Home | Suara Warga | Curhat | Pantai Bambang, Pantaiku ... dan Ikan Paus

Pantai Bambang, Pantaiku ... dan Ikan Paus

image

Tulisan ini diambil dari Blog saudara saya Muhammad Nur Hayid di : http://gushay.blogdetik.com Saya sudah dapat izin dari Mas Hayid untuk mempublikasikan tulisannya di www.kabarwarga.com.

Subhanallah ... kaget dan senang sekaligus, saat aku membaca berita di www.detiksurabaya.com tentang ikan paus terdampar dan pantai bambang di desa Bagu, Pasirian, Lumajang. Terdamparnya ikan yang sebelumnya hanya kami dengar lewat buku dan TV ini merupakan cerita baru. Selama ini pantai bambang, nama yang diberikan seorang penjaga pantai, pak bambang, merupakan pantai selatan yang berbatasan langsung dengan laut lepas Australia.

Biasanya, berita terdamparnya paus yang diberitakan sepanjang 10 meter itu terjadi di pantai-pantai luar negeri. Tetapi kali ini justru terjadi di tetangga desaku, desa Bagu, Kecamatan Pasirian, Lumajang, Jawa Timur. Pantai ini merupakan pantai yang selama masa kecilku selalu aku kunjungi di hari libur. Dulu, pantai tersebut masih alami. Saking alaminya, seringkali tak terasa saat kami berjam-jam menghabiskan waktu di sana. Tetapi saat ini, pantai bambang hanyalah hamparan pasir yang luas selain pantai dan lautan. Hal ini disebabkan karena masayarakat sekitar lebih suka merusak hutan bakau yang indah mengalirkan air bening dari pecahan sungai 'besok 'yang hulunya adalah Gunung Semeru.

Sekarang pantai itu sudah gersang dan kering. Hanya ada beberapa warung makan yang menyediakan tempat makan untuk pengunjung dari kota dan nelayan yang kehabisan bekal. Namun, meski sekarang sudah gundul dan gersang, pantai bambang selalu menarik ribuan pengunjung setiap tahun baru dan syawalan. Bahkan masyarakat dari wilayah Lumajang dan sekitarnya sering berkemah beberapa malam di pantai ini saat merayakan tahun baru dan syawalan tersebut.

Setelah hampir 30 tahun saya mengikuti perkembangan pantai ini, saya baru kali ini mendengar kalau ada ikan paus dengan ukuran besar terdampar di pantai yang tak kan terlupakan ini. Padahal dulunya, kami hanya mendengar nama paus itu dari cerita-cerita nabi Allah, khususnya Nabi Yunus yang terpaksa dibuang ke laut karena perahunya kelebihan muatan. Konon, dalam cerita itu, nabi Yunus dimakan ikan hiu atau paus yang besarnya seperti rumah. Tetapi atas izin Allah, Sang utusan itu selamat. Subhanallah. Tetapi kali ini cerita soal paus ada di pantai yang aku sayangi.

Sungguh ini adalah keajaiban Allah kepada warga Lumajang dan desa Bagu pada khususnya. Semoga ini bukan berarti pertanda apa-apa. Sebab, dalam keyakinan masyarakat Bagu yang mayoritas beragama Islam dengan tipologi masyarakat yang berbudaya Madura, memang meyakini pantai bambang dan pantai selatan pada khususnya memiliki nilai magis.

Bahkan, tak jarang para nelayan yang usai melaut bercerita soal pernah ditemui oleh Nyi Roro Kidul yang saat aku berkuliah di Jogja ternyata menjadi ikon kerajaan dan simbul mistis keraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Sampai-sampai ada sebuah cerita, seorang juru kunci selalu harus menginap di pantai saat perayaan acara tahun baru dan syawalan. Katanya, untuk menjaga agar para pengunjung selamat saat  Sang Nyi membutuhkan korban yang disebut orang Lumajang sebagai tumbal.

