Sat,8 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Ganti Dolar

Ganti Dolar

ganti-dolar
Ganti Dolar
service
Dahlan Iskan
Dahlan Iskan

Oleh: Dahlan Iskan

Khayalan saya melayang jauh ke Ekuador ketika menonton tim sepak bola negara itu mengalahkan raksasa Eropa 2-1 di stadion New York New Jersey Kamis lalu. Ganti Dolar

Ekuador berpenduduk sebesar Malaysia. Negara itu terkena krisis moneter yang sama beratnya dengan Indonesia. Di tahun yang sama pula: 1998.

bank BJB

Yang juga sama: krisis moneternya berkomplikasi dengan krisis politik yang berat. Sampai presidennya dijatuhkan. Di Indonesia Soeharto, di Ekuador Jamil Mahuad.

Dua negara itu berbeda jalan dalam mengatasi krisis ekonomi politiknya. Indonesia pernah dalam keadaan bimbang yang panjang: antara mem-peg-kan rupiah ke dolar, atau membiarkan rupiah pakai kurs mengambang. Pasar uang sampai bingung ambil sikap.

Tanda-tanda rupiah akan di-peg (kurs rupiah dipatok tetap terhadap dolar) begitu kuat. Pak Harto sudah bertemu ahli ekonomi dunia yang menyarankan teori itu: Steve Hanke dari John Hopkin University, Amerika Serikat.

Tapi IMF menentang langkah itu. Pun Amerika. Banyak ahli ekonomi Indonesia sendiri yang tidak setuju. Pak Harto begitu bimbangnya saat itu. Mungkin karena Pak Harto sudah terlalu tua untuk mengambil keputusan tepat.

Anda sudah tahu: Pak Harto akhirnya ikut pendapat IMF. Kurs rupiah pun jatuh ke jurang. Orang panik. Satu dolar menjadi Rp17.000. Terjadi kerusuhan. Pak Harto pun jatuh.

Di lapangan saya lihat seluruh pemain bola Ekuador bekerja keras. Lawan mereka raksasa Jerman di Piala Dunia tahun 2026 ini. Tapi tim Ekuador lebih semangat. Mereka menyadari beda kelas.

Hanya tiga pemain Ekuador yang masuk level Liga Eropa: satu di Chelsea, Inggris, dan satu di PSG, Prancis. Ups…satu lagi di Sunderland, Inggris, yang cetak gol pertama ke gawang Jerman: Nelson Angulo. Sedang yang mencetak gol kemenangan adalah Gonzalo Plata yang bermain di Flamengo.

Perbedaan kelas itu ditutup oleh tim Ekuador dengan semangat. Ekuador dalam krisis: harus menang untuk bisa lolos dari krisis.

Semangat yang sama ditempuh Ekuador dalam mengatasi krisis ekonomi tahun 1998. Presiden Mahuad mengambil keputusan cepat yang penuh risiko saat itu: ia mengganti mata uang Ekuador, sucre, dengan dolar Amerika.

Pro-kontra luar biasa. Yang pro menganggap itulah jalan rasional untuk menstabilkan ekonomi yang sangat kacau. Yang kontra hanya mengandalkan alasan nasionalisme dan jati diri.

Jamil Mahuad didemo habis-habisan. Mahuad jatuh. Ia harus ditangkap. Ia dianggap melakukan kejahatan penyalahgunaan wewenang. Yang dianggap paling besar adalah: membekukan seluruh tabungan dan deposito masyarakat. Maksud baiknya: agar tidak terjadi rush –semua orang mengambil tabungan di bank. Tidak ada bank yang bisa bertahan kalau sudah di-rush. Apalagi sudah seperti di Indonesia: sudah puluhan bank di Ekuador yang tutup.

Ada krisis tambahan saat itu: Ekuador lagi dilanda El Nino. Panen gagal. Panen apa pun. Pohon-pohon pisang kering. Padahal ekspor pisang adalah andalan Ekuador. Negara itu persis Indonesia: berada di garis katulistiwa. Cuacanya, iklimnya, panasnya, hujannya, sama. Pun warna kulit penduduknya.

Ganti Dolar

Dahlan Iskan berada di tribun Stadion New York New Jersey saat menyaksikan pertandingan Ekuador melawan Jerman.–

Sepak bolanya yang lebih maju.

Presiden Mahuad jatuh karena menggantikan mata uang lokal menjadi dolar. Tapi presiden penggantinya, yang lebih nasionalis, ternyata tetap mempertahankan putusan Mahuad. Pun presiden-presiden setelahnya. Sampai sekarang. Sudah 25 tahun mata uang Ekuador sama dengan mata uang Amerika Serikat.

Maka para pemain sepa kbola Ekuador tidak perlu bingung dengan kurs. Tidak perlu kaget-kaget seperti saya: kok Amerika serbamahal begini ya –karena gaji dan otak saya masih rupiah.

Kini pendapatan perkapita Ekuador USD7.000 –Indonesia USD5.000. Sama-sama meningkat dibanding 25 tahun lalu. Hanya angka inflasi Ekuador tidak sampai satu persen. Harga-harga lebih stabil. Inflasi kita tiga persen.

Di mana presiden ”dola”’ Mahuad sekarang? “Apakah masih di dalam penjara?” tanya saya kepada orang Ekuador yang duduk di sebelah saya di stadion New York New Jersey.

Hari itu, di sekitar saya memang dipenuhi pendukung Ekuador.

Di sela-sela mereka ada pendukung Jerman, sedikit.

Hanya empat orang yang mendukung Persebaya.

Bonek Amerika yang ikut nribun nonton Piala Dunia 2026, Ekuador vs Jerman.–

“Siapa? Mahuad? Saya tidak tahu,” jawab penonton itu.

Lalu saya perhatikan wajahnya. Oh, terlalu muda untuk tahu peristiwa 25 tahun lalu.

Mahuad, waktu itu memang hanya dua tahun menjadi presiden. Berbeda dengan Pak Harto. Banyak orang Indonesia masih tahu siapa Pak Harto –apalagi sering diingatkan di tulisan di belakang bak truk: masih lebih enak zaman saya tho?

Berarti saya harus bertanya ke penonton yang lebih tua: apa kabar Mahuad sekarang.

Ternyata ia sudah tidak di penjara. Mahuad memang dijatuhi hukuman penjara 12 tahun, tapi saat putusan itu dijatuhkan Mahuad sudah di Amerika. Rupanya penguasa baru Ekuador tidak benar-benar ingin memenjarakan Mahuad. Ia sudah berada di Amerika sebelum ditangkap. Perkaranya pun disidangkan secara in absentia –tanpa kehadiran terdakwa.

Jangan-jangan Mahuad berada di stadion yang sama saat saya menyaksikan Ekuador lawan Jerman itu.

Saya sapukan pandangan saya ke seluruh stadion: saya tidak melihatnya karena saya memang tidak pernah tahu wajahnya. (Dahlan Iskan)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.