Jogja Rindu Onthelis

JOGJA kini benar-benar telah berubah. Saban hari ruas-ruas jalan perkotaan kian sesak oleh serbuan kendaraan bermotor. Berdasarkan data Kepolisian Daerah DIY, hingga tahun 2005 jumlah kendaraan bermotor di Jogja sejumlah 275.590 unit atau 28,23 persen dari total jumlah kendaraan bermotor. Sebuah angka yang fantastis tentunya mengingat luas provinsi ini hanya 3.185,80 km2 (Kompas, 29/11).
Pertumbuhan kendaraan bermotor di kota budaya ini memang melesat sangat cepat. Pada tahun 2001 mencapai 9,95 persen, tahun 2002 meningkat 10,70 persen, tahun 2003 bertambah 11,69 persen, dan tahun 2004 menjadi 13,22 persen. Tahun-tahun berikutnya agak menurun, 11,65 persen (2005), 8,85 persen (2006), 7,73 persen (2007). Namun tahun 2008 diprediksi semakin membaik dengan tingkat pertumbuhan pasar sekitar 15 persen (Kompas, 1/12).
Membengkaknya jumlah kendaraan bermotor tersebut jelas-jelas berpotensi menimbulkan kemacetan. Pada waktu-waktu tertentu atau jam sibuk, bisa kita amati hampir semua ruas jalan dipadati kendaraan bermotor yang mengular dan berjalan patah-patah.
Dus, terasa sekali udara yang tercemar ditingkahi raung kendaraan bermotor yang menderu. Faktor ini sedikitnya dipicu oleh knalpot model terompet pada kendaraan roda dua jenis baru. Dampaknya langsung terasa. Bila menguntit di belakangnya, asap knalpot mengenai dada, bahkan bisa menimpuki muka kita. Pabrikan motor sepertinya hanya berpatokan pada desain kontemporer tanpa menghiraukan kenyamanan pengguna jalan sekaligus keamanan kesehatan.
Budaya Sepeda Onthel
Keberadaan kendaraan bermotor barangkali telah menjadi tuntutan zaman. Di era modern ini manusia berkejaran dengan waktu dalam memenuhi kebutuhannya. Time is money. Waktu adalah uang. Karena itu, melewatkan waktu dengan kesia-siaan adalah kerugian yang tak termaafkan.
Modernisme telah menggiring manusia menjadi makhluk individualistis yang menghamba pada ego. Maka tak heran bila demi pemenuhan kebutuhan ego manusia rela mengangkangi kearifan sosial, menanggalkan moralitas dan segenap batasan-batasannya, merayakan afirmasi hidup dengan instink, impulsif dan spontanitas, hasrat dan kesenangan.
Modernisme yang digelombangkan pada akhir abad ke-19, pertama kali dalam sejarah, manusia sanggup melakukan perjalanan yang lebih cepat tinimbang berjalan kaki atau menunggangi binatang (Budiman: Modernisme dan Kritik Rasionalitas, 1997). Pengertian perihal individu kemudian mencuat ke depan. Individu dianggap unik dengan aspirasi tunggal, bisa pergi melintasi segala hal, dan tidak akan dikungkung lagi oleh alam. Inilah apa yang oleh C. Wright Mills dalam The Sociological Imagination (1977) disebut kebebasan tanpa nalar (freedom without reason).
Apabila meneroka fenomena kendaraan bermotor saat ini ungkapan Mills tersebut menemukan relevansinya. Di satu sisi hal itu memang menjadi indikator perekonomian yang semakin pulih berbanding lurus dengan meningkatnya daya beli masyarakat. Namun di sisi lain, efek domino tak terhindarkan seperti polusi udara dan kemacetan lantas menyeruak ke permukaan. Maka dari itu, diperlukan strategi alternatif untuk memecah konsentrasi pemakaian kendaraan bermotor, yakni membudayakan kembali sepeda onthel.
Alat transportasi yang ditemukan Baron Van Draise de Sauerbrun (1817) ini patut diberdayakan. Masyarakat perlu disadarkan bahwa sepeda onthel bukan sekadar alat transportasi biasa, bukan pula sebagai representasi kaum miskin-kota. Alih-alih demikian justru sepeda onthel mencitrakan sebuah kearifan sosial. Selain bebas polusi, sepeda onthel juga murah, sehingga bisa menjadi alternatif di tengah isu krisis energi dewasa ini.
