Thu,11 June 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Keli Ako, Ikan Penghuni Akar Pohon di Lahan Basah Sungai Musi

Keli Ako, Ikan Penghuni Akar Pohon di Lahan Basah Sungai Musi

keli-ako,-ikan-penghuni-akar-pohon-di-lahan-basah-sungai-musi
Keli Ako, Ikan Penghuni Akar Pohon di Lahan Basah Sungai Musi
service

Sejak awal Januari 2026, hujan selalu singgah di turunan gajah –salah satu talang di Desa Tempirai, Kecamatan Penukal Abab Utara, Kabupaten PALI, Sumatera Selatan. Seperti biasa, air mulai meluap dan menenggelamkan hutan rawa yang berada di depan pondok Ibrahim Erpan (57), tokoh masyarakat Tempirai. “Sekarang paling cocok untuk mancing,” katanya, sembari mempersiapkan tujuh buah pancing yang terbuat dari stik bambu sepanjang satu meter. Satu persatu cacing mulai dikaitkan sebagai umpan. Sore itu, Ibrahim mengajak saya ngampan, mancing ikan ala masyarakat lahan basah di Tempirai. Cara ini paling tepat dilakukan saat hutan rawa mulai terendam air. Ikan-ikan tidak berkumpul di aliran sungai, tapi menyebar, bermain, bersembunyi, dan berkembang biak di hutan tepian sungai. Ibrahim berjalan menuju hilir sungai dengan sebilah parang, tanpa alas kaki. Dia menerobos rapatnya hutan rawa di tepian sungai. Ayunan parangnya membuka jalan menuju lorong-lorong hutan rawa. “Sepertinya sudah jarang orang ngampan di sini,” ujarnya. Langkahnya terhenti di sebuah pohon ketiau (Madhuca motleyana) berukuran sekitar satu pelukan orang dewasa. Jenis ini umum ditemukan pada zona transisi antara sungai dan tanah mineral di lanskap lahan basah. Kondisi air yang tidak terlalu asam seperti wilayah gambut, memungkinkan jenis-jenis pohon berkayu untuk tumbuh. Adaptasi akar napas juga memungkinkan mereka untuk tