TIAP KTP punya baris “pekerjaan”yang mesti diisi. Seorang Dirjen akan dengan mantap mengisinya karena yakinbetul tiap orang mafhum belaka makhluk apakah dirjen itu. Seorang makelar punsekarang ini tidak usah kikuk mencantumkan profesinya, karena dunia makelar punsudah sah jadi penunjang pembangunan seperti halnya juga komisioner.

Sekarang,apa yang harus diisi seorang penganggur yang banyak sekali jumlahnya di negeriini? Demi harga diri dan demi supaya tak dicurigai, mustahil seorang penganggurmengisi apa adanya dalam KTP. Karena jenis pekerjaan mesti jelas tercantum,maka apa yang mesti ditulis oleh penganggur yang tidak punya pekerjaan?        

Biasanya mereka isi dengan perkataan“swasta” atau “wiraswasta”. Saya berani bertaruh, tidak ada penganggur yangberterus terang menulis apa adanya. Selain demi harga diri dan demi jangan dicurigai,juga mereka menghindar dari mengaku penganggur itu karena merasa kurang enakkepada pihak pemerintah, takut dianggap menyindir. Mengapa menyindir? Karena bunyipasal 27 UUD berbunyi “ Tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupanyang layak bagi kemanusiaan”. Jika seorang penganggur mengaku terus terangkeadaannya, apa itu bukannya bisa dianggap menyindir, seakan-akan pemerintahsudah tidak mampu menyediakan pekerjaan yang layak?

         Hal serupa juga dialami olehpengemis. Jika pemerintah berpegang teguh secara murni dan konsekwen pada bunyipasal 34 UUD yang berbunyi “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipeliharaoleh negara” maka tidak mungkin bergelombang-gelombang pengemis masuk kota. Anehnya,ada kotamadya yang mengancam akan merazia dan menangkap pengemis. Apakah memangpantas dipersoalkan kenapa sampai melalaikan pasal 34 UUD itu hingga berdasarPancasila ini bila orang diperbolehkan sekaya-kayanya, tapi para fakir miskinmalahan diuber-uber?

          PEKERJAAN Dirjen orang tahu. Begitu jugamakelar atau komisioner. Bahkan profesi dukun pun orang paham. Tapi profesi “kolumnis”masih asing dan belum banyak yang maklum. Jika saya mencantumkan perkataan “kolumnis”sebagai jenis pekerjaan, banyak orang bertanya-tanya binatang apa sih kolumnisitu? Kolumnis itu bagian pekerjaan malam apa siang? Bahkan ada yang bertanya,apa beda antara kolumnis dengan komunis? Tentu beda. Komunis itu sudah musnahsedangkan kolumnis itu masih ada, setidaknya sampai hari ini. Perkara besokakan lenyap juga, nantilah kita lihat saja.

           Apa yang ditulis kolumnis itu memangfakta? Bisa fakta dan bisa juga bukan fakta. Sebab, jika semua semua faktamesti ditulis secara terbuka dan apa adanya, dalam tempo tiga hari dunia iniakan terbolak-balik. Bahwa koran mesti menyiarkan yang faktual, itu benar. Tapitidak semua fakta layak disiarkan. Sebab, apa jadinya jika semua faktadisiarkan oleh koran? Apa jadinya jika korupsi mulai teri hingga kakapdibeberkan apa adanya?

       Saya punya contoh, bagaimana seorangkolumnis menulis bukan atas dasar fakta, melainkan imajinasinya yang diharapkanbisa ditarik manfaatnya oleh pembaca. Misalnya kolumnis Ajip Rosidi yang sudahbertahun-tahun bermukim di Jepang. Dalam Kompas terbitan 6 Juni 1986, ia menurunkantulisan berjudul Sendok, garpu dan lain-lain.Tulisan itu menyebut ikhwal makanan, cara makannya, apa pakai sendok apa pakaisumpit, apakah itu makanan Jepang atau Barat.

           Sebagai seorang yang kenal baik AjipRosidi, saya tahu persis ia sama sekali bukan gastronom, bukan pakar makan-memakan,bahkan mirip pun tidak. Ia bukan tukang makan, melainkan tukang telan apa sajayang lewat di depan hidung. Bagaimana mungkin seorang awam makanan seperti Ajipberani menulis artikel ihwal makanan, kalau bukan semata-mata atas doronganimajinasinya? Bagaimana mungkin seorang yang tak bisa membedakan mana kroketdan mana combro mampu menulis soal makanan? Ini sama saja anehnya dengan orangasal Indihiang yang berdiam di kaki Gunung Galunggung bicara soal taman lautdan rahasia samudera.

            Saya punya kisah pribadi yangmendukung pendapat saya. Pada tahun 1982 saya mampir di Kyoto naik kereta api,Ajip Rosidi persis menunggu di pintu gerbong. Sesudah bersalam-salamansebagaimana layaknya, sesudah tanya ihwal masing-masing dan bertanya ihwal TanahAir yang saat itu menjelang saat pemilu, Ajip pun berbaik hati menawarkan apa sayamau makan siang, dan makanan apa yang saya sukai.

            Saya bilang, memang saya belummakan, dan makan apa pun jadilah. Sukiyakiboleh, steak Kobe pun jadi, pokoknyaasal cepat. Maka Ajip pun mengajak berjalan kaki masuk keluar lorong, adabarangkali satu jam sehingga bukan saja perut makin lapar, tapi kaki pun sudahkaku. Di dalam hati saya berpikir, kok kota semacam Kyoto yang cukup besar itu,susah betul cari restoran?

         Sesudah kaki tidak kuat lagimelangkah, tahulah saya bahwa Ajip sebetulnya tidak tahu persis, di mana letakrestoran yang menjual makanan yang saya sebut itu, bahkan Ajip malahan tidakbisa baca huruf Kanji, tentu saja ia tidak bisa membedakan mana restoran manatoko potret.

           Sesudah tidak sanggup lagimeneruskan perjalanan, saya pun pasrah dan mengusulkan supaya makan makanan apasaja yang tampak oleh mata. Maka, kami pun menghampiri depot penjual hamburger, makanan yang bisa ditemuisiapa saja dengan mudah, baik oleh nenek-nenek maupun orang buta.

(Asal Usul; Kompas, 17 Juli 1988)

YOUR REACTION?

Facebook Conversations