Menapak Jejak Mengenal Watak K.H. Arief Hasan

Hari itu, 20 Rabiul Awal 1409 H/31 Oktober 1988 M, mendung tebal bergulung-gulung menyelimuti kota Mojokerto, khususnya desa Beratkulon kecamatan Kemlagi. Seorang kiai kharismatik, sederhana dan begitu dekat dengan rakyat telah menutup lembaran hidupnya pada usia 71 tahun. Beliau adalah Romo K.H. Arief Hasan. Kontan saja, kepergiannya menghadap ke Hadlirat Ilahi mencairkan mendung duka menjadi gerimis air mata yang terus menderas. Rasa kehilangan tak bisa disembunyikan oleh keluarganya, para santrinya juga masyarakat luas yang masih dahaga akan fatwa-fatwanya yang menyejukkan. Lantunan kalimat tauhid menggema mengiringi perjalanan beliau menuju kedamaian abadi di sisi Allah SWT.
Kiai Arief lahir 86 tahun silam, tepatnya pada hari Senin, 20 Rabiul Awal 1337 H/1917 M di Beratkulon, Kemlagi, Mojokerto dari hasil pernikahan Kiai Hasan dan Mbah Nyai Sholihah. Kiai Arief (kecil) tumbuh di lingkungan yang sangat agamis. Di samping itu, sejak kecil sudah ada tanda-tanda—semacam irhas yang berlaku pada seseorang yang nantinya akan diangkat menjadi seorang rasul—bahwa kelak beliau akan menjadi ulama’ besar. Dikisahkan, pada suatu ketika saat Kiai Arief (kecil) bermain-main di tepi sungai yang mengalir melewati belakang rumahnya (sekarang sungai yang memisahkan nDalem dengan pesantren putri), mendadak seekor ular (kira-kira sebesar paha orang dewasa) muncul dari dalam sungai dan seketika itu juga melilit tubuhnya. Kiai Arief (kecil) memang meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari lilitan, tapi apa daya kekuatan seorang anak seusianya dibanding lilitan ular yang terus mengeras. Akan tetapi bersamaan dengan kejadian itu seekor kucing melintas tidak jauh dari tempatnya. Syahdan, kucing tersebut lantas melompat dan mencakari lilitan ular. Terjadilah perkelahian langka yang kurang masuk diakal: seekor kucing melawan ular besar. Kucing itu akhirnya berhasil membunuh ular meski sekujur tubuhnya terluka. Kejadian inilah yang melatarbelakangi kenapa hingga sekarang banyak sekali kucing yang berkeliaran di nDalem.
Di bawah asuhan langsung ayahnya, Kiai Hasan, beliau menekuni dasar-dasar ilmu agama sebelum dikirim ke tempat kakeknya, Mbah Mahmud, di Pereng, Sepanjang, Sidoarjo guna mendalami ilmu al-Quran. Dikabarkan, dalam diri Kiai Arief mengalir darah keturunan Cina yang dinisbatkan pada nenek (isteri Mbah Mahmud, yaitu Mbah Artinyu) yang memang berasal dari negeri Cina, negeri mana sempat disinggung dalam sebuah hadits Nabi:” Uthlub al-Ilma walau bi al-Shin”.
Beberapa waktu kemudian, sekitar tahun 1933, ketika usianya menjelang 16 tahun, Kiai Arief (muda) dititipkan pada Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari, Tebuireng, seorang kiai senior santri Mbah Kholil Bangkalan yang di kemudian hari dikenal sebagai the founding father (pendiri—red) organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, bahkan di dunia, yaitu Nahdlatul Ulama’. Di bawah bimbingan Hadratusy Syaikh, Kiai Arief memperdalam dasar-dasar ilmu keagamaan yang telah diperolehnya baik langsung dari ayah maupun kakeknya, di samping juga menyerap ilmu-ilmu Hadratusy Syaikh sendiri. Tidak sedikit teman-temannya semasa nyantri di Tebuireng yang menjadi ulama’ besar, salah satunya K.H. Ahyat Khalimi yang mendirikan pesantren ‘Sabilul Muttaqin’ di Mojokerto.