Tapi apapun, itulah cerita pantai bambang dan desa Bagu. Sebuah pantai yang mungkin bagi pecinta travelling tidak menarik dan tidak layak dikunjungi. Tetapi bagi saya, pantai bambang adalah situs yang menyimpang sebuah cerita yang tak kan pernah terlupakan. Pantai yang dulunya sangat asri dengan hutan bakau alami yang dikelilingi hutan jati, kini menjadi gersang kerontang.

Pantai yang setiap syawalan saya datangi dari sejak umur 4 tahun sampai saya meninggalkan Lumajang untuk kuliah di Jogja. Pantai yang biasanya aku bersama mbahku datang untuk mengantarku mandi setiap tanggal 7 syawal. Lalu saya bermain pasir di sungai yang merupakan buangan dari gunung Semeru dan sungai-sungai lainnya di daerah saya.

Inilah berita yang membuat saya menulis di soal pantai bambnag di Blog-ku ... semata-mata tulisan ini untuk mengingatkan kenangan dan memori indah masa lalu. Di pantai ini kami pernah mengukir cerita saat menjadi Ketua Pramuka MTS NI Bades. Perjalan indah dari pantai bambang sampai pantai dampar, sebuah perkampungan yang meupakan dusun dari bagaian desa Bades, desa saya yang memberikan kenangan indah dan pahitnya kehidupan.

Sampai saat ini, kalau saya pulang ke kampung halaman, selama ada waktu dan kesempatan, saya akan mengunjungi pantai ini. Yang terakhir, saya mengunjungi pantai ini saat kami meyarakan selamatan 7 bulanan anak pertama saya di Lumajang. Saya ke pantai ini bersama istri tercinta dan mertua serta keluarga Pacitan. Inilaberita yang membuat saya harus menulis soal pantai bambang.

(Berita ini dikutip dari www.detiksurabaya.com) Lumajang - Warga di Pantai Bambang, Desa Bago, Kecamatan Pasirian, Lumajang heboh. Pasalnya di pantai itu terdampar seekor paus sepanjang 10 meter. Saat ditemukan warga paus berwarna hitam sudah mati dan bagian mulutnya mengeluarkan darah segar.

Paus berwarna hitam itu ditemukan pertama kali oleh Ismail (46) seorang nelayan asal Desa Bago, Kecamatan Pasirian, saat sedang mencari batu di sekitar pantai. Dia menemukan ikan paus itu sekitar pukul 04.00 WIB, Senin (7/12/2009).

Awalnya dia menganggap benda hitam besar itu adalah kayu, ketika didekati ternyata paus.

"Saya kaget, waktu saat lihat itu seperti kayu besar. Saya dekati ternyata ikan paus terdampar," kata Ismail kepada detiksurabaya.com ditemui sebuah gubuk di pinggir pantai.

Mendengar ada kabar ikan paus terdampar, warga berbondong-bondong untuk melihat ikan itu. Warga mendekat sekedar untuk memegang dan berfoto.

Nelayan di kawasan itu mengungkapkan selama 3 hari belakangan ombak pantai selatan memang sangat besar dan gelombangnya hampir 5 meter. Cuaca yang buruk disertai angin kencang membuat nelayan enggan melaut.

"Dimungkinkan ikan paus terdampar lantaran cuaca atau saat mengejar buruannya dan kemudian tak bisa kembali ke laut lepas," ungkap Hariamin salah satu nelayan lainnya.

Ikan paus ini baru pertama kali terdampar di kawasan itu. Namun sebelumnya dipertengahan tahun 2007 ditemukan ikan lumba-lumba yang terdampar. Namun sama dengan ikan paus, ikan lumba-lumba juga mati.

(http://gushay.blogdetik.com)

Komentar terkini (1 komentar):

ahmad kosasih pada 11/02/2010 18:35:27
avatar
oemji....subhanallah
Jika anda akan memberikan komentar dan memberikan rating pada artikel ini, silahkan login atau klik disini untuk pendaftaran baru
  • email Kirim kepada teman
  • print Cetak berita ini