Wed,10 June 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Banjir Lumpur Campur Batubara Sengsarakan Warga Tapin Selatan

Banjir Lumpur Campur Batubara Sengsarakan Warga Tapin Selatan

banjir-lumpur-campur-batubara-sengsarakan-warga-tapin-selatan
Banjir Lumpur Campur Batubara Sengsarakan Warga Tapin Selatan
service

Warga Kecamatan Tapin Selatan, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan (Kalsel), waswas tiap mendung datang. Pasalnya, tiap hujan besar terjadi, kampung mereka rentan banjir. Kondisi makin parah ketika banjir  lumpur pekat bercampur batubara. Akhir Maret hingga pertengahan April, banjir merendam Kelurahan Tambarangan, Desa Sawang, dan Rumintin hingga lima kali. Catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapin, di Kelurahan Tambarangan, banjir terjadi di empat rukun tetangga (RT) dengan total 136 keluarga (531 jiwa) terdampak. Di Desa Sawang, banjir melanda empat RT dengan 61 keluarga (184 jiwa) terdampak. di Desa Rumintin, tiga RT, 33 keluarga (117 jiwa) terdampak. Mustaqimah, nama samaran, sudah tidak bisa lagi menghitung berapa kali banjir masuk ke dalam rumahnya. Seingatnya, kondisi ini sudah berlangsung sekitar lima tahun. “Setiap hujan besar turun, banjir lumpur nyaris pasti datang.  Yang masuk ke dalam rumah makin sering, sekitar dua tahun belakangan,” katanya pada Mongabay, akhir April. Banjir yang masuk ke rumah kini bisa mencapai betis, dengan ketebalan lumpur sekitar 2 cm. Pekerjaan berat mengeruk lumpur menunggu mereka ketika banjir surut. “Harus cepat-cepat dibersihkan. Kalau duluan air kering, malah susah. Menyikat lantainya pun tidak bisa sekali,” kata perempuan 51 tahun itu. Rumahnya pun makin rusak. Dinding dan lantai kayu makin lapuk. Dia bilang, pernah merogoh kocek hingga Rp15 juta untuk melakukan perbaikan. Masalah makin pahit karena banjir lumpur membuat kebun karet seluas 25 borongan atau sekitar 1 hektar miliknya tak produktif. Sudah 3 tahun kebun itu berhenti menghasilkan karena lumpur menumpuk hingga setinggi lutut, membuat kualitas getahnya menurun. “Getahnya asam, tidak bisa diapa-apakan lagi.” Padahal,…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.