CORAZON Aquino memang tuan tanahbesar. Tanahnya yang ditanam tebu melimpah di Provinsi Tarlac. Tapi dia maklum,penduduk yang tak memiliki tanah merupakan bom waktu yang tiap saat bisameletus dan menumbangkan negeri. Corry tahu persis, kekayaan yang terlalu besarmenumpuk pada diri di tengah kemiskinan bukanlah kesenangan, melainkan bebanberat yang mendatangkan kikuk dan waswas.

Saya pernah bertamu ke rumah senatorSalpada Padatun. Rumahnya kemilau berlantai marmer, dijaga oleh belasan pasukanswasta bersenjata lengkap beserta beberapa anjing herder. Seorang kawanredaktur senior majalah The PhillipinesFree Press berkata bahwa tak kurang dari 315 tukang pukul bersenjata yangsetiap saat bisa disewa. Tak kurang dari 80 politikus, 6 di antaranya parasenator dan 37 anggota parlemen memelihara tentara swasta ini.

Di Filipina cuma dua persenpenduduknya dipegang oleh tuan-tuan tanah dan 89 persennya dalam keadaan papadan miskin tak punya kuasa apa-apa. Kekuasaan ekonomi dan politik dipegang olehtak lebih dari keluarga tuan tanah. Menurut pengamatan ekonom Gunnar Myrdalyang terbaca dalam An Inquiry into thePoverty of Nations, demokrasi yang sehat tidak jalan di Filipina. Kelicikandan tipu muslihat merupakan permainan politik yang diterima umum sebagaikeadaan normal.

Di negeri ini tahun 1981 dan tahun1988 terjadi di Jenggawah, Jember dan Badega kegemparan yang menyangkut ratusanribu petani miskin. Mereka yang tadinya susah menjadi tergencet oleh ulah merekayang ingin merebut tanahnya. Bulan Mei 1995 soal tanah itu muncul kembali lewathubungan PT Perkebunan PTP XXVII. Petani-petani itu merasa terancam akandigusur dari tanah yang dicintainya.

Teringatlah karya Dostoevsky Si Dungu di mana tokohnya Myskin pernahberkata, “barangsiapa tidak memiliki tanah sendiri berarti dia pun tidakmemiliki Tuhan”.

Kemudian berkata pula tokoh Zossminakepada Aloysha agar membiasakan meletakkan dahi menyentuh tanah. “Ciumlah iasehabis-habis cium, cintailah tanah itu sehabis-habis cinta karena tanah ituadalah segala-galanya”. Sedangkan tokoh Maria Lebyandhina berkata dengan bibirgemetar bahwa buat orang Rusia tanah itu adalah bagaikan “ibunda yangdipersembahkan kepada kita dari Tuhan Yang Maha Kuasa, yang mesti dipeluksambil sembahyang menghadapNya”.

Dostevsky pastilah tak pernah keJember, bahkan letak Jenggawah itu pun tak tahu. Tapi sebagai pembela rakyatkecil tak punya tanah yang berulangkali diamankan oleh penguasa dan dibuang keSiberia oleh Tsar Nicolas II, ia tahu pasti betapa lemahnya kaum tani tak bertanahitu dan betapa empuknya mereka jadi bahan perasaan kaum yang kuat dan berpunya.Dostoevsky tahu pula bahwa di samping lemahnya kaum tani tak bertanah itu, iapun maklum pula betapa kuatnya semangat dan tekad mereka untuk melakukanperubahan dan perbaikan nasib, sekuat mata bajak membongkar tanah.

ORANG-orang yang tinggal di DesaCipangramatan, Tanjung Jaya, Bojong, Jaya Bakti, Cikajang dan Banjarwangisebelah selatan Garut mengeluarkan pernyataan keprihatinan bukan dengankalimat-kalimat Dostoevsky, melainkan dengan bait-bait sajak Rendra daricuplikan sajak-sajak orang miskinnya.

            “Jangan kamu bilang negara ini kaya,karena orang-orang miskin berkembang di kota dan di desa.”

(Asal Usul; Kompas, 18 Juni 1995)

YOUR REACTION?

Facebook Conversations