arini mengharap lagi kehadiran sesosok malaikat bersayap kilau-kilau kupu-kupu hijau seraya memanggul lelaki itu. Atau setidaknya seekor burung merpati datang meniti siluet pelangi mengabari betapa lelaki itu nanti akan kemari untuk kesekian kali. Pada saat itulah ia akan merasakan aroma melati di sunyi hari lebih menentramkan hati ketimbang nyata menjelmakan mimpi yang paling berarti.
“Sungguh, Rin! Jika malaikat membawa lelaki itu kemari aku akan menagih janji.” Arini bicara sembari matanya menangkapi burung-burung yang hinggap di pucuk cemara. “Aku sungguh menantikan saat-saat itu.”
Rindiani yang mendengarnya cuma terpana. Dengan sentuhan angin sepoi tangannya meraih pundak Arini yang tampak terguncang badai. Dielusnya pelan-pelan seperti sinar matahari pagi membangunkan kelopak mawar agar segera mekar berbinar. “Kau harus bersabar, Arini! Aku yakin saat yang kau tunggu akan segera menghampar.” Rindiani mencoba menghibur.
Arini kembali melempar pandang kemboja pada rumput-rumput ilalang yang bergoyang-goyang. Pada gemericik air sungai yang setia mengalir. Angin senja menyapa manja serasa mendesau daun-daun telinganya. Pohon-pohon cemara mulai samar saat pegunungan itu mengirimkan asap-asap putih lembut membalut lereng-lereng perbukitan yang letih.
Arini senang sekali datang ke sini. Menyaksikan panorama alam yang tenteram. Melihat matahari malu-malu tenggelam ke balik perbukitan meninggalkan sinarnya kemilau jingga menelusup celah-celah dedaunan cemara. Burung-burung kenari menari-nari bersijingkat ringan melukiskan kesunyian. Ia juga merasakan angin perlahan-lahan berpusaran ringan seperti belaian. Di tempat ini Arini melesapkan gundah yang disesah gelisah. Ia memilih tempat ini untuk menggali kedamaian hati. Merayakan kebebasan diri menyatu dengan ketenangan alam raya yang kaya warna. Di tempat ini pula ia biasa ketemu Rindiani untuk berbicara dari hati ke hati.
Arini merasa beruntung mengenal Rindiani. Sering ia merasa iri pada Rindiani sebab ia, Rindiani, tampak begitu renyah menghadapi resah yang kadang-kadang tiba-tiba datang menebah. Tetapi Rindiani? Rindiani malah melihat Arini sebagai sesosok perempuan yang tabah. Rindiani diam-diam mengagumi Arini. Hidupnya melimpah serba wah. Keberpihakan takdir yang meruah. Iri dan mengagumi menjadikan mereka, Arini dan Rindiani, dua orang perempuan yang saling mengisi dalam mengerti dan memahami.
“Arini, apa tidak lebih baik kau berusaha mencari, bukan hanya menanti!” Rindiani berbicara dengan suara gelas pecah. “Sebab kaum lelaki punya kecenderungan ingkar janji. Selepas keinginan didapati segera ia ingin berlari.” Rindiani menasehati dengan amat hati-hati agar tidak semakin menusuk hati Arini.
Arini mendesah sambil terus memandang cuaca sendu perbukitan yang lamat-lamat tampak membasah. Kedua pipinya juga mulai terasa basah bersamaan saat uap udara menetaskan bintik-bintik embun di ujung daun. Arini sedikit mengangkat bahu. Tangannya merogoh saku mencari-cari tisu. Yap, ketemu! Diusapkan ke mata yang berkaca-kaca menahan airmata.
Kau benar, batin Arini. Kebanyakan lelaki cuma bisa mengambil hati. Pandai mengolah kata-kata tetapi kurang pandai memahami hati dan perasaan wanita. Kelebihan umum lelaki terletak pada kata-kata. Kita tak pernah mengerti apakah lelaki benar-benar dapat dipercaya dan bisa dipegang kata-katanya.
Arini membungkuk dengan hati kalut memungut selembar daun yang baru saja melayang dari cengkeraman seekor burung pembuat sarang. Tapi tiba-tiba ia merasa fana. Dilihatnya seolah-olah dirinya berubah menjadi selembar daun di dasar keheningan. Sepi. Sendiri. Tercerabut pelan-pelan dari dahan dan reranting pohon, bahkan dari sesama rerimbun dedaunan. Padahal ia ingin merasakan aroma melati di sunyi hari lebih menentramkan hati ketimbang nyata menjelmakan mimpi yang paling berarti.
***
“Benar, Rin, saat ia mengulurkan diamnya aku serasa benar-benar lebih hidup ketimbang di dunia nyata. Ada getaran dasyat menggetarkan jiwaku.” Arini memetirkan suara.
“Wah, asyik, kau sudah jatuh cinta. Selamat datang di dunia tanpa batas, Arini.”
Keduanya mendelik sesaat kemudian bersama-sama terkikik.
