Bandara yang Tak Ramah

Meski Pulau Bali merupakan tempat yang asyik untuk jalan-jalan, namun Bandara Ngurah Rai termasuk bandar udara paling tak ramah menurut pengalaman saya. Jangankan untuk standar internasional, untuk lokalan pun, bagi saya tetap jauh dari kesan ramah. Bahkan, bila merasakan suasana yang ada, saya cenderung menyetarakannya dengan terminal Pulogadung di Jakarta.
Jujur, saya kaget ketika masuk terminal kedatangan kesulitan mendapatkan troli. Datang berombongan dengan bawaan belasan tas dan sejumlah alat musik, mestinya troli menjadi alat pengangkut paling praktis. Tapi yang saya saksikan hanya beberapa troli yang sudah ditongkrongi para porter, penjual jasa angkut dengan bertarif Rp 5.000 per bagasi, tanpa menghiraukan volume atau berat barang.
Saya coba melongok ke luar ruang pengambilan bagasi, tak satu pun troli terlihat. Apa boleh buat (tahi kambing bulat-bulat), masing-masing anggota rombongan mesti sepakat, mengangkat sendiri barang bawaan, tak peduli ringan atau berat. Mungkin, begitulah cara pengelola bandara berbagi rejeki: kalau mau pakai troli, ya mesti bayar tuan-tuan kuli.
Tapi, ada yang menarik di sini. Kalau mau positive thinking, justru di Bandara Ngurah Rai, kita dididik agar menjadi manusia mandiri! Bisa jadi, itulah kelebihan bandara yang satu ini dibanding bandara mana pun yang pernah saya datangi: Solo, Yogya, Semarang, Batam, Medan, Jakarta, Surabaya dan Palangkaraya.
Terkait pernyataan saya bahwa Bandara Ngurah Rai mirip Terminal Pulogadung, semata-mata karena melihat praktek percaloan yang masih terjadi. Saya yakin, itu semua terjadi karena banyaknya maskapai penerbangan murah yang beroperasi di Ngurah Rai. Mungkin juga karena beberapa oknum maskapai masih longgar dalam bermain-main dengan seorang calo.
Buktinya, saat melakukan reconfirm jadwal keberangkatan di depan sebuah loket maskapai nasional, saya menjumpai dua orang calo sedang membujuk sambil ‘menakut-nakuti’ seseorang yang membatalkan keberangkatan, entah untuk rute mana. Yang jelas, saya melihat sendiri kesepakatan angka dan penyerahan uang sebesar Rp 400 ribu dari salah seorang calo.
Kata si calo, si pemilik tiket tak bakal bisa menguangkan kembali (refund) di loket resmi lantaran sekarang situasinya sedang high season alias permintaan yang padat. Yang menggelitik saya adalah pola menakut-nakuti si calo sehingga ia bisa membayar setengah dari harga (dan kelas) tiket yang sebesar Rp 800 ribuan. Andai aturan memang tak memungkinkan refund, berarti si calo bakal rugi. Tapi, di mana ada sejarah calo mau merugi? Saya menduga, sudah ada kerja sama antara si calo dengan orang dalam sebuah maskapai.
Kembali ke soal troli. Saat menjejakkan kaki di luar terminal keberangkatan, tak terlihat troli di dekat kami. Yang ada hanyalah deretan porter duduk di atas troli yang bentuknya berbeda dengan troli yang lazim kita jumpai di bandara-bandara lain di Indonesia. Rupanya, troli untuk terdapat jauh dari tempat drop in calon penumpang. Di pintu masuk terminal keberangkatan hingga di ruang check in sekalipun, tak kami troli-troli yang bisa meringankan beban kami, para penumpang.
Ngurah Rai, memang bandar udara yang aneh dan tak ramah bagi para tetamunya. Mungkin, itulah salah satu kekurangan Bali sebagai surga bagi pelancong. Tentu, di luar angkutan umum massal yang tak banyak. Hanya orang-orang mandiri dan berduitlah yang nyaman berlibur di Bali, karena hanya merekalah yang sanggup menyewa mobil, sepeda motor atau membayar ongkos taksi.
Tulisan ini sudah dipublikasikan di sini dan telah mendapatkan izin untuk dipublikasikan di JW
(www.blontakPoer.com)
Pekerja sosial yang kini menetap di pinggiran Jakarta
Total Posting: 563 | Rating: 138



del.icio.us
Digg

Komentar terkini (3 komentar):
Jika anda akan memberikan komentar dan memberikan rating pada artikel ini, silahkan login atau klik disini untuk pendaftaran baru