Sun,24 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Features
  3. Kronologi Penemuan hingga Penguburan Gajah Sumatera Korban Banjir di Pidie Jaya

Kronologi Penemuan hingga Penguburan Gajah Sumatera Korban Banjir di Pidie Jaya

kronologi-penemuan-hingga-penguburan-gajah-sumatera-korban-banjir-di-pidie-jaya
Kronologi Penemuan hingga Penguburan Gajah Sumatera Korban Banjir di Pidie Jaya
service

Seekor Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), satwa dilindungi, ditemukan mati setelah terseret banjir bandang di Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. 

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh memastikan kematian satwa tersebut murni akibat bencana alam, bukan karena perburuan atau konflik dengan manusia.

Kepala BKSDA Aceh, Ujang Wisnu Barata, mengatakan laporan kematian gajah diterima pihaknya pada Jumat, 28 November 2025 sekitar pukul 17.30 WIB dari Kepala Desa Meunasah Lhok. Satwa tersebut ditemukan terdampar di Dusun Pante Geulima setelah terbawa arus banjir yang melanda kawasan tersebut.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan, tidak ditemukan luka di tubuh gajah. Penyebab kematian dipastikan akibat terseret arus banjir bandang,” kata Ujang di Banda Aceh, Senin (12/1/2026).

Ujang menyebutkan, tim gabungan BKSDA Aceh dan Satreskrim Polres Pidie Jaya baru dapat mencapai lokasi pada 29 November 2025 karena akses yang sulit akibat genangan banjir dan puing. 

“Pemeriksaan post mortem menunjukkan gajah berjenis kelamin jantan dengan perkiraan umur sekitar 10 tahun, dan diperkirakan telah mati sekitar empat hari saat ditemukan,” ungkapnya.

Ujang menjelaskan, kondisi bangkai saat ditemukan tertimbun lumpur dan material kayu, sementara area sekitar masih terendam air. Keterbatasan akses serta ketiadaan alat berat membuat petugas melakukan penguburan darurat sebagai langkah awal penanganan.

“Kami lakukan sterilisasi lokasi dan penguburan sementara, disertai monitoring berkala untuk mencegah gangguan kesehatan masyarakat dan potensi pengambilan bagian tubuh satwa,” jelasnya.

Kemudian, lanjut Ujang, monitoring lanjutan dilakukan pada 10 Desember 2025 dan 6 Januari 2026. Pada pemeriksaan terakhir, bangkai gajah telah terurai dan hanya menyisakan tulang belulang serta tengkorak. BKSDA Aceh juga mengamankan sepasang gading sebagai bagian dari prosedur pengamanan satwa dilindungi.

BKSDA Aceh menjadwalkan pemindahan tulang belulang dan sisa organ gajah ke Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Kabupaten Aceh Besar, pada 13 Januari 2026, untuk dilakukan penguburan permanen.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.