“Kau tahu, Rin!” Arini mengisahkan dengan cerita keramahan hujan menghunjam tanah bebatuan. “Ketika dawai-dawai kecapi cinta berdentingan kau harus menari. Bersama cinta akan terziarahi berbagai-bagai dimensi kemanusiaan kita Dalam cinta yang tampak cuma titik kesatuan. Bahkan…”
“Bahkan hingga kehilangan keakuan kita!” Rindiani menyela.
Sialan! Rindiani memang pandai menerka. Mereka tersenyum, senyuman yang bersahaja.
“Cinta itu egois, Arini. Cinta akan merampas segala apa yang kita punya. Ingatlah cerita-cerita percintaan purba yang lebih banyak menggenangkan airmata ketimbang mengalirkan bahagia.”
Arini berkerut, tetapi Rindiani justru manggut-manggut seraya bersungut-sungut.
“Kau terlalu banyak membaca karya-karya percintaan Gibran, Arini.” Rindiani lebih mendekat. “Oleh Gibran kau diajak menelusuri lorong-lorong cinta. Atas nama cinta ia memintamu melepas busana keakuanmu kemudian menyetubuh dengan cinta. Tetapi kau tahu betapa Gibran sendiri susut saat May Ziyadah hanyut. Tetapi karena itu malahan Gibran dikenang orang sebagai sosok begawan percintaan purba.”
Rindiani mendesah pelan. “Aneh! Mestinya disebabkan cinta manusia bisa memetik pesona, saling mengisi dan menyemangati. Bukankah ini yang diteladankan Khadijah ketika Muhammad gemetaran selepas menerima wahyu pertama di Gua Hira! Tidak seperti percintaan klasik Qais-Laela!”
“Huh, seperti filsuf saja, Rin.., Rin!” Arini mencibir dengan bibir getir.
***
Wajah Arini memekarkan bunga-bunga, rambutnya tersibak berhelai-helai meniupkan wangi kembang melati ketika lelaki itu datang pertama kali. Entah mengapa, kekosongan hatinya tiba-tiba terisi. Bersama lelaki itu Arini merasakan aroma melati di sunyi hari lebih menentramkan hati ketimbang nyata menjelmakan mimpi yang paling berarti.
Seperti pada malam itu.
“Setiap bersamamu, aku merasa berada di puncak hidupku…” Kata Arini dengan suara lirih seperti ritmis gerimis sambil merentangkan kedua tangannya meraih leher lelaki itu. Mereka berhadapan. Mata pun bersitatapan. Ah, dari jarak amat dekat, betapa lelaki itu terlihat begitu anggun dengan bibir tipis mengkilap, dada bidang berbulu-bulu lebat menjadi mengkilat oleh keringat yang merenda hasrat. Keduanya semakin rapat.
Arini memejamkan mata ketika lelaki itu bergerak lincah seperti menari-nari membawanya terbang tinggi. Arini merasa merayap lereng-lereng perbukitan yang lindap. Sesekali hinggap di pucuk-pucuk pohon cemara yang senyap. Ia mendengar lamat-lamat desah kabut yang tersaput angin ribut. Pada saat seperti ini Arini merasakan aroma melati di sunyi hari lebih menentramkan hati ketimbang nyata menjelmakan mimpi yang paling berarti.
Arini meluruh bersamaan tubuhnya rubuh di dasar keremangan. Terasa sesuatu mengalir lembut ke seluruh tubuhnya. Hingga sampai langit di puncak malam. Arini meregang. Jiwanya menggelinjang. Disentuhnya satu persatu gugusan terang bintang gemintang. Juga mengelus rembulan. Mulutnya ternganga seakan moksa dalam fana. Kamar bergetar. Ranjang berdengusan datar. Ia merasa ada hasrat yang ingin segera muncrat ketika lelaki itu memasukinya.
Dan tiba-tiba. Ahh! Ada sesuatu yang perlahan-lahan merasuki tubuhnya. Hangat seperti sinar rembulan. Atau jangan-jangan Arini telah menelan rembulan!
***
Tetapi sesosok malaikat bersayap kilau-kilau kupu-kupu hijau seraya memanggul lelaki itu belum juga datang. Atau setidaknya seekor burung merpati datang meniti siluet pelangi mengabari betapa lelaki itu nanti akan kemari untuk kesekian kali malah tak tampak menghampiri.
Arini semakin bimbang seiring rembulan di tubuhnya kian mengembang. Bukankah harga dirinya sudah sedemikian terbuang? “Kau harus berlajar dari peristiwa ini, Rin.” Arini berbilang sebelum dirinya berubah menjadi selembar daun di dasar keheningan. Sepi. Sendiri. Tercerabut pelan-pelan dari dahan dan reranting pohon, bahkan dari sesama rerimbun dedaunan. Padahal ia selalu ingin merasakan aroma melati di sunyi hari lebih menentramkan hati ketimbang nyata menjelmakan mimpi yang paling berarti.
Rindiani cuma bisa diam. @
Jogja, Juni 2005
Pekerja sosial yang kini menetap di pinggiran Jakarta
Total Posting: 563 | Rating: 138



del.icio.us
Digg

Komentar terkini (0 komentar):
Jika anda akan memberikan komentar dan memberikan rating pada artikel ini, silahkan login atau klik disini untuk pendaftaran baru