Arkham, warga Desa Pundakit Timur, di Pulau Bawean, Kecamatan Sangkapura, Kabupaten Gresik, Jawa Timur (Jatim) risau lantaran babi kutil Bawean (Sus verrucosus blouchi), turun dari hutan dan merusak ladang mereka. Berbagai tanaman seperti padi, jagung dan singkong menjadi santapan. “Hampir setiap malam babi kutil Bawean turun ke ladang. Terutama menjelang panen,” kata Arkhan kepada Faldy Devalen Fehabtoro, Ketua Bhakti Bhumi Naraya (Binaya) Foundation. Sebelumnya, Faldy meneliti meneliti hubungan karakteristik ekosistem dan persepsi masyarakat terhadap ekologi babi kutil Bawean. Riset Januari-Maret 2025 itu berlangsung di Cagar Alam (CA) dan Suaka Margasatwa (SM) Pulau Bawean terkait karakteristik ekosistem dan di desa penyangga. Meliputi Desa Kumalasa, Teluk Jatidawang, Dekat Agung, dan Desa Pundakit Timur, untuk melihat persepsi masyarakat. Masyarakat petani menganggap babi kutil Bawean sebagai hama yang merusak ladang pertanian. Selama musim panen, babi-babi kutil itu biasa turun ke ladang dan permukiman hingga tiga kali. Untuk mengusirnya, warga mengerahkan anjing penjaga dan menanam tanaman pagar untuk melindungi kebun. Sedangkan Desa Kumalasa menggunakan jaring untuk menjaga komoditas tanaman. Sayangnya, sebagian warga di desa penyangga lain justru memburu dan membunuh kawanan babi itu. Bahkan, aktivitas perburuan itu juga berlangsung di cagar alam dan SM dengan dalih mengendalikan hama. Faldy menemukan tanda aktivitas perburuan liar seperti jejak anjing milik pemburu, jerat sling baja, benang, dan tombak. Dampak dari praktik perburuan ini, populasi babi kutil Bawean di habitatnya pun menurun. Selain perburuan, populasi babi kutil Bawean menyusut dampak kerusakan habitat karena penebangan liar. Para pelaku menebang kayu untuk bahan bakar dan bahan bangunan. Faldy temukan bekas potongan…This article was originally published on Mongabay
Beragam Ancaman, Bagaimana Upaya Konservasi Babi Kutil Bawean?
Beragam Ancaman, Bagaimana Upaya Konservasi Babi Kutil Bawean?





Comments are closed.