Sun,24 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Business
  3. Profil BYAN, Kerajaan Batu Bara Low Tuck Kwong dengan Market Cap Terbesar di BEI

Profil BYAN, Kerajaan Batu Bara Low Tuck Kwong dengan Market Cap Terbesar di BEI

profil-byan,-kerajaan-batu-bara-low-tuck-kwong-dengan-market-cap-terbesar-di-bei
Profil BYAN, Kerajaan Batu Bara Low Tuck Kwong dengan Market Cap Terbesar di BEI
service

KABARBURSA.COM – Di tengah puluhan emiten energi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Bayan Resources Tbk (BYAN) masih berdiri sebagai perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di sektornya. Per Mei 2026, data Stockbit mencatat emiten batu bara milik konglomerat Low Tuck Kwong tersebut mencatat kapitalisasi pasar sekitar Rp333 triliun, tertinggi di antara 91 perusahaan energi yang melantai di bursa.

Posisi tersebut menempatkan BYAN di atas sejumlah nama besar seperti PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS), hingga PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).

Namun di balik statusnya sebagai pemuncak kapitalisasi pasar sektor energi, perjalanan saham BYAN dalam setahun terakhir justru menunjukkan arah berbeda. Harga saham perseroan telah terkoreksi hampir 50 persen dari sekitar Rp19.950 per saham menjadi Rp10.000 per saham. Koreksi tersebut terjadi ketika industri batu bara global memasuki fase normalisasi setelah menikmati lonjakan harga komoditas selama beberapa tahun sebelumnya.

Lalu bagaimana perjalanan Bayan Resources hingga menjadi perusahaan energi terbesar di bursa? Siapa sosok di balik perusahaan ini dan bagaimana struktur bisnis yang membuat nilai pasarnya tetap menjadi yang terbesar di sektor energi Indonesia?

Kinerja keuangan perseroan pada kuartal I 2026 menunjukkan bahwa Bayan Resources masih membukukan keuntungan yang besar meskipun mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Perseroan mencatat laba bersih sebesar Rp3,22 triliun, lebih rendah dibandingkan laba bersih kuartal I 2025 yang mencapai Rp3,57 triliun. Penurunan tersebut terjadi di tengah tren normalisasi harga batu bara dunia yang memengaruhi pendapatan dan profitabilitas sebagian besar perusahaan tambang.

Meski laba menurun, margin keuntungan perusahaan masih tergolong tinggi. Berdasarkan laporan keuangan kuartal I 2026, Gross Profit Margin tercatat sebesar 32,50 persen, sementara Net Profit Margin berada pada level 23,22 persen. Perseroan juga membukukan Return on Equity (ROE) sebesar 26,18 persen yang menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari modal pemegang saham.

Dari sisi likuiditas, posisi keuangan BYAN masih relatif kuat. Perseroan memiliki Current Ratio sebesar 3,28 kali dan Quick Ratio sebesar 2,81 kali. Kas dan setara kas yang dimiliki mencapai Rp12,37 triliun, lebih tinggi dibandingkan total liabilitas sebesar Rp10,49 triliun. Posisi tersebut menunjukkan perusahaan memiliki ruang yang cukup untuk memenuhi kewajiban jangka pendek sekaligus mendukung kebutuhan operasional dan investasi.

BYAN merupakan perusahaan tambang batu bara terintegrasi yang memproduksi semi-soft coking coal, sub-bituminous coal, dan bituminous coal dengan kadar sulfur rendah. Produk batu bara tersebut dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik dan industri baik di pasar domestik maupun internasional.

Model bisnis yang dijalankan perseroan tidak hanya terbatas pada kegiatan penambangan. Melalui berbagai entitas anak usaha, Bayan mengendalikan rantai bisnis dari hulu hingga hilir yang mencakup kegiatan eksplorasi, produksi, jasa kontraktor pertambangan, pengangkutan, pengelolaan pelabuhan, hingga logistik batu bara.

Kantor pusat perseroan berada di Jalan Senopati Nomor 8B, Senayan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Perusahaan melaksanakan penawaran umum perdana saham atau IPO pada 12 Agustus 2008 dengan harga penawaran Rp5.800 per saham. Saat itu perseroan melepas 833.332.992 saham dan menghimpun dana sekitar Rp4,83 triliun. Saat ini jumlah saham beredar mencapai sekitar 33,33 miliar saham dengan porsi free float sebesar 21,27 persen.

Berdasarkan prospektus perusahaan, cikal bakal Bayan Resources berdiri melalui Akta Nomor 13 tanggal 7 Oktober 2004 yang dibuat di hadapan Notaris Yeni Indrawaty Wibowo di Jakarta. Perseroan kemudian memperoleh pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia pada 21 Desember 2004.

Pada awal pendiriannya, modal dasar perusahaan tercatat sebesar Rp10 miliar yang terbagi atas 10.000 saham dengan nilai nominal Rp1 juta per saham.

Komposisi kepemilikan saat itu terdiri atas Dato’ Low Tuck Kwong sebesar 75 persen atau 7.500 saham, Engki Wibowo sebesar 10 persen atau 1.000 saham, Jenny Quantero sebesar 10 persen atau 1.000 saham, dan PT Gawi Global Link sebesar 5 persen atau 500 saham.

Menjelang pencatatan saham di bursa, struktur kepemilikan tersebut mengalami perubahan. Pada 6 November 2007, PT Gawi Global Link mengalihkan seluruh sahamnya kepada Jenny Quantero. Perseroan kemudian melakukan stock split dengan mengubah nilai nominal saham dari Rp1 juta menjadi Rp100 per saham.

Setelah aksi korporasi tersebut, modal ditempatkan dan disetor penuh meningkat menjadi Rp300 miliar yang terbagi atas 3 miliar saham. Struktur kepemilikan berubah menjadi Dato’ Low Tuck Kwong sebesar 75 persen atau 2,25 miliar saham, Engki Wibowo sebesar 15 persen atau 450 juta saham, serta Jenny Quantero sebesar 10 persen atau 300 juta saham. Dalam prospektus juga disebutkan sebanyak 800 juta saham milik Low Tuck Kwong pernah dijaminkan sebagai bagian dari fasilitas pinjaman sindikasi perusahaan.

Perjalanan Bayan Resources tidak dapat dilepaskan dari sosok Dato’ Dr. Low Tuck Kwong yang merupakan pendiri sekaligus pemegang saham pengendali. Pengusaha kelahiran Singapura tersebut memulai kiprahnya di Indonesia melalui bisnis konstruksi dan pekerjaan maritim sejak dekade 1970-an sebelum kemudian mengembangkan usaha pertambangan batu bara di Kalimantan.

Kini Low Tuck Kwong masih tercatat sebagai Ultimate Beneficial Owner Bayan Resources. Berdasarkan data kepemilikan saham per April 2026, ia menguasai sekitar 13,41 miliar saham atau setara 40,22 persen kepemilikan.

Pemegang saham terbesar berikutnya adalah Elaine Low dengan kepemilikan 7,33 miliar saham atau 22 persen. PT Sumber Suryadaya Prima tercatat memiliki 3,33 miliar saham atau 10 persen.

Struktur pemegang saham perseroan juga diisi oleh sejumlah perusahaan utilitas listrik asal Korea Selatan yang masing-masing memiliki kepemilikan sebesar 4 persen atau sekitar 1,33 miliar saham. Mereka adalah Korea Southern Power, Korea East-West Power, Korea Western Power, Korea Midland Power, dan Korea South-East Power.

Selain itu terdapat Lim Chai Hock dengan kepemilikan 1,09 miliar saham atau 3,26 persen dan Jenny Quantero sebanyak 994,98 juta saham atau 2,98 persen.

Data per April 2026 menunjukkan jumlah pemegang saham Bayan Resources mencapai 3.825 investor, meningkat dibandingkan 3.044 investor pada November 2025. Kenaikan jumlah investor tersebut terjadi di tengah pelemahan harga saham sepanjang satu tahun terakhir.

Dalam struktur pengurus perusahaan saat ini, Dato’ Dr. Low Tuck Kwong menjabat sebagai Presiden Komisaris. Perseroan juga memiliki jajaran direksi yang terdiri atas Lim Chai Hock, Jenny Quantero, Low Yi Ngo, Ulina Fitriani, Alastair G.C. McLeod, Russell Neil, Merlin, dan Oliver Khaw Kar Heng.

Besarnya nilai perusahaan Bayan Resources tidak terlepas dari luasnya jaringan anak usaha yang dimiliki. Berdasarkan laporan triwulan I 2026, perseroan mengendalikan sejumlah perusahaan tambang batu bara seperti PT Wahana Baratama Mining, PT Perkasa Inakakerta, PT Firman Ketaun Perkasa, PT Teguh Sinarabadi, PT Brian Anjat Sentosa, PT Tiwa Abadi, PT Tanur Jaya, PT Bara Sejati, PT Cahaya Alam, PT Mamahak Coal Mining, PT Apira Utama, PT Dermaga Energi, PT Silau Kencana, PT Sumber Api, PT Orkida Makmur, PT Gunung Bayan Pratamacoal, PT Fajar Sakti Prima, dan PT Bara Tabang.

Sebagian besar entitas tersebut dimiliki dengan tingkat kepemilikan antara 90 persen hingga 100 persen. Selain bergerak di sektor pertambangan, Bayan juga memiliki PT Indonesia Pratama yang bergerak di bidang jasa kontraktor pertambangan, PT Muji Lines dan PT Dermaga Perkasa Pratama yang bergerak di bidang logistik dan pengalihan muatan batu bara, serta PT Kariangau Power yang bergerak di bidang penyediaan tenaga listrik.

Di bidang investasi, perseroan memiliki PT Bayan Energy, PT Karsa Optima Jaya, dan PT Metalindo Prosestama. Sementara di luar sektor energi, Bayan melakukan diversifikasi usaha melalui PT Enggang Alam Sawita yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit.

Meski harga sahamnya terkoreksi hampir 50 persen dalam satu tahun terakhir, Bayan Resources tetap mempertahankan statusnya sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di sektor energi Indonesia.

Sosok di Balik BYAN

Nama Dato’ Dr. Low Tuck Kwong tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Bayan Resources. Berdasarkan prospektus perseroan, pria dengan julukan raja batubara tersebut merupakan pendiri Bayan Group sekaligus pemegang saham mayoritas perusahaan. Pria yang lahir 17 April 1948 menjabat sebagai Presiden Komisaris sejak Maret 2008, setelah sebelumnya memimpin perusahaan sebagai Presiden Direktur sejak Oktober 2004.

Low Tuck lahir di Singapura, ia pindah ke Indonesia pada 1972 dan resmi menjadi WNI pada 1992.

Berdasarkan data yang KabarBursa himpun total kekayaan bersih mencapai 14,6 USD pada 2026. Sementara riset Celios “Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026, mencatat Low Tuck Kwong berada diperingkat ke-6 orang super kaya di Indonesia 2016-2026 dengan kekayaan mencapai Rp340,96 triliun.

Perjalanan bisnis Low Tuck Kwong di Indonesia dimulai jauh sebelum Bayan Resources berdiri. Dalam prospektus perusahaan disebutkan bahwa ia memulai kariernya sejak 1973 dengan membentuk Jaya Sumpiles Indonesia (JSI), perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi dan kontraktor pertambangan. Pada 1990-an, ia mulai memperluas bisnis ke sektor pertambangan batu bara dan menjadikan Kalimantan sebagai basis utama pengembangan usaha.

Selain mengendalikan Bayan Resources, Low Tuck Kwong juga tercatat menduduki berbagai posisi strategis di sejumlah perusahaan dalam kelompok usaha Bayan. Pada saat prospektus diterbitkan, ia menjabat sebagai Presiden Direktur pada sejumlah entitas, antara lain PT Wahana Baratama Mining, PT Perkasa Inakakerta, PT Teguh Sinarabadi, PT Brian Anjat Sentosa, PT Tiwa Abadi, PT Dermaga Perkasa Pratama, PT Indonesia Pratama, PT Kariangau Power, PT Metalindo Prosestama, PT Karsa Optima Jaya, PT Bara Tabang, hingga beberapa perusahaan investasi dan logistik lainnya di lingkungan Bayan Group.

Di bawah kepemimpinannya, Bayan berkembang dari perusahaan tambang yang berdiri pada 2004 menjadi salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia dengan operasi yang terintegrasi dari tambang, pengangkutan, pelabuhan, hingga logistik. Strategi integrasi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat BYAN mampu bertahan dalam berbagai siklus naik turun harga batu bara dunia.

Berdasarkan data kepemilikan saham per April 2026, Low Tuck Kwong masih menjadi pemegang saham terbesar Bayan Resources dengan kepemilikan langsung sebanyak 13,41 miliar saham atau setara 40,22 persen. Posisinya sebagai pemegang saham pengendali semakin kuat jika memperhitungkan kepemilikan keluarga dan pihak terafiliasi dalam struktur pemegang saham perseroan.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.