Home | Dapur Redaksi | Jurnalisme Warga, Pintu Masuk untuk Sebuah Perubahan Sosial

Jurnalisme Warga, Pintu Masuk untuk Sebuah Perubahan Sosial

image

Jurnalisme warga didasari oleh gagasan bahwa masyarakat yang tidak mengalami pelatihan maupun pendidikan jurnalisme profesional dapat memanfaatkan peralatan teknologi modern dan internet global untuk berkreasi, melengkapi maupun memeriksa fakta-fakta yang diberitakan dalam media. Hal itu bisa dilakukan sendiri maupun berkolaborasi dengan yang lain. Contoh, kita menulis tentang pertemuan di kantor walikota dalam blog kita atau forum online. Atau bisa juga kita memeriksa fakta sebuah artikel yang dimuat media mainstream dan menunjukkan kekeliruannya atau bias-biasnya dalam blog kita. Atau bisa juga memotret dengan kamera digital peristiwa-peristiwa penting yang kita temui dan mengirimkannya secara online ke situs-situ yang menyediakan ruang penyimpanan foto, seperti Picasa, Flickr dan lain-lain. Atau kita membuat video peristiwa khusus dan mengirimkannya ke sebuah web penyedia ruang penyimpananan film seperti You Tube, Google Video dan lain-lain.


Klasifikasi Jurnalisme Warga

Dalam artikel Review Jurnalisme Online tahun 2003, J. D. Lasica mengklasifikasi media jurnalisme warga ke dalam beberapa tipe:(1) partisipsi pemirsa, seperti komentar dalam berita online, blog pribadi, foto atau video;(2) berita dan informasi situs-situs independen,(3) situs berita dengan partisipasi penuh, seperti OhmyNews;(4) kolaborasi situs-situs media, seperti Slashdot, Kuroshin; dan(5) “thin media”, seperti milis dan newsletter;

Intinya jurnalisme warga atau publik atau jurnalisme partisipatif adalah partisipasi aktif warga negara dalam mengoleksi, melaporkan, menganalisis dan menyebarluaskan berita dan informasi. Jurnalisme warga adalah bentuk khusus dari media warga yang informasinya berasal dari warga itu sendiri.

Salah satu konsep pokok yang mendasari jurnalisme warga adalah bahwa reporter-reporter dan produser media mainstream bukanlah pusat pengetahuan tentang subjek tertentu yang bersifat ekslusif. Karenanya, sekarang banyak saluran media besar berusaha memanfaatkan pengetahuan pemirsanya melalui penyediaan kolom komentar di akhir tulisan yang dimuat online, atau membuat data base kontributor jurnalis warga sebagai sumber penyampai informasi.

Sifat partisipatif dari jurnalisme warga inilah yang menyebabkan pembentukan opini public tidak lagi didominasi oleh media mainstream. Para pemegang kebijakan public pun tidak bisa menganggap remeh kegiatan jurnalisme warga ini. Contoh yang paling kongkret adalah diluncurkannya film Fitna di youtube oleh salah satu parlemen Balanda. Terlepas dari pro dan kontra mengenai isi dari film itu, namun yang jelas munculnya film itu di media non-mainstream (you tube) sempat membuat gempar dunia dan memaksa para pengambil kebijakan untuk berbuat sesuatu atas beredarnya film tersebut

Nah, masih banyak contoh praktik jurnalisme warga yang mampu memaksa para pengambil kebijakan untuk merubah prilaku bahkan hingga melakukan perubahan kebijakan politiknya. Untuk itu sangat sayang sekali bila kita hanya akan menjadi penonton dari gencarnya perubahan sosial di Masyarakat. Kita harus mengambil peran aktif untuk ikut pula mengarahkan perubahan sosial kearah yang lebih baik dan adil melalui jurnalisme warga. _________________________________



Sumber: · Sadikin Gani, Apa itu Jurnalisme Warga?· Mark Glaser, "Your Guide to Citizen Journalism", khusus bagian "What is Citizen Journalism", PBS (www.pbs.org) dan "Citizen Journalism", Wikipedia (www.wikipedia.org)/

Komentar terkini (1 komentar):

pada 08/01/2010 09:33:50
avatar
http://jurnalismewarga.com/beritafoto/168_%5Bco-pas%5D+sambung+rasa+kopdar+jakarta.html gabung yuk
Jika anda akan memberikan komentar dan memberikan rating pada artikel ini, silahkan login atau klik disini untuk pendaftaran baru
  • email Kirim kepada teman
  • print Cetak berita ini