Home | Internasional | Salman Rushdie Hendak Bikin Ulah Lagi

Salman Rushdie Hendak Bikin Ulah Lagi

image

 

Atlanta, (KW) -- Salman Rusdhie, sosok yang menggunakan nama Islami tapi mencari popularitas dengan cara menghina Islam. Pria kelahiran India 19 Juni 1947 ini namanya melejit setelah menulis novel yang menghina Islam berjudul Satanic Verses (Ayat-ayat Setan). Kini dia hendak bikin ulah lagi.

Dalam waktu dekat, dia akan menulis buku yang menceritakan kehidupannya setelah Ayatullah Khameini menjatuhkan fatwa mati. Begitu novel yang melecehkan Islam itu terbit tahun 1988, Khameini memang langsung menjatuhkan fatwa mati untuk Salman Rushdie. "Ini cerita tentang saya, dan saya harus memberitahukannya," kata dia saat berkunjung ke Universitas Emory, Atlanta, seperti dikutip guardian.co.uk.

Selama ini, kata dia, catatan soal kehidupannya setelah menerima fatwa mati tersimpan di kotak dan komputer rusak. Dia pun menyatakan sangat sulit untuk mengumpulkannya kembali. Tapi, menurut dia, sekarang semua data yang telah dikumpulkannya itu telah terorganisir dan tinggal menuangkannya dalam tulisan.

Saat ini adalah tahun ke 21 bagi Salman Rushdi dalam menjalani kehidupan setelah mendapatkan fatwa mati. Khameini juga punya alasan yang sangat kuat untuk mengeluarkan fatwa tersebut. Novel Ayat-ayat Setan berisi penjelasan yang sangat menghina Islam. Di situ antara lain disebutkan bahwa Nabi Muhammad menderita gangguan jiwa.

Setelah mendapat fatwa mati, dia malah mendapat perlindungan dari pemerintah Inggris. Dengan sikap itu, tahun 1988 Iran pun memutuskan hubungan diplomatik dengan Inggris. Tak hanya itu, banyak lembaga dukungan Barat pun memberikannya penghargaan setelah berhasil menghina Islam.

Tidak Perlu Ditanggapi

Semantara itu Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menilai, pemberian penghargaan ksatria Salman Rusdhie oleh Ratu Inggris Elizabeth II merupakan ‘serangan’ pada Islam telah dilakukan secara terencana.

"Kita tersinggung dengan cara itu, tapi umat Islam sebaiknya meyakini bahwa hal itu (penghargaan) merupakan serangan 'by design' (terencana)," ujar Hasyim seperti lansir NU Online, Kamis (21/6).

Ia mengemukakan hal itu menanggapi pemberian penghargaan "ksatria" dari Ratu Inggris Elizabeth II kepada Salman Rushdie atas jasanya dalam dunia sastra, khususnya buku "The Satanic Verses" (Ayat-ayat Setan) yang dinilai menghina Islam.

Pengasuh Pesantren Al-Hikam Malang, Jawa Timur, itu, serangan kepada Islam tersebut dapat dikatakan "by design" karena dilakukan terus-menerus secara beruntun.

"Saya tidak bisa menunjukkan siapa di balik itu, tapi hal itu tampaknya merupakan konspirasi yang sengaja ingin menampilkan citra Islam yang buruk," ungkapnya.

Menurutnya, serangan terencana itu dapat dilihat dari pelecehan terhadap Islam, Nabi Muhammad SAW, Al-Quran, masjid/mushala, dan sasaran lain yang memang menggugah emosi mulai dari Indonesia hingga ke luar negeri.

Namun, kata mantan Ketua Pengurus Wilayah NU Jatim itu, umat Islam tidak perlu menanggapinya dengan emosional karena mereka akan justru bersorak dan masalahnya tidak akan selesai.

"Kalau kita protes, saya kira sebaiknya disampaikan kepada Menlu sebagai ungkapan ketersinggungan, agar semua agama di dunia saling hormat, tapi lebih dari itu kita harus melawan serangan dalam bentuk opini itu dengan opini pula, bukan dengan kekerasan," tegasnya.

Umat Islam, katanya, harus menampilkan citra tentang Islam yang ramah, demokratis, damai, dan tidak sejelek yang mereka gambarkan secara terencana tersebut.

Komentar terkini (0 komentar):

Jika anda akan memberikan komentar dan memberikan rating pada artikel ini, silahkan login atau klik disini untuk pendaftaran baru
  • email Kirim kepada teman
  • print Cetak berita ini