Enam tahun kemudian Kiai Arief sudah diizinkan kembali untuk mengamalkan ilmu-ilmu agama yang diperolehnya dengan merintis pesantren yang diberi nama Roudlotun Nasyi’in pada 1 April 1939. Term (istilah—red.) ini diambil dari bahasa Arab yang secara leterlek (lughawi, makna bahasa—red.): Roudloh berarti taman, Nasyi’in yaitu orang-orang yang tengah berkembang (pelajar). Pada saat merintis pesantren ini Kiai Arief baru berusia 22 tahun, usia yang relatif muda dan dipenuhi semangat perubahan. Pada proses awal ini tercatat sebanyak 7 orang santri sebagai al-sabiquna al-awwalun dan tidak berapa lama bertambah menjadi 25 santri dari masyarakat sekitar dan beberapa di antaranya berasal dari luar kota (Gresik, Lamongan, Surabaya, Madura dan Mojokerto sendiri).
Kiai Arief dengan telaten memberikan siraman rohani kepada para santrinya di bangunan pesantren yang waktu itu masih berwujud gubuk bambu (gedek). Hari-harinya diabdikan untuk membentuk pribadi santri yang santun dan sarat nilai-nilai agama Islam. Namun di sekitar paruh tahun 1940-an beliau dan segenap santrinya terpanggil untuk turut andil berjuang merebut kemerdekaan Indonesia. Praktis, kegiatan pesantren ‘terganggu’ sejenak dan saat itu pula rumah beliau dijadikan markas tentara Hizbullah.
Masa ini menyita banyak perhatian Kiai Arief tidak saja bagaimana bergerilya menuju titik aman dari pengawasan penjajah Jepang, tetapi juga mengamankan sejumlah kitab salafi sebagai khazanah intelektual Islam yang perlu diselamatkan dari pembumihangusan. Menurut sebagian keterangan, banyak kitab salafi beliau selain yang tertata rapi di nDalem sekarang telah hanyut saat menyeberangi anak sungai Brantas (yang sekarang membatasi wilayah Beratkulon dan Beratwetan). Hal ini menunjukkan betapa dalam dedikasi (khidmat, pengabdian—red.) beliau terhadap ilmu.
Banyak sekali peristiwa unik sekitar perjuangan beliau, salah satunya adalah senjata tombak (pusaka). Menurut sahibul hikayat, tombak ini banyak memakan korban dari pihak Jepang. Bahkan pesawat tempur Jepang yang melintas di atasnya seperti tersedot magnet dari bawah kemudian meluncur jatuh, salah satunya jatuh di wilayah Mojogebang, Kemlagi. Mengingat demikian besar tuah tombak ini, maka ujungnya diberi sarung yang terbuat dari kuningan.
Setelah ketegangan mereda, beliau dan santrinya ‘kembali lagi’ menekuni aktifitas pesantren. Setiap hari beliau selalu memimpin shalat berjamaah bersama santrinya, juga rutin mendirikan shalat dluha. Rutinitas demikian jarang beliau tinggalkan karena melalui rutinitas tersebut beliau bisa langsung mengetahui kondisi dan memantau perkembangan santrinya. Dengan cara demikian, setiap fenomena (kejadian—red.) yang terjadi di pesantren sehari-hari dapat diketahui secara pasti selain juga makin mempererat ikatan batin dengan para santri. Santri akan merasa sangat dekat dengan kiainya sendiri.
Perhatian yang dalam dari Kiai Arief dirasakan sendiri oleh H. M. Arif Bahri (umumnya dipanggil Kang Urip), salah satu santri Kiai Arief yang berasal dari Madura, sekarang tinggal di Kedungcowek Surabaya dan menjadi pengasuh Yayasan TK-SD Taman Belajar dan Panti Asuhan Yatim Piatu ‘Rodliyatul Jannah’. Suatu ketika Kang Urip disuruh ke Mojokerto untuk keperluan tertentu. Seraya mengayuh sepeda kumbang di jalan-jalan berlobang, Kang Urip melepas songkok yang dikenakannya. Maklum, mungkin karena gerah atau rasa gengsi seorang anak muda seusinya jika ke kota dengan (masih) mengenakan songkok, dengan melepas songkok ia ingin membiarkan rambutnya tergerai dielus-elus lembut oleh angin.
