Indonesia masih bergantung energi fosil sebagai tulang punggung perekonomian dan sumber elektrifikasi. Indonesia harus serius menggencarkan transisi energi bersih bukan sebatas tetapkan target. Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), mengatakan, 85% pasokan energi Indonesia berasal dari energi fosil, seperti batubara, minyak, dan gas. Perekonomian Indonesia, juga tertopang dari ketiga industri ekstraktif itu, terutama batubara. Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor batubara terbesar dunia. Pada 2025 saja, total ekspor batubara sekitar 500 juta ton. “Hampir mungkin sekitar 40% dari total batubara yang diekspor dari seluruh dunia,” katanya dalam Podcast: Outlook Energi Indonesia 2026. Dengan struktur energi saat ini, emisi cenderung naik. Emisi batubara meningkat 27% dari 2019-2023, dari 315 juta ton jadi 399 juta ton pada 2023. Cadangan batubara pun makin menipis. Dalam dokumen Neraca Sumber Daya dan Cadangan Mineral dan Batubara Indonesia 2025, cadangan batubara Indonesia tercatat 31.955,50 juta ton. Hasil studi Publish What You Pay (PWYP) Indonesia memprediksi, batubara Indonesia akan habis dalam kurun waktu 30 hingga 50 tahun. Fabby menyoroti upaya-upaya pemerintah untuk kemandirian energi. Salah satunya mengganti atau mencampur (blending) LPG impor dengan dimethyl ether (DME). DME dari batubara melalui proses gasifikasi. Proses gasifikasi batubara menghasilkan CO₂ dalam jumlah besar, bahkan sebelum DME dibakar. Upaya lain, pemerintah mendorong biodiesel berbasis sawit (CPO FAME), yakni menjadikan etanol sebagai campuran bensin. Hal ini, katanya, akan mendorong deforestasi karena terjadi perluasan perkebunan sawit. Hutan Pahuwato yang hilang atas nama transisi energi. Foto: FWI Dia contohkan, pembukaan lahan perkebunan skala besar di Merauke untuk pasokan etanol. Padahal,…This article was originally published on Mongabay
Indonesia Harus Serius Beralih dari Energi Kotor
Indonesia Harus Serius Beralih dari Energi Kotor





Comments are closed.