Thu,11 June 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Dhianita Menerabas Trauma Genosida 1965 dengan Menelusuri Sejarah Keluarga

Dhianita Menerabas Trauma Genosida 1965 dengan Menelusuri Sejarah Keluarga

dhianita-menerabas-trauma-genosida-1965-dengan-menelusuri-sejarah-keluarga
Dhianita Menerabas Trauma Genosida 1965 dengan Menelusuri Sejarah Keluarga
service
Di tengah dominasi sejarah resmi negara yang menihilkan suara korban, upaya generasi ketiga tahanan politik 1965 untuk membabar sejarah keluarga adalah suar nyala baru. 

“KALAU temanku memperoleh cerita heroisme tentang perang kemerdekaan, aku tidak mendapatkan itu. Aku justru mendapatkan cerita kakekku dipenjara di Pulau Buru, sebagai pihak yang  disalahkan,” kata Dhianita di sebuah kedai kopi di Tangerang Selatan. 

Kisah itu bermula pada satu sore di Malang, Jawa Timur, tahun 2000. Dhianita berumur tujuh tahun, kelas 2 sekolah dasar. Kakeknya, Suwadi, yang dipanggil Pak Wadi, menyodorkan bundelan kertas kuning usang. 

Di halaman depan bundelan itu tertulis Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Ini adalah salinan memoar Pramoedya Ananta Toer selama pembuangan di Pulau Buru. 

Satu yang terekam samar-samar di benak Dhianita, dengan kosakata terbatas, adalah gambaran sebuah kapal tua reyot mengangkut orang-orang menuju Pulau Buru. Ada perasaan sedih merayap di hatinya. Ia tidak paham bagaimana bundelan itu berada di tangan kakeknya. Suwadi hanya bercerita ia ditahan di unit III bersama Pramoedya.

“Tiap pulang sekolah, aku main ke rumah kakek, rumahnya tak jauh dari rumahku. Sore hari baru aku pulang,” ceritanya. 

postcard dh
Kartu pos dari keluarga di Malang kepada Suwadi, tahanan politik di Pulau Buru, unit III Wanayasa. Pulau Buru berada di Kepulauan Maluku adalah kamp pembuangan para tahanan politik dari ribuan anggota atau terafiliasi Partai Komunis Indonesia pasca-genosida 1965-1966. (Dok Keluarga)

Dhianita Kusuma Pertiwi, yang lahir di Malang pada 1993, mengenang sebuah rumah cukup luas, yang sebagian ruangan depannya dipakai untuk toko kelontong. Di rumah itu ada foto besar Sukarno terpasang di dinding. 

Begitu melihat cucunya, si kakek segera mengakhiri kegiatannya, mencuci kedua tangan, lalu mengajaknya duduk di meja makan. Dari situ cerita tentang Pulau Buru mengalir. 

“Kakekku cerita tentang kesehariannya membuka lahan jadi sawah dengan alat-alat terbatas. Jatah makanan terbatas. Serbuan nyamuk-nyamuk ganas di malam hari,” kenangnya. 

Pulau Buru, suatu tempat tidak dikenal di peta dunia, dipilih pemerintahan militer Soeharto sebagai kamp pembuangan anggota komunis dan keluarganya. 

Setelah melakukan pembunuhan massal terhadap 500.000-1.000.000 orang yang terafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia, antara 1965-1966, rezim Soeharto mulai mengirim ribuan tahanan politik ke Pulau Buru sejak 1969. Diperkirakan antara 10.000 hingga 12.000 tapol dibuang ke Buru. Kamp kerja paksa ini ditutup pada 1979 setelah ditekan dunia internasional. 

Dhianita membawa gambaran yang samar-samar dari dongeng kakeknya bertahun-tahun kemudian. 

Ia terus terngiang imaji tentang Pulau Buru. Hamparan padang savana yang dikelilingi lautan biru. Saat para tahanan dikumpulkan di tepi teluk Namlea dan berjalan kaki menuju kamp penampungan. Tentang sungai kecil yang memisahkan antar-unit yang berisi puluhan barak. Juga tentang pagar kawat berkarat di sekeliling yang akan mencabik kulit dan menembus daging jika dilawan. Lalu, kisah tentang teman-teman kakeknya yang sakit.

wadi buru
Suwadi (dilingkari) sedang bekerja bersama tahanan politik lain di Pulau Buru, sekitar tahun 1977. Pada 1966, Suwadi diambil dari rumah, mendekam di penjara Lowokwaru selama dua tahun, kemudian dipindahkan ke Pulau Buru. Ia dipulangkan bersama ribuan tapol lain pada 1978. (Dok Keluarga)

SUWADI lahir pada 1929. Ia adalah pegawai pamong praja Kota Malang yang bekerja di bagian perkebunan. 

Tengah malam pada 1966, Suwadi diciduk tentara dari rumah dan diangkut dengan sebuah truk tanpa sempat pamit kepada istri dan ketiga anaknya. Dua tahun ditahan di penjara Lowokwaru, ia dipindahkan ke Pulau Buru menjelang tahun 1969. Rezim memulangkan dia pada 1978. 

Tak pernah jelas alasan rezim memenjarakan kakeknya selama 12 tahun. Kakeknya bilang tidak tergabung dengan PKI atau ormas-ormasnya. Ia memang dekat dengan buruh dan petani lantaran sering memberi penyuluhan ke desa-desa. 

“Yang jelas kakek seorang Sukarnois,” kata Dhianita. 

Dhianita mengenang menghabiskan sore di rumah kakek adalah masa yang membekas. Kakek melimpahinya dengan cerita-cerita baru. Kendati kadang ada bagian kerap diulang, tapi tak bikin bosan. 

Tak jarang ia ikut menangis saat kakeknya membabar bagian paling nelangsa: menyaksikan teman-teman sesama tahanan disiksa petugas, digigit binatang buas hingga meregang nyawa, atau beberapa tak tahan lagi dan memilih bunuh diri. 

Cerita sang kakek memperkenalkan beberapa kosakata baru. Pulau Buru. Tahanan politik. Orde Baru. Ketidakadilan. 

Tahun 2005, ritual cerita di sore hari itu mendadak terhenti. Pak Wadi meninggal dunia. Dhianita terpukul. 

“Aku mendadak kehilangan cerita-cerita yang menemaniku tiap sore. Aku kehilangan panutan untuk belajar dan bekerja dengan keras. Juga sosok yang tak pernah lelah menjawab pertanyaan-pertanyaan di masa kanakku.” 

Ia mengenang kakeknya sebagai pria dengan penuturan paling tenang yang pernah ditemuinya. 

Dhianita berkata kakeknya adalah guru sejarah pertamanya, yang membuka matanya dengan buku dan sejarah yang berbeda dari yang diperoleh di sekolah. 

Sejarah yang dituturkan kakeknya sangat berbeda dari pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah dan diwajibkan menonton film Penumpasan Pengkhianatan G30 S PKI. Ini adalah film propaganda pemerintahan Orde Baru yang dirilis pada 1984. Seluruh masyarakat, termasuk anak-anak sekolah, diwajibkan menontonnya setiap 30 September.

“Di rumah, kakekku mantan tapol. Sementara di sekolah, narasinya adalah PKI membunuh jenderal. Aku membayangkan mungkinkah kakekku melakukan itu?” 

Pertanyaan-pertanyaan itu mengendap lama di kepalanya. Saat itulah ia sadar, ia memiliki narasi sejarah keluarga yang berbeda dari keluarga yang lain.

Kisah-kisah kakek membubuhkan minatnya pada sejarah terutama narasi tentang Orde Baru. Sementara perjumpaan dengan tulisan Pramoedya membuatnya jatuh cinta pada sastra. 

Beranjak remaja, bacaannya makin luas. Ia menyantap novel-novel Pram, menamatkan Kuartet Buru dan buku-buku lainnya. Ia juga tekun membaca buku-buku politik, sejarah dan buku-buku kiri.  

Dhianita, kini berumur 32, adalah penulis, penerjemah, dan editor. Sebagai sarjana sastra, dengan profesi dan minat studinya, ia kerap diundang sebagai narasumber di berbagai forum untuk bicara sastra dan sejarah.

adrx3039pm
Masa remaja Dhianita diisi dengan membaca semua buku Pram, yang juga membuat ia jatuh cinta pada sastra. Buku “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” menjadi inspirasi bagi Dhianita untuk menuliskan kisah kakeknya. (Project M/Adrian Mulya)

KISAH sang kakek terus bersemayam dalam diri Dhianita, seperti menumbuhkan sayap di punggungnya. Ia bertekad mengabadikannya dalam sebuah novel, terinspirasi memoar Nyanyi Sunyi Seorang Bisu

“Kakekku punya kisahnya, tapi tak punya kesempatan menuliskannya. Sementara cerita-cerita itu sudah ditumpahkan kepadaku,” ujarnya.  

