Thu,11 June 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Atasi Bencana, Desak Lembaga Pembiayaan Industri Ekstraktif Berbenah

Atasi Bencana, Desak Lembaga Pembiayaan Industri Ekstraktif Berbenah

atasi-bencana,-desak-lembaga-pembiayaan-industri-ekstraktif-berbenah
Atasi Bencana, Desak Lembaga Pembiayaan Industri Ekstraktif Berbenah
service

Bencana Sumatera jadi momentum perbaikan tata kelola berbagai sektor, termasuk lembaga keuangan atau pembiayaan. Temuan Koalisi Responsibank, terdapat pembiayaan dalam jumlah besar pada sektor-sektor berisiko termasuk memicu bencana. Mengacu data Forest & Finance, total pembiayaan dari lembaga keuangan periode 2014-2025 mencapai US$42,9 miliar. Terbagi atas pinjaman US$16,9 miliar dan pembiayaan penjaminan (underwriting) US$26,1 miliar. Abdul Haris, Kepala Departemen Advokasi dan Pendidikan Publik TuK Indonesia, mengatakan, analisis mereka menemukan bank-bank China mendominasi pembiayaan berisiko, sekaligus tunjukkan peran besar pembiayaan asing dalam operasionalisasi industri ekstraktif di Indonesia. Sementara, dari dalam negeri, Bank Mandiri, katanya, menyalurkan pembiayaan US$3,75, lalu Bank Rakyat Indonesia (BRI) US$1,65 miliar dan Bank Negara Indonesia (BNI) US$1,14 miliar. Situasi itu menunjukkan lemahnya komitmen institusi keuangan untuk jalankan standar yang mereka miliki. Padahal, sejumlah Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) itu telah berkomitmen terapkan keuangan berkelanjutan. “Bencana di Sumatera tunjukkan sebaliknya, bahwa kerusakan lingkungan hidup dan pembiayaan dari lembaga keuangan punya korelasi yang sangat besar,” katanya. Catata Koalisi Responsibank, sejumlah lembaga keuangan dari dalam dan luar negeri menyalurkan sebagian besar uangnya pada beberapa perusahaan di Sumatera Utara. Seperti PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) sebesar US$23 miliar, PT Agincourt Resources US$9,87 miliar dan PTPN III US$7,54 miliar. Haris bilang, data itu hanya cerminkan sebagian kecil perusahaan. Mengingat terbatasnya keterbukaan informasi pembiayaan dan struktur korporasi di Indonesia. Dia menilai, akuntabilitas yang lemah semestinya jadi alasan untuk perketat transparansi dan kewajiban pelaporan. Serta, jadikan keterbukaan risiko sosial dan lingkungan sebagai kewajiban, bukan pilihan. Karena itu, dia minta lembaga keuangan ke depan harus lebih hati-hati…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.