Pada tahun 1970-an hingga 1980-an sepeda onthel semarak menghiasi Kota Jogja. Kala itu Kota Jogja bahkan dijuluki surganya pengendara sepeda onthel. Itu dulu. Kini sepeda onthel kerap terzalimi di jalan raya. Area lajur paling kiri tak lebih dari 1,5 meter pun yang diperuntukkan bagi pengendara sepeda onthel habis diserobot kendaraan bermotor.
Mengembalikan Jogja ke tempo doeloe memang tak semudah membalik telapak tangan—untuk tidak mengatakan mustahil. Apalagi pabrikan kendaraan bermotor terus berinovasi serta kerap memberondong masyarakat dengan tawaran yang menggiurkan. Betapa tidak, dengan panjer uang ratusan ribu saja sudah bisa membawa pulang sepeda motor baru. Berikutnya mencicil sesuai dengan pilihan kemampuan ekonomi hingga jangka waktu tertentu.
Fenomena tersebut harus ditangkap sebagai sebuah tantangan. Jika para figur publik di Jogja, terutama Sri Sultan Hamengkubuwono X, mau turun tangan dengan memberi teladan, tentu ada saja upaya yang layak direalisasikan. Masyarakat Jogja masih terikat kuat dengan emosi feodalistik "rajanya", sehingga lelaku "sang raja" hampir dipastikan akan dianut.
"Kampanye" sepeda onthel sebenarnya sudah mulai dilakukan dengan munculnya beragam klub onthelis. Podjok, Jogja Onthel Community, Generasi Onthel Club, dan Biru Onthel Mania adalah beberapa di antara klub onthelis di Jogja. Mereka pada pertengahan November lalu mengadakan reuni di Taman Budaya Yogyakarta.
Keberadaan beragam klub onthelis merupakan aset budaya yang sangat berharga. Mereka harus diberdayakan untuk memantik gairah masyarakat. Pemerintah daerah sudah sepantasnya menyediakan sarana bagi sepeda onthel yang semakin sempit. Dengan begitu, pengguna sepeda onthel memiliki daya tawar (bargaining power) yang sederajat dengan pengguna alat transportasi lainnya.
Car Free Day
Pemerintah daerah Jogja perlu bercermin pada kinerja Gubernur DKI Fauzi Bowo. Meski kemacetan masih menjadi momok mengerikan, namun di Jakarta kini terdapat kawasan Kota Tua di seputar Taman Fatahillah. Di kawasan itu bangunan tua peninggalan Belanda antara awal abad ke-17 dan akhir abad ke-18 masih berdiri kokoh.
Untuk memelihara nuansa tempo doeloe, Fauzi Bowo mengeluarkan kebijakan "sehari bebas dari kendaraan bermotor" (car free day) yang dipancangkan pada Minggu (25/11) lalu. Sedianya kebijakan car free day ini akan menjadi agenda tetap setiap bulan (Kompas, 24/11). Maka, dalam sehari itu udara bebas polusi dan denyar-denyar bising deru knalpot motor takkan terdengar.
Hal serupa juga bisa digandakan di Jogja. Dalam konteks ini kawasan Malioboro dapat dimanfaatkan. Sebagai jantung Kota Jogja, Malioboro telah sesak oleh kendaraan bermotor. Maka membebaskan Malioboro sehari saja dari carut-marut mesin yang menderu-deru itu merupakan rindu yang mendesak dilampiaskan.
Memberlakukan car free day di kawasan Malioboro dapat juga difungsikan sebagai medan magnet pariwisata untuk menyedot animo wisatawan, baik asing maupun domestik. Malioboro tentu akan tampil dengan wajah segar, tidak lusuh sebagaimana kesan selama ini. Ibarat sekali merengkuh dayung dua-tiga pulau terlampaui, di samping merayakan kemerdekaan para onthelis, cita-cita membentuk kawasan pedesterian yang dulu pernah bergema secara bertahap bisa turut terealisasikan.
Amboi, betapa indahnya! [*]
*) Saiful Amin Ghofur, Onthelis, tinggal di Krapyak Jogjakarta.
Pekerja sosial yang kini menetap di pinggiran Jakarta
Total Posting: 563 | Rating: 138



del.icio.us
Digg

Komentar terkini (0 komentar):
Jika anda akan memberikan komentar dan memberikan rating pada artikel ini, silahkan login atau klik disini untuk pendaftaran baru