Arina.id – Sya’ban merupakan bulan yang berada pada urutan ke delapan dalam kalender Hijriah. Sya’ban juga termasuk bulan istimewa karena menjadi momentum umat Islam untuk menyiapkan diri dalam menghadapi bulan suci Ramadhan.
Di sisi lain, bulan Sya’ban pun menyimpan sejumlah peristiwa penting yang masuk dalam catatan sejarah peradaban Islam. Berikut ini adalah 5 peristiwa penting yang terjadi di bulan Sya’ban:
1. Perubahan Arah Kiblat
Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani dalam kitab Ma Dza fis Sya’ban, (Tanpa penerbit: 1424 H), hal. 9 menjelaskan, pada bulan Sya’ban tahun ke-2 Hijriah, tepatnya di bulan ke-17 (pendapat lain bulan ke-16) sejak Rasulullah hijrah ke Madinah, terjadi peristiwa bersejarah yang dinantikan oleh Rasulullah, yaitu perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Baitullah.
Perubahan arah kiblat ini merupakan permintaan Nabi Muhammad kepada Allah. Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 144:
قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَاۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ
Artinya: “Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Di mana pun kamu sekalian berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab benar-benar mengetahui bahwa (pemindahan kiblat ke Masjidilharam) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.”
2. Diwajibkan Puasa Ramadhan
Selain perubahan arah kiblat, Imam Ibnu Katsir dalam kitab Al-Fuhsul fi Siratir Rasul (Madinah, Maktabah Darut Turats:1405 H), hal 127 menjelaskan, pada bulan Sya’ban tahun ke-2 Hijriah Allah mewajibkan umat Islam untuk melaksanakan puasa Ramadhan. Kewajiban ini termaktub dalam surat Al-Baqarah ayat 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
3. Diwajibkan Zakat Fitrah
Dalam keterangan yang sama, Imam Ibnu Katsir juga menyebutkan bahwa kewajiban menunaikan zakat fitrah bagi umat Islam datang karena adanya kewajiban puasa Ramadhan. Disebutkan Ibnu Katsir, perintah zakat fitrah ditetapkan pada bulan Sya’ban tahun ke-2 Hijriah, tepatnya sehari sebelum datangnya bulan suci Ramadhan.
Adapun perintah zakat fitrah berdasarkan hadits Nabi berikut:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنْ الْمُسْلِمِينَ
Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah di bulan Ramadhan sebanyak satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum kepada setiap orang (umat Islam), baik yang merdeka maupun hamba sahaya, laki-laki maupun perempuan.” (HR Bukhari Muslim)
4. Perang Muraisi
Pada bulan Sya’ban tahun ke-5 Hijriah, sebagaimana dijelaskan Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Zadul Ma’ad (Beirut, Daru Ibnu Hazm: 1440 H), juz III, hal. 299, terjadi perang Muraisi yang melibatkan umat Islam dengan Bani Musthaliq dari Khuza’ah. Perang ini dipicu oleh kabar bahwa Al-Harits bin Abi Dhirar, pemimpin Bani Musthaliq, telah menghimpun pasukan untuk menyerang Rasulullah.
Untuk memastikan kabar tersebut, Rasulullah mengutus Buraidah bin Al-Hushaib Al-Aslami. Setelah terbukti bahwa berita itu benar, Rasulullah bersama kaum muslimin segera berangkat menuju Al-Muraisi dan umat Islam pun meraih kemenangan dalam perang tersebut.
5. Diangkatnya Amal
Selain menyimpan sejumlah peristiwa sejarah, bulan Sya’ban juga memiliki keutamaan besar. Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani dalam kitab Ma Dza fis Sya’ban, hal. 11 menjelaskan bahwa pada bulan Sya’ban terjadi peristiwa penting, yaitu diangkatnya amal-amal manusia kepada Allah SWT.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Usamah bin Zaid, ketika ia bertanya kepada Rasulullah yang banyak berpuasa pada bulan Sya’ban. Rasulullah kemudian bersabda:
ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
Artinya: “Itulah bulan yang sering dilalaikan manusia antara Rajab dan Ramadhan. Dan itulah bulan diangkatnya amal-amal kepada Tuhan Semesta Alam. Aku suka amalanku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.” (HR. An-Nasa’i dan Ahmad)
Dengan demikian, Sya’ban bukan sekadar bulan persiapan menuju bulan suci Ramadhan, tetapi juga menyimpan sejumlah peristiwa penting dalam sejarah Islam, yaitu perubahan arah kiblat, diwajibkannya puasa Ramadhan dan zakat fitrah, terjadinya Perang Muraisi, serta menjadi bulan diangkatnya amal-amal manusia kepada Allah SWT. Wallahu a’lam.





Comments are closed.