Tapi, sungguh di luar dugaannya sebab Kiai Arief mengerti sepak terjangnya ini. Menurut beberapa orang, Kiai Arief memang seorang kiai yang waskito, diberi kelebihan Allah dengan weruh sak durunge winarak. Sehingga bisa dikatakan Kiai Arief mempunyai kepekaan nalar inderawi yang keenam. Setibanya di nDalem Kang Urip segera dipanggil. “Rip, awakmu nang kuto gak kopyahan?” demikian pertanyaan Kiai Arief. Belum sempat menjawab, tanpa berkata ba-bi-bu Kiai Arief langsung meminyaki rambut Kang Urip dengan air ludah beliau. Demikianlah, Kiai Arief merasa tidak senang melihat santrinya serta merta menanggalkan simbol kehormatan seorang santri, songkok. Bagi Kiai Arief, songkok adalah titik kewibawaan seorang santri, di samping mesti ditunjang dengan kemahiran ilmu-ilmu keislaman yang lain.
Gaung keilmuan Kiai Arief tidak saja menggema di Beratkulon, tetapi juga merambah wilayah Mojokerto. Buktinya pada tahun 1947 beliau dipasrahi tugas sebagai Kepala Peradilan Agama. Jabatan ini tentu saja sedikit banyak memecah fokus pemikiran Kiai Arief terhadap pengembangan pesantren. Hingga tiga tahun beliau mengemban amanat itu akhirnya tahun 1950 dengan dalih demi menjadikan pesantren sebagai skala prioritas (utama—red.) biar lebih berkembang Kiai Arief dengan sangat arif meletakkan jabatannya. Selepas menjabat Kepala Peradilan Agama, Kiai Arief juga tercatat sebagai anggota DPRD II Mojokerto kurang lebih selama sepuluh tahun. Namun dengan alasan yang sama, beliau menanggalkan status keanggotaan dewan pada tahun 1960 dan kembali sepenuhnya ke pesantren. Posisi keanggotaan dewan ini kemudian dialihtugaskan kepada Kiai Mahsun Ali menantunya sendiri, yaitu suami dari Nyai Arifah Arief putra beliau yang tertua.
Kendati demikian, beliau tidak sama sekali menutup diri untuk turut ambil bagian dalam proses penguatan nilai-nilai Islam kepada masyarakat luas. Lepasnya dua jabatan tersebut bisa dipahami bahwa dalam menjalankan syiar keagamaan, Kiai Arief tidak mengandalkan satu jalur. Banyak jalan menuju Roma, barangkali peribahasa ini bisa menggambarkan betapa banyak cara yang ditempuh Kiai Arief dalam proses transformasi (penyampaian—red.) ilmu-ilmu agama yang dikuasainya. Kiai Arief rutin mengadakan pengajian ahadan yang dilakukan seminggu sekali dan tempatnya berkeliling daerah di wilayah Mojokerto.
Pengajian ahadan tentu saja pada urutannya akan sedikit menyita waktu Kiai Arief dalam mengadakan pengajian sendiri di pesantren, setidaknya akan menguras tenaga. Kiai Arief jelas sangat sibuk. Namun anehnya, kesibukan itu sama sekali tidak menurunkan semangat Kiai Arief untuk terus istiqamah mengaji bagi santrinya. Konon, karena tekad Kiai Arief inilah para santri tempo itu demikian memperhatikan kapan saja pengajian diselenggarakan. Bahkan jika Kiai Arief memiliki waktu luang pada larut malam, para santri dengan sabar menunggu dan sedikitpun tidak berani merangsek pergi dari tempat pengajian.
Pada paruh akhir 70-an, tepatnya tahun 1977, Kiai Arief dinobatkan sebagai anggota Dewan Syuriyah NU kota Mojokerto. Tidak lama berselang dari penobatan anggota Dewan Syuriyah NU, pada tahun 1981 Kiai Arief menyempurnakan rukun Islam yang kelima, yakni menunaikan ibadah haji ke tanah suci Makkah dan sekaligus mengunjungi tempat-tempat bersejarah baik di Makkah al-Mukarramah atau Madinah al-Munawwarah terutama menziarahi makam Nabi Muhammad SAW.
Sepulang dari tanah suci Kiai Arief tetap melanjutkan aktifitas sehari-hari. Waktunya kian dicurahkan demi pengembangan pesantren. Namun sayang, Kiai Arief mulai diserang penyakit kencing manis. Kendatipun begitu, Kiai Arief tidak terlalu mempedulikan penyakitnya. Beliau tetap istiqamah mengaji di nDalem tempat mana sekarang biasa dipakai K.H. Zainul Arifin Arief, putra ke-2, mengadakan pengajian kitab Riyadlus Shalihin setiap hari Sabtu. Di sela-sela kegiatan mengaji Kiai Arief sering terlihat duduk santai di atas kursi goyang di serambi kanan nDalem (kursi goyang bersejarah ini sekarang raib entah ke mana. Namun banyak yang meyakini bahwa hingga sekarang Kiai Arief masih sering ‘menampakkan diri’ duduk santai di atas kursi di pesarean. Hanya saja, ‘penampakan’ itu hanya bisa dilihat oleh mereka yang memiliki bashirah (pandangan mata hati—red.) demikian khitmat dan khusyu’ saat menziarahi beliau).
Kian hari penyakit kencing manis yang diderita Kiai Arief makin mengganas. Ditambah lagi beberapa penyakit kronis (jantung dan ginjal) juga ikut latah menyerang fisik beliau yang semakin menua. Bahkan aktifitas merokok yang telah biasa beliau lakukan sejak dulu membawa petaka tambahan, mendatangkan penyakit paru-paru. Memang, Kiai Arief termasuk perokok berat. Beribu-ribu batang rokok telah beliau habiskan, mengepulkan asap yang seandainya dikumpulkan semenjak dahulu mungkin menyamai asap jelaga yang melibas sebuah bangunan kayu. Namun, pada akhirnya Kiai Arief berhasil menghentikan aktifitas yang merugikan ini. Sebagai gantinya beliau minta disediakan sarmadat (butiran jagung yang digoreng kering, ada yang menyebutnya marning—red.). Oleh Kiai Arief sarmadat ini dijadikan ‘obat’ bagi mulut yang terasa kecut karena diceraikan rokok.
Karena itulah Kiai Arief menyerukan kepada seluruh santrinya agar menjauhi aktifitas merokok. Bukan lantaran apa-apa, tapi karena manfaat yang diperoleh tidak sebanding dengan bahaya yang mengancam dan bisa merenggut nyawa. Seruan Kiai Arief tentang masalah ini bukannya tanpa alasan. Agaknya beliau mendasarkan seruannya pada salah satu ayat al-Quran yang menceritakan tentang khamr dan judi di mana di dalamnya terdapat petaka besar dan hanya sedikit manfaat bagi manusia. Kiai Arief menyandarkan seruannya pada ayat ini di tingkat illah, sebab-musababnya (Q.S. al-Baqarah: 218).
Adalah mustahil jika ada santri yang mengatakan dirinya sama sekali tidak dapat melepaskan dari dari candu merokok. Ada cerita unik yang pernah dialami Mbah Nyai Thowilah berhubungan dengan fenomena ini. Suatu ketika beliau menginterogasi (menanyai—red.) seorang santri yang dilaporkan merokok. Singkat cerita, santri tadi mengatakan dirinya tidak bisa berhenti dari candu merokok. Walhasil, jawaban ini sedikit membuat berang beliau seraya berujar, “Wong Romo Kiai iku iso ngglereni rokok, lapo awakmu gak iso!”
