Home | Internasional | Perempuan dan Perang

Perempuan dan Perang

image

Keras, itu yang terekam dalam otak saya melihat kehidupan di Afghanistan. Budaya Afghanistan yang cenderung sangat konservatif dan Patriarkis membuat  terror terhadap perempuan yang memiliki eksistensi publik  berupa ancaman, penculikan, dan pembunuhan cukup sering terjadi di Afghanstan.

Pada  tanggal  3 juni 2007, seorang  pembawa berita perempuan dari stasiun TV berbahsa Pashtu, Shamsad , Shokiba Sanga Amaaj ditembak mati oleh kakak kandungnya sendiri dirumahnya di Kabul. Shokiba dibunuh karena dianggap mempermalukan kehormatan keluaga dengan tampil dimuka publik sebagai pembawa berita.

3 hari kemudian, pada tanggal 7 Juni 2007, Zakia Zaki, Pemilik Stasiun radio ‘Peace’ di kota Jabal Saraj Provinsi Parwan ditembak mati saat sedang menuju ke kantornya. Selain Pemilik stasiun radio, Zaki juga menjabat sebagai kepala sekolah yang hadir dalam pertemuan Nasional untuk menyusun konstitusi Afghanistan. Beberapa spekulasi mengatakan bahwa Zaki dibunuh karena kritik kerasnya terhadap perilaku ‘warlord’ setempat.

Sitara Asakzai, Anggota Legislatif di Propinsi Kandahar tertembak mati oleh dua laki-laki tidak dikenal pada hari Minggu tanggal 12 April 2009 di bagian selatan Kandahar yang merupakan daerah tempat lahirnya gerakan  Taliban.

Pembunuhan Sitara Asakzai dilaporkan melalui stasiun kepolisian keempat di daerah Deh Khwaja sekitar pukul 14.30 waktu setempat. Wakil kepala kepolisian Letnan Kolonel Abdullah, menjelaskan kronologi kejadian tersebut bahwa, dua orang tidak dikenal bersenjata api dengan menggunakan kendaraan bermotor menembak mati Asakzai pada waktu Asakzai baru saja pulang dari kantor. Kejadian penembakan tersebut terjadi di depan rumah korban.

Sitara Asakzai adalah seorang anggota lagislatif di Kandahar, dia juga aktif dalam penegakan hak-hak kaum perempuan dan anak-anak di wilayah tersebut. Telah tinggal di Jerman sejak perang invasi Uni Soviet ke Afghanistan dan kembali ke Afghanistan pada tahun 2004 untuk mengabdi kepada masyarakat.

 Editor in Chief Pajhwok Afghan News , Farida Nekzad juga beberapa kali mendapatkan ancaman penculikan.  Selain teror terhadap jurnalis perempuan, Guru Perempuan dan pelajar Perempuan. Juga menjadi korban. Berulangkali Pembunuhan terhadap guru perempuan, yang umumnya dilakukan oleh Taliban terjadi di provinsi-provinsi wilayah Selatan Afghanistan, seperti Kandahar, Helmand dan Nangarhar.

Kasus terakhir adalah penyiraman air keras kepada 11 pelajar perempuan oleh kelompok Taliban di Kandahar. Pad abulan Desember 2008. Selain terror dalam bentuk ancaman  serangan frontal, Undang-Undnag yang berindikasi pada pelanggaran hak-hak perempuan juga sempat dikeluarkan pada bulan ini. Disahkanya Undang-Undang tersebut memicu reaksi keras, baik dari dalam dan luar negeri, sehingga memaksa Presiden Karzai untuk mengajukan Judicial Review  atas UU tersebut. Dalam kasus ini, terkait dengan eksistensi Perempuan di Publik, ratusan perempuan yang turun kejalan untuk memprotes UU tersebut

Siapa saja yang merating artikel ini:

Heri Heri:
Menarik
Frans Frans:
Inspiratif
admin admin:
Inspiratif
fery fery:
Aktual

Komentar terkini (1 komentar):

admin KW pada 16/01/2010 19:12:38
avatar
tulisan yang menarik..jempol 2 deh untuk penulisnya ... :D
Jika anda akan memberikan komentar dan memberikan rating pada artikel ini, silahkan login atau klik disini untuk pendaftaran baru
  • email Kirim kepada teman
  • print Cetak berita ini