KABARBURSA.COM — Selama bertahun-tahun batu bara, minyak, dan gas diperlakukan seperti tulang punggung pembangunan. Lampu menyala, pabrik beroperasi, ekonomi tumbuh. Tapi di balik listrik yang menghidupkan kota-kota, ada ongkos yang jarang dihitung secara terbuka yakni kematian.
Peneliti dari Oxford Martin Programme on Global Development, Hannah Ritchie, menyebut energi memang menjadi penggerak kemajuan manusia selama beberapa abad terakhir. Namun sumber energi juga menyisakan jejak lain berupa polusi udara, kecelakaan industri, hingga emisi gas rumah kaca yang mempercepat krisis iklim.
“Energi berada di pusat hampir setiap tantangan besar dan peluang yang dihadapi dunia saat ini,” tulis Perserikatan Bangsa-Bangsa, dikutip dalam riset Hannah Ritchie di laman Our World in Data, Minggu, 24 Mei 2026.
Masalahnya, tak semua energi meninggalkan dampak yang sama. Ritchie menemukan sumber energi berbasis fosil justru menjadi penyumbang kematian terbesar di dunia. Bukan hanya karena kecelakaan tambang atau ledakan fasilitas energi, tetapi terutama akibat polusi udara yang dihirup manusia setiap hari.
Jutaan orang, menurut riset itu, meninggal lebih cepat setiap tahun akibat paparan polusi udara. Sebagian besar berasal dari pembakaran batu bara, minyak, gas, hingga biomassa seperti kayu dan arang.
“Batu bara adalah sumber energi yang paling kotor, jauh di atas yang lain,” tulis Ritchie.

Riset Oxford tersebut membandingkan jumlah kematian berdasarkan listrik yang dihasilkan setiap sumber energi. Ukurannya menggunakan terawatt-hour atau TWh. Satu TWh setara dengan konsumsi listrik tahunan sekitar 150 ribu warga Uni Eropa.
Perbandingan dilakukan bukan berdasarkan total korban jiwa, melainkan jumlah kematian untuk setiap unit listrik yang diproduksi.
Hasilnya mencolok. Batu bara menjadi sumber energi paling mematikan. Minyak dan gas menyusul di belakangnya. Sebaliknya, energi nuklir, angin, hingga tenaga surya berada di kelompok dengan tingkat kematian paling rendah.

Jika sebuah kota berisi 150 ribu penduduk sepenuhnya bergantung pada listrik batu bara, setidaknya 25 orang diperkirakan meninggal lebih cepat setiap tahun akibat dampaknya.
Perbandingannya sebagai berikut:
- Batu bara sekitar 25 kematian per tahun
- Minyak sekitar 18 kematian per tahun
- Gas sekitar 3 kematian per tahun
- Hidroelektrik sekitar 1 kematian
- Angin nyaris nol kematian
- Nuklir nyaris nol kematian
- Surya nyaris nol kematian
Dengan kata lain, warga di kota berbasis batu bara menghadapi risiko kematian jauh lebih besar dibanding kota yang menggunakan energi terbarukan atau nuklir.
Ketika bicara nuklir, ingatan publik biasanya langsung tertuju pada tragedi Chernobyl disaster dan Fukushima Daiichi nuclear disaster.
Dua kecelakaan itu membentuk persepsi bahwa nuklir merupakan ancaman terbesar. Namun Ritchie menilai gambaran tersebut tidak sepenuhnya sesuai data.
“Peristiwa itu tragis. Namun dibanding jutaan orang yang meninggal setiap tahun akibat bahan bakar fosil, jumlah akhirnya sangat rendah,” tulisnya.
Dalam perhitungan penelitian, korban meninggal terkait Chernobyl diasumsikan sekitar 433 orang. Sedangkan Fukushima sekitar 2.314 orang. Tetap besar, tetapi jauh di bawah akumulasi korban polusi dari bahan bakar fosil yang berlangsung setiap tahun.
Ritchie mencatat energi nuklir menghasilkan sekitar 99,8 persen lebih sedikit kematian dibanding batu bara. Angka keselamatannya hampir setara dengan tenaga surya dan angin.
Energi Bersih Ternyata Sekaligus Energi Paling Aman
Temuan menarik lain dari riset ini yakni tidak ada pertentangan antara energi aman dan energi ramah iklim. Selama ini transisi energi sering dipandang sebagai pengorbanan ekonomi atau risiko baru. Padahal data menunjukkan sumber energi rendah karbon juga cenderung paling aman bagi manusia.
“Beruntungnya, tidak ada pertukaran antara energi yang paling aman dan energi yang paling bersih. Keduanya adalah hal yang sama,” tulis Ritchie.
Batu bara kembali berada di posisi terburuk. Emisi gas rumah kaca dari batu bara disebut lebih dari 100 kali lebih besar dibanding energi nuklir.
Minyak dan gas memang lebih rendah daripada batu bara, tetapi tetap jauh lebih tinggi dibanding tenaga surya, angin, maupun nuklir.
Meski data menunjukkan energi fosil lebih berbahaya, bauran listrik dunia saat ini masih didominasi batu bara, minyak, dan gas. Ketiganya menyumbang sekitar 60 persen pembangkit listrik global.
Artinya, dunia masih menggantungkan aktivitas ekonomi pada sumber energi yang di satu sisi menopang pembangunan, tetapi di sisi lain diam-diam memperbesar angka kematian dan mempercepat krisis iklim.
Ritchie melihat kondisi itu sebagai peluang sekaligus tantangan. “Jika kita ingin menghentikan perubahan iklim, kita memiliki kesempatan besar di depan mata. Kita bisa beralih dari bahan bakar fosil menuju nuklir dan energi terbarukan sekaligus mengurangi kematian akibat kecelakaan dan polusi udara,” tulisnya.
Pesannya sederhana, transisi energi bukan semata urusan menyelamatkan bumi puluhan tahun mendatang. Pergeseran dari batu bara menuju energi rendah karbon juga bisa berarti lebih sedikit orang meninggal hari ini. Karena kadang ancaman terbesar bukan ledakan reaktor atau turbin yang runtuh, melainkan asap yang tiap hari dihirup tanpa terasa.(*)
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.





Comments are closed.