Kendati demikian, sekali lagi, Kiai Arief tetap konsisten mengaji. Mengaji dan mengaji. Tak terkecuali mengaji al-Quran. Tidak banyak yang mengetahui bahwa ternyata Kiai Arief juga termasuk salah satu hamalat al-Quran. Teka-teki ini terungkap tatkala suatu ketika beliau meminta Mbah Nyai Thowilah, isteri Kiai Arief, untuk menyimak tadarrus al-Qurannya. Hanya dalam waktu beberapa jam Kiai Arief berhasil merampungkan tadarrus-nya di luar kepala (bi al-ghaib). Baru saat itulah terutama keluarga nDalem mengetahui jika Kiai Arief benar-benar seorang hamalat al-Quran.
Dalam usia senja itu, beliau banyak menghabiskan waktu dengan berdzikir. Tak sekejabpun biji-biji tasbih lepas dari tangan beliau. Mulut beliau setiap saat selalu menggumamkan bacaan-bacaan suci. Allah…, Allah…, Allah…, demikianlah yang terus menghiasi bibir beliau. Kondisi kesehatan Kiai Arief kian hari tambah memburuk, hingga pada suatu saat di hari yang telah ditakdirkan Allah keluarga nDalem membawa Kiai Arief ke rumah sakit Budi Mulya, Surabaya. Namun malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, di tengah perjalanan tasbih yang selalu berputar di antara lentik jemari beliau sembari membaringkan badan, mendadak berhenti dan terjatuh. Dengan senyum yang masih tersungging di bibir, beliau pamit pergi untuk selama-lamanya—senyum yang seolah menyeru bahwa kehidupan harus diarungi dengan penuh optimis membunga harapan: hidup adalah perjuangan dan keyakinan (inna al-hayata aqidah wa jihad).
Menyadari bahwa Kiai Arief telah menutup mata selama-lamanya, bunyi sirine ambulance menyusul sambil meraung-raung memecah kesunyian. Isak tangis tertahan membekam kalimat Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rajiun menyusuri jalanan yang dipenuhi para pelayat menuju rumah duka di Beratkulon. Selamat jalan Romo Kiai, kami akan meneruskan perjuangan mengentas kebodohan yang menggulita hati menuju pribdi-pribadi yang tercerahkan!
Proses Pengadaan Infrastuktur Pendidikan
Tentu saja tidak sekonyong-konyong perjuangan Kiai Arief menghasilkan tatanan infrastruktur (prasarana—red.) sebagaimana bisa disaksikan dewasa ini. Pondok pesantren putra-putri yang sekarang tampak kokoh dengan dilengkapi fasilitas belajar yang cukup memadai, pengadaan perpustakaan dengan koleksi buku-buku berkualitas, jenjang pendidikan mulai taman kanak-kanan sampai sekolah lanjutan atas, hingga laboratorium komputer yang diperuntukkan bagi para santri agar tidak mengalami gaptek (gagap teknologi) adalah melewati proses yang panjang dan cukup melelahkan.
Beberapa bulan berselang setelah peletakan batu pertama sebagai simbolisasi didirikannya pesantren, 1 April 1939, Kiai Arief merintis berdirinya Madrasah Ibtidaiyah, tepatnya pada tanggal 1 Agustus 1939—madrasah ini terletak beberapa ratus meter ke arah timur dari nDalem.
Lalu pada tanggal 5 Mei 1955 dilakukan penambahan 9 lokal pesantren putra yang awalnya cuma terdiri dari dua lokal. 9 lokal ini adalah bangunan yang membujur barat-timur dan bersebelahan dengan mushalla. Tidak lama berselang, pada tanggal 1 April 1956 Kiai Arief secara formal membangun pesantren putri yang tempatnya di belakang nDalem dan juga diapit oleh nDalem K.H. Zainul Arifin Arief dan Ibu Nyai Arifah Arifah.
Tujuh tahun kemudian, 15 September 1963, sebuah petaka besar yakni meletusnya Gunung Agung menandai dibangunnya Muallimin Muallimat Pertama (MMP)—sekarang Madratsah Tsanawiyah—dan dilanjutkan membangun Mualimmin Muallimat Atas (MMA)—sekarang Madratsah Aliyah—pada tanggal 3 Februari !966. Di sela-sela tahun pembangunan dua institusi pendidikan itu, pada tanggal 7 Juli 1964 Kiai Arief menyempurnakan pembangunan pesantren putri di samping juga membangun mushalla sebagai sarana ibadah santri putri.
