Arina.id – Dunia berada di ambang komersialisasi massal penggunaan robot humanoid. Dua negara sudah memulai: China dan Amerika. Kedua negara raksasa ekonomi dan teknologi dunia itu baru-baru ini telah mengumumkan rencana produksi skala besar dalam beberapa bulan ke depan.
Banyak ilmuan sepakat bahwa telah terjadi perubahan drastis dalam pengembangan kemampuan robot humanoid selama lima tahun terakhir. Penyebabnya, selain karena suku cadang robot kian murah, juga disebabkan inovasi-inovasi baru mulai dari peningkatan daya baterai dan algoritme kecerdasan buatan, yang memungkinkan peningkatan persepsi dan kemandirian robot menjadi lebih baik.
Pada November 2025, perusahaan China UBTECH mengumumkan telah melakukan pengiriman massal robot humanoid pertama di dunia. “Lebih dari 1.000 humanoid model Walker S2 dikirim ke pabrik pada 2025,” kata Yu Zheng, seorang ahli robotika dan wakil dekan Institut Penelitian UBTECH di Shenzhen, seperti dikutip dari jurnal nature.com, Selasa 20 Januari 2026.
Humanoid putih-perak dapat berjalan secara mandiri dan stabil, mampu melakukan pengambilan dan pemindahan objek. “Tetapi penyebarannya masih pada tahap awal,” kata Zheng melanjutkan.
Pertanyaannya, apakah robot humanoid ini nanti bisa menghemat waktu atau anggaran perusahaan? Masih harus dilihat. Zheng menambahkan, ketika baterai dibatasi hingga berjam-jam dan banyak aktivitas masih membutuhkan operator manusia, beberapa orang sudah menggunakan boneka robot untuk menyelesaikan tugas mereka sambil mengumpulkan data sebagai literasi inovasi penyempurnaan di masa mendatang.
Namun peneliti lain memperingatkan tentang keterbatasan teknis dan pertimbangan faktor keselamatan penggunaan robot humanoid ini jauh dari siap dalam penggunaan secara umum di rumah maupun kantor.
“Mereka dapat melakukan mungkin satu atau dua hal secara mandiri, atau semi-otonom,” kata Esyin Chew, seorang ahli robotika di Cardiff Metropolitan University di Inggris, pengawas proyek yang melibatkan uji coba lebih dari 80 robot dalam pengaturan layanan dan perawatan kesehatan. “Tetapi mereka tidak dapat bereaksi terhadap masalah dunia nyata seperti otak manusia kita,” katanya.
Bagaimana revolusi AI akan mengubah robot?
Karya fiksi ilmiah telah lama mengilhami gagasan bahwa robot pada akhirnya akan datang dalam bentuk manusia, meskipun tipe tubuhnya pada dasarnya kompleks dan tidak stabil dibandingkan dengan robot statis atau berkaki empat yang sudah digunakan dalam industri. Hal itu disampaikan Oskar Palinko, seorang ahli robotika di University of Southern Denmark di Odense.
“Humanoid akan jatuh jika kehilangan kekuatan,” katanya, namun menggarisbawahi kalau robot humanoid memiliki keuntungan berfungsi di lingkungan yang diciptakan manusia. Ini secara teori dapat membuat humanoid menjadi “alat universal” yang dapat melakukan pekerjaan beberapa jenis mesin lainnya, kata Palinko.
Palinko melanjutkan, saat ini perkembangan robot humanoid mendekati sempurna dan real dibanding satu dekade yang lalu. Hal itu terjadi terutama setelah inovasi teknologi baterai yang lebih tahan saat setting bot selama berjam-jam, kemudian perkembangan aktuator yang lebih murah dan lebih tepat (mengubah listrik menjadi gerakan), penyempurnaan algoritma pembelajaran kecerdasan buatan (AI) dalam sistem kontrol robot.
Pengembang AI semakin berkembang memanfaatkan model generatif yang memungkinkan robot bisa ‘bernalar’ dan memahami dunia, serta mengilhami mereka dengan kemampuan untuk mempelajari tugas-tugas yang belum diprogram sebelumnya.
Penggunaan robot humanoid
Penggunaan robot humanoid pertama untuk pabrik mobil. Beberapa pengembang robotika AS, termasuk Boston Dynamics dan Tesla, menjalankan uji coba robot humanoid di pabrik industri perusahaan induk mereka. Industri otomotif merupakan tempat ideal untuk penerapan pembelajaran humanoid, demikian kata Carolina Parada, pemimpin tim robotika di Google DeepMind yang berbasis di Boulder, Colorado.
Pekan lalu ia mengumumkan kemitraan dengan Boston Dynamics. Pabrik mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan yang beragam dan kompleks dan “dalam lingkungan semi-terstruktur yang dibangun untuk robot”, katanya.
Zheng menambahkan, kini perusahaan-perusahaan otomotif menaruh harapan pada robot yang belajar di tempat kerja mereka. Ketika UBTECH Walker S2 gagal saat bekerja secara mandiri, operator jarak jauh cadangan mengambil alih, menyelesaikan tugasnya.
Proses ini sekaligus sebagai pengumpulan data untuk meningkatkan fungsionalitas robot di masa depan, kata Zheng. UBTECH dan Boston Dynamics menerapkan teknik yang sama di pusat pengumpulan data yang luas, di mana manusia mengoperasikan robot humanoid dari jarak jauh untuk mengajari mereka melakukan berbagai tugas.
Meskipun China dan Amerika Serikat memimpin dalam pengembangan humanoid, China tampaknya sangat siap untuk merangkul robot. Pabrik-pabrik di negara itu, Zheng menambahkan, bersedia membiarkan UBTECH menguji dan meningkatkan robot mereka di Pabrik.
“Saat ini efisiensi dan produktivitas robot humanoid mungkin tidak sebanding dengan pekerja manusia, dan pelanggan kami tahu itu dengan baik,” kata juru bicara UBTECH, sambil menegaskan “mereka (para pemilik pabrik) itu melihatnya sebagai sebuah permulaan.”





Comments are closed.