Sun,24 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Features
  3. Tambang Emas Ilegal Gerogoti Kawasan Penyangga TN Laiwangi Wanggameti

Tambang Emas Ilegal Gerogoti Kawasan Penyangga TN Laiwangi Wanggameti

tambang-emas-ilegal-gerogoti-kawasan-penyangga-tn-laiwangi-wanggameti
Tambang Emas Ilegal Gerogoti Kawasan Penyangga TN Laiwangi Wanggameti
service

Aktivitas pertambangan emas tanpa izin semakin mengkhawatirkan di kawasan sekitar Taman Nasional Laiwangi Wanggameti (TN LW) di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Wilayah ini dikenal sebagai benteng terakhir ekologi Sabana Sumba yang berfungsi sebagai penyangga habitat satwa liar, sistem hidrologi utama, dan sumber kehidupan bagi masyarakat hilir. 

Koalisi organisasi masyarakat sipil setempat memperingatkan bahwa aktivitas tambang, meski berskala kecil dan tradisional, semakin merambah wilayah hulu yang penting secara ekologis — termasuk desa-desa seperti Karipi, Wanggameti, Mahaniwa, Ramuk, Katikutana, Katikuwai, dan Praibokul. 

Lokasi-lokasi ini merupakan titik awal dari enam Daerah Aliran Sungai (DAS) vital: Kambaniru, Melolo, Kawangu, Watumbaka, Kadumbul, dan Nggongi. DAS-DAS ini menopang kehidupan masyarakat di 13 kecamatan, 52 desa, dan 8 kelurahan di Sumba Timur. 

Kerusakan Lingkungan yang Kian Parah

Penambangan emas ilegal telah menciptakan lubang-lubang galian di tanah, membuka vegetasi penyangga air, dan mengubah struktur lahan yang semula menahan erosi. Tanpa tutupan tanaman yang kuat, lumpur dan sedimen mudah terbawa ketika hujan datang, mempercepat erosi, serta menyebabkan sedimentasi di sungai — yang secara langsung mengurangi kualitas air dan merusak habitat akuatik. 

Selain itu, beberapa penambang menggunakan merkuri dan bahan kimia berbahaya lainnya untuk memproses emas. Zat-zat ini sangat berisiko mencemari sungai, tanah, dan makanan, serta menimbulkan ancaman kesehatan serius bagi komunitas yang bergantung pada sumber daya alam tersebut.

Kondisi ini memicu kekhawatiran aktif dari Koalisi Masyarakat Sipil Sumba Timur  yang terdiri dari berbagai organisasi lingkungan, sosial, dan masyarakat adat. Mereka menyebut degradasi ekologis sudah mencapai titik kritis, terutama di wilayah hulu yang seharusnya berfungsi sebagai benteng alami terhadap kekeringan dan perubahan iklim. 

Dampak Sosial dan Hidup Komunitas

Ancaman terhadap hulu DAS bukan hanya soal kerusakan alam. Koalisi menekankan bahwa bila kawasan ini terus rusak, konsekuensinya akan terasa hingga hilir, termasuk penurunan pasokan air bersih, terganggunya pertanian dan ternak, serta menurunnya kemampuan masyarakat dalam mengakses pangan dan kebutuhan dasar lainnya. Kerusakan ekosistem ini kemudian menempatkan ketahanan hidup masyarakat lokal dalam risiko besar. 

Para aktivis menilai bahwa penambangan emas tanpa izin jelas merupakan pelanggaran hukum, karena menempatkan tekanan berat pada kawasan yang dilindungi undang-undang sebagai penyangga taman nasional. Mereka menyerukan agar aparat penegak hukum serta pemerintah daerah bertindak tegas menghentikan aktivitas ini dan mencegah laju degradasi. 

Koalisi mengajak pemerintah kabupaten, khususnya Bupati Sumba Timur, menolak penerbitan rekomendasi izin baru serta melakukan langkah hukum terhadap semua operasi tambang tanpa izin di wilayah hulu. Mereka memperingatkan bahwa membiarkan praktik tersebut sama saja dengan membiarkan sabana dan sistem air utama di pulau itu terus dirusak. 

Aktivitas penambangan yang kian meluas ini bukan hanya ancaman terhadap fungsi ekologis TN Laiwangi Wanggameti, tetapi juga mencerminkan ketidakseimbangan antara pembangunan ekonomi jangka pendek dengan kelestarian lingkungan jangka panjang — sebuah tantangan yang harus segera diatasi bila Indonesia ingin menjaga sumber daya alam dan kehidupan masyarakatnya secara berkelanjutan. 

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.