Baru pada tanggal 27 Agustus 1980 Kiai Arief mendirikan Taman Kanak-Kanak yang terletak di samping barat perempatan jalan yang menghubungkan Madratsah Aliyah dengan nDalem. Lima tahun kemudian, 12 Agustus 1985, Kiai Arief menambah 5 lokal pesantren putri setelah sebulan sebelumnya, 15 Juli 1985, membangun Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI). Baru kemudian pada tanggal 1 Juli 1988 Kiai Arief melengkapi institusi pendidikan dengan membangun Sekolah Menengah Atas Islam (SMAI), sehingga lengkap sudah infrastruktur pendidikan dalam Yayasan Pesantren Roudlotun Nasyi’in mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga sekolah lanjutan atas. Di samping itu, beberapa waktu yang lalu telah diresmikan pula Sekolah Teknik Menengah (STM) Roudlotun Nasyi’in sebagai institusi pendidikan alternatif dengan tenaga-tenaga pengajar yang cukup profesional di bidang teknik.
Menimba Keteladanan Kiai Panutan
KETIKA KH. Arief Hasan wafat pada 20 Rabiul Awal 1409 H/31 Oktober 1988, para pelayat berbiak hingga ribuan. Mereka tertumpah ruah di pelataran rumah duka hingga mengular sepanjang jalan. Airmata pun menetes teriring selaksa doa mengiringi kepergian kiai yang amat bersahaja. Kiai Arief mangkat meninggalkan segala apa yang dicintai dan semua yang mencintainya.
Nama KH. Arief Hasan bisa jadi masih asing terdengar di telinga kebanyakan. Popularitas kiai kelahiran Beratkulon, sebuah desa sebelah utara bantaran Kali Brantas Mojokerto, pada 20 Rabiul Awal 1337 H/1917 M sekaligus pendiri Pondok Pesantren Roudlotun Nasyi'in ini memang tidak semencuat sejumlah kiai sepuh NU lainnya. Namun jika menilik lebih jauh sketsa kehidupannya, akan diperoleh sebuah keteladanan yang begitu memesona.
Inilah kontribusi buku Jejak Keteladanan KH. Arief Hasan karya Saiful Amin Ghofur ini. Dalam buku ini diungkap dengan begitu lengkap narasi kehidupan Kiai Arief, sejak kelahiran hingga kematian. Termasuk lika-liku ketika menimba ilmu di Pondok Pesantren Tebuireng di bawah asuhan Hadratusy Syaikh Hasyim Asy'ari, strategi mendidik para santri, heroisme perjuangan merebut kemerdekaan, kehatian-hatian terlibat dalam kancah politik praktis, hingga kepedulian terhadap agenda pemberdayaan sosial-ekonomi masyarakat.
Karena itu, cukup beralasan bila dalam Pengantar Penerbit buku ini dikatakan bahwa Kiai Arief rasa-rasanya tepat mewakili sosok bocah angon seperti termaktub dalam syi’ir keagamaan (baca: lir-ilir) gubahan Sunan Kalijaga. Sebab, sepanjang hidupnya ia selalu mengayomi masyarakat. Ia memimpin dan mengendalikan perubahan masyarakat dari arah belakang. Meski, sebetulnya bisa saja ia tampil sebagai pemimpin di barisan terdepan, tapi dengan segala kearifan yang bijak, kesempatan itu tidak diambil.
Kiai Arief adalah sebuah fenomena. Sikapnya yang sederhana, bersahaja, kharismatik, dan fatwa-fatwa keagamaan yang menyejukkan membuat siapapun yang sempat bersentuhan dengan kehidupannya tentu akan selalu merasakan rindu yang terus bertalu-talu.
Maka, setidaknya buku ini bisa menjadi semacam obat penawar rindu. Sebab, buku ini ditulis dengan bahasa yang cair serupa air mengalir. Struktur kalimat yang dipindai Saiful telah terhembalang jauh dari kekakuan normativitas berbahasa seperti lazimnya buku-buku otobiografi serupa, sehingga pembaca seakan-akan terlibat langsung dalam serentetan peristiwa penting bersama Kiai Arief.
Kiai Arief tak pernah mengenyam pendidikan formal kecuali nyantri kepada Hadratusy Syaikh Hasyim Asy'ari. Tapi di kelak kemudian hari ia mendirikan institusi pendidikan lengkap dari jenjang Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Lanjutan Atas (MA/SLTA) yang dipayungi Yayasan Pendidikan dan Pondok Pesantren Roudlotun Nasyi'in. Hal ini tentu tak terlepas dari ketekunan belajar dan berkah dari Kiai Hasyim. Salat malam tak pernah ia tinggalkan.
Semasa di Tebuireng, Kiai Arief sangat patuh dan memiliki kedekatan emosional dengan Kiai Hasyim. Bahkan ia sempat menjadi tukang pijat andalan Kiai Hasyim. Oleh pendiri Jamiyyah Nahdlatul Ulama ini Kiai Arief kerap dipanggil dengan nama thowil karena postur tubuhnya yang kurus lagi tinggi (hlm. 58).
Metode pendidikan yang diperoleh dari Kiai Hasyim kelak juga diterapkan ketika Kiai Arief mendidik para santri. Dalam mendidik, Kiai Arief memang sangat tegas. Namun di sisi lain, ia pun penyayang dan amat dekat dengan para santri. Kerapkali Kiai Arief makan bersama para santri. Dengan cara ini kedekatan emosional dan spiritual dapat selalu terjaga (hlm. 103-108).
Metode pendidikan Kiai Arief mirip seperti konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang terkenal dengan sistem among, yaitu menjaga, membina dan mendidik dengan kasih sayang, serta konsep Trilogi Kepemimpinan: Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani.
Yang pasti, melalui buku ini kita bisa menimba keteladan dari seorang kiai panutan. Secara runtut keteladanan tersebut bisa disisir dalam lima bab. Bab pertama, berkisah seputar kelahiran hingga seluk-beluk menimba ilmu. Bab kedua, bertutur tentang pesantren dan hiruk-pikuk perjuangan. Bab ketiga, menjelaskan tentang kearifan Kiai Arief selaku kepala rumah tangga yang sangat bijak. Bab keempat, berbicara tentang kiprah Kiai Arief dalam agenda besar memberdayakan potensi sosial-ekonomi masyarakat. Dan bab kelima, berupa refleksi teladan moral Kiai Arief.
Yang tak kalah menarik, Kiai Arief benar-benar mampu mengendalikan emosi dan hasrat politik. Ini terbukti ketika sempat menjadi anggota DPRD Mojokerto, belum sampai purna ia meletakkan jabatan itu untuk lebih fokus terhadap agenda pemberdayaan masyarakat. Hal ini sekaligus menjadi kritikan pedas di tengah ambisi para kiai yang sekarang berduyun-duyun terjun ke kancah politik praktis sembari mengabaikan agenda pemberdayaan kultural.
Maka dari itu, kehadiran buku ini patut disambut dengan penuh apresiatif. Bila diibaratkan, Kiai Arief tak ubahnya serupa intan yang tiap ujungnya memancarkan kilau-kilau cahaya kebajikan yang laik ditapaktilasi untuk merenda kehidupan. Inilah kontribusi konkret yang telah ditorehkan Saiful melalui buku ini.
Selamat membaca. []
*) Saiful Amin Ghofur, Guru Luar Biasa Ponpes Roudlotun Nasyi'in Beratkulon Mojokerto.
Pekerja sosial yang kini menetap di pinggiran Jakarta
Total Posting: 563 | Rating: 138



del.icio.us
Digg

Komentar terkini (0 komentar):
Jika anda akan memberikan komentar dan memberikan rating pada artikel ini, silahkan login atau klik disini untuk pendaftaran baru