Duduk di bangku SMA, ia mulai menggarap calon bukunya. Ia merekonstruksi kembali ingatan-ingatan atas cerita kakek. Ia melakukan riset ke penjara Lowokwaru dan membaca sejumlah literatur. Ia menggali cerita dari nenek, ibu, dan saudaranya. 

Percakapan-percakapan dengan nenek dan ibunya lantas membuka lorong-lorong kisah di masa silam. 

Ia tahu tahun-tahun gelap itu tak hanya menelan banyak korban dari golongan kiri maupun yang dituduh kiri, tapi juga menorehkan sobekan luka bagi para keluarga. Neneknya berjuang keras menghidupi ketiga anaknya dengan membuka warung kelontong. Anak-anak bertumbuh dengan batin bolong lantaran bapak mereka direnggut negara dari rumah. 

Kakeknya kehilangan hak pensiun. KTP kakeknya berlabel ‘ET’ alias Eks-Tapol. Dampaknya menyeret anak-cucu: tak bisa jadi pegawai negeri.

“Dari cerita ibuku, terasa dia masih marah banget dengan masa lalu. Ia ingin jadi dosen PNS, dan tak tercapai karena terganjal keterangan bersih diri,” tambahnya. 

kelontong blur
Nenek Dhianita (berdiri paling kanan) menghidupi ketiga anaknya dengan membuka warung depan rumah, dibantu seorang tetangga (tengah). (Dok Keluarga)

Ibunya berkisah akan trauma mendengar suara drumband. Dalam ingatan ibunya, milisi yang berkeliling memburu anggota, sanak keluarga, dan orang-orang yang dituduh terafiliasi dengan PKI, memainkan alat-alat drumband. Mendengar bebunyian itu, ibunya trauma. Kendati kemudian, ibunya tak melarang Dhianita memilih marching band sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. 

Suatu hari saat kuliah, di masa praktik lapangan di sebuah sekolah, Dhianita terlambat mengikuti upacara bendera. Seorang guru menghardiknya, “Kayak anak PKI!” Ia terdiam. 

Ia masygul bagaimana label itu masih digunakan, berjarak nyaris 50 tahun dari peristiwa genosida. Peristiwa kekerasan politik itu telah menciptakan trauma lintas generasi dan mengakar dalam ingatan kolektif keluarga. 

 

DHIANITA menyusun kisah kakeknya dalam novel Buku Harian Keluarga Kiri. Terbit pada 2016, jelang lulus kuliah, novel ini mengantarnya menyelam lebih dalam seputar genosida 1965-1966. Dari sana ia terkoneksi dengan komunitas sastra, keluarga penyintas, termasuk teman baru sesama generasi ketiga. 

Saat peluncuran novel di Malang, seorang mahasiswi menghampirinya. Ia tengah merampungkan skripsi tentang dampak psikologis peristiwa 1965 terhadap keluarganya. Ia mengambil kasus ibunya sebagai anak korban. 

“Awalnya ia ragu, setelah membaca buku ini, ia mengaku seperti mendapat keberanian. Ini mengharukan aku,” ucap Dhianita, matanya berbinar-binar. 

02 peluncuran bhkkcrop
Buku Harian Keluarga Kiri, cetakan pertama, Februari 2016. Peluncuran berlangsung di Kafe Pustaka, Malang. Buku ini sudah tiga kali cetak ulang. Ia mendapatkan banyak undangan untuk mendiskusikan bukunya. (Dok Dhianita)

Di kesempatan lain, seorang anak muda, kakeknya juga eks-tapol, berbisik padanya, “Mbak, setelah baca bukumu, aku jadi tergerak untuk mencari tahu latar belakang keluargaku.” 

Ia menilai buku pertamanya cukup diterima. Dalam sebuah diskusi, seorang narasumber berkata, “salah satu kekuatan novelku adalah karena narasi sejarah keluarga. Sementara, studi historiografi sejarah selama ini cenderung berfokus pada sejarah besar.” Ia lega sekaligus bangga. Ia membayangkan kakeknya tersenyum di atas sana. 

Buku yang semula dicetak terbatas oleh penerbit indie di Kota Malang itu telah tiga kali cetak ulang. 

Novel itu membawa Dhianita ke banyak forum diskusi. Di sana, tanpa ragu, ia memperkenalkan: Kakekku adalah mantan tahanan politik 1965. 

Buku Harian Keluarga Kiri, tanpa disangka Dhianita, juga menjadi medium penyembuhan luka bagi ibunya. 

Saat novel terbit, ibu menatapnya haru, berucap: ‘Bukumu menceritakan yang kualami dan mewakili yang kurasakan. Juga mewakili suara-suara yang lain.”  

 

HARI-HARI Dhianita terhitung padat. Satu siang Minggu, 21 September 2025, ia mengisi diskusi di Festival Multatuli, bertempat di Museum Multatuli, Rangkasbitung, Lebak. 

Di hadapan sekitar 40 orang, rata-rata mahasiswa dan pegiat budaya, ia mengisahkan naskah drama Orang-orang Baru dari Banten (1959) karya Dhalia, aktris yang moncer tahun 1950-an dan seniman Lembaga Kebudayaan Rakyat. Drama ini disadur dari Sekali Peristiwa di Banten Selatan (1958) karya Pramoedya Ananta Toer. 

Sesudah acara diskusi beres, yang melebihi satu jam dari jadwal, beberapa peserta menghampiri dan mengajaknya berswafoto. Ia mengiyakan. Kemudian ia bergegas mengemasi tasnya, memesan taksi online yang mengantarnya menuju commuter line ke Jakarta. Sebuah acara di seputar Senayan telah menanti. 

“Panitia sudah panik. Aku pasti terlambat,” ia tersenyum tipis. 

Ia bilang sudah terbiasa dengan hari-hari yang padat. Tak lama ia segera meluncur ke Stasiun Rangkasbitung, nyaris telat, segera melompat ke dalam gerbong KRL. Tak ada kursi tersisa.

adrx3055pm
Dhianita membubuhkan tandatangan pada Buku Harian Keluarga Kiri. Di buku Mengenal Orde Baru, ia menyusun ensiklopedia kata-kata kunci yang membentuk Orde Baru. Buku ini ingin mengajak generasi muda pasca-Orde Baru, kelahiran 2000-an, bisa menyelami sejarah kekerasan negara Orde Baru, sehingga bisa memiliki kesadaran kritis untuk tidak mengulangi kesalahan dan kekerasan politik yang sama. (Project M/Adrian Mulya)

Pada 2021, Dhianita menerbitkan buku nonfiksi Mengenal Orde Baru. Disusun secara ensiklopedis memuat kata-kata kunci yang membentuk Orde Baru. Ia juga bergabung dalam Ruang Perempuan dan Tulisan, komunitas kolektif perempuan yang meneliti karya-karya perempuan penulis di masa lalu yang disingkirkan negara seperti S. Rukiah, Sugiarti Siswadi, Charlotte Salawati, Suwarsih Djojopuspito, dan lain-lain. Hasil riset mereka diterbitkan dalam judul Yang Terlupakan dan Dilupakan (2018). 

Di buku itu ia meneliti Charlotte Salawati, pejuang dari Sulawesi Utara yang pernah menjadi Wali Kota Makassar, wali kota perempuan pertama di Indonesia. Charlotte juga pengurus pusat Gerakan Wanita Indonesia dan menjadi anggota DPR dari PKI. Charlotte ditangkap dan dijebloskan ke kamp Plantungan, Kendal, Jawa Tengah. 

Ia juga menyusun pameran tentang S.Rukiah, sastrawan perempuan yang karya-karyanya dilarang negara Orde Baru lantaran berhaluan kiri. Terbaru, ia meluncurkan kumpulan cerpen berjudul Rumah Dukkha, berkisah tentang jejak trauma penyintas 1965.

adrx3048pm
Menulis adalah cara Dhianita menerjemahkan pengetahuan dan merawat ingatan. Ia sudah menulis 10 buku. (Project M/Adrian Mulya)

Dhianita memang pengumpul data yang tekun. Ia pekerja keras dan pantang menyerah. Diakuinya, sebagai generasi ketiga eks-tapol, dibesarkan dalam keluarga yang bergulat dengan aneka trauma dan stigma, telah mengasahnya menjadi pribadi kokoh. 

“Dulu kakek dan ibuku kerap berucap, hidup itu adalah perjuangan. Itu juga yang sering kusaksikan dari kehidupan mereka. Hingga kini, jika aku merasa lelah, aku teringat kakekku.” 

Berselang 10 tahun setelah Buku Harian Keluarga Kiri, Dhianita semakin menemukan nyawa baru. 

Ia kerap bertemu dengan sesama generasi ketiga eks-tapol 1965 yang mulai tergerak untuk mencari latar belakang keluarganya. 

Ia menyadari hal-hal kecil personal, domestik, ternyata punya kaitan jauh dengan sejarah besar negeri ini. Ia percaya bahwa narasi sejarah keluarga adalah sesuatu yang penting. Terlebih saat ini di tengah mitos-mitos yang masih terus direproduksi negara dan nihilnya kehendak untuk mengakui sejarah kekerasan masa lalu. 

“Kakekku adalah eks-tapol, ini aku omongin ke semua orang. Aku ingin mengajak semua orang bahwa berkisah tentang sejarah keluarga adalah penting. Generasiku cuma mendengar cerita, sementara aku bertemu langsung. Yang aku lakukan paling tidak mulai mencari apa sebenarnya yang terjadi. Jadi buat generasi hari ini, ini yang penting,” tambahnya. 

Ia berkata kakek dan sejarah keluarganya adalah fondasi dari pilihan-pilihan hidupnya hari ini, termasuk bergiat dalam aktivitas mendalami sejarah dan sastra, khususnya sejarah kekerasan masa lalu. 

“Awalnya aku tidak menyadari itu, tapi semakin ke sini, aku meyakini, kesadaran sejarah itu lahir dari cerita-cerita kakekku.” Ia menambahkan, kesadaran historis adalah warisan pertama yang ia peroleh dari kakeknya dan berjejak hingga kini.  

“Setidaknya aku mulai berpikir secara historis bahwa keputusan yang diambil dalam hidup adalah merefleksikan itu. Keluargaku kayak gini dan aku mengambil keputusan hidup seperti apa.” 

adrx3017pm
Dhianita menjadi moderator diskusi “Sekali Peristiwa di Jakarta Timur, Pramoedya dan hal-hal lain”, dengan pembicara Linda Christanty, Okky Madasari, dan Hafiz Hamzah dari Jurnal Svara (Kuala Lumpur, Malaysia) pada 6 Desember 2025. (Project M/Adrian Mulya)
adrx9224pm
Dhianita bersama Martin Aleida mengisi sesi diskusi “Belajar Bersama International Peoples Tribunal (IPT) 65”. Pada sesi ini ia membahas karya sastra suara korban pasca-genosida 1965-1966 dan seperti apa perjuangan korban dalam menuntut keadilan. (Project M/Adrian Mulya)

Dhianita percaya masih banyak sekali yang bisa digali dari kekerasan politik 1965. Dan sejarah keluarga dari masing-masing keluarga korban dan penyintas bisa memberinya warna. 

“Pada dasarnya itu adalah sejarah. Sejarah ada yang besar banget, ada juga yang dibikin oleh orang yang punya kekuasaan, dan ada yang kecil-kecil, sejarah orang biasa,” katanya. 

“Aku bayangkan sejarah keluarga, kecil-kecil, adalah sambung-menyambung. Kita sedang butuh untuk menyambungkan. Peristiwa 60 tahun silam semakin berjarak dari generasi hari ini. Aku ingin agar seluruh cerita Mbah Wadi di masa lalu, tidak hanya menjadi milik saya. Aku ingin menyalurkan semangat perjuangan kepada anak muda agar melek sejarah dan memahami bangsanya sendiri.”


Ini adalah artikel dalam serial #TraumaLintasGenerasi yang mendokumentasikan kekerasan masa lalu yang dilakukan negara. Serial ini berfokus pada kisah-kisah personal terkait kejahatan kemanusiaan negara, dari sudut pandang generasi ketiga dan seterusnya. Serial ini adalah ruang untuk mencatat luka sebagai ruang pemulihan trauma di tengah pengabaian negara yang terus berupa menyembunyikan peran kejahatannya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.