Warga Kecamatan Tapin Selatan, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan (Kalsel), waswas tiap mendung datang. Pasalnya, tiap hujan besar terjadi, kampung mereka rentan banjir. Kondisi makin parah ketika banjir lumpur pekat bercampur batubara. Akhir Maret hingga pertengahan April, banjir merendam Kelurahan Tambarangan, Desa Sawang, dan Rumintin hingga lima kali. Catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapin, di Kelurahan Tambarangan, banjir terjadi di empat rukun tetangga (RT) dengan total 136 keluarga (531 jiwa) terdampak. Di Desa Sawang, banjir melanda empat RT dengan 61 keluarga (184 jiwa) terdampak. di Desa Rumintin, tiga RT, 33 keluarga (117 jiwa) terdampak. Mustaqimah, nama samaran, sudah tidak bisa lagi menghitung berapa kali banjir masuk ke dalam rumahnya. Seingatnya, kondisi ini sudah berlangsung sekitar lima tahun. “Setiap hujan besar turun, banjir lumpur nyaris pasti datang. Yang masuk ke dalam rumah makin sering, sekitar dua tahun belakangan,” katanya pada Mongabay, akhir April. Banjir yang masuk ke rumah kini bisa mencapai betis, dengan ketebalan lumpur sekitar 2 cm. Pekerjaan berat mengeruk lumpur menunggu mereka ketika banjir surut. “Harus cepat-cepat dibersihkan. Kalau duluan air kering, malah susah. Menyikat lantainya pun tidak bisa sekali,” kata perempuan 51 tahun itu. Rumahnya pun makin rusak. Dinding dan lantai kayu makin lapuk. Dia bilang, pernah merogoh kocek hingga Rp15 juta untuk melakukan perbaikan. Masalah makin pahit karena banjir lumpur membuat kebun karet seluas 25 borongan atau sekitar 1 hektar miliknya tak produktif. Sudah 3 tahun kebun itu berhenti menghasilkan karena lumpur menumpuk hingga setinggi lutut, membuat kualitas getahnya menurun. “Getahnya asam, tidak bisa diapa-apakan lagi.” Padahal,…This article was originally published on Mongabay
Banjir Lumpur Campur Batubara Sengsarakan Warga Tapin Selatan
Banjir Lumpur Campur Batubara Sengsarakan Warga Tapin Selatan





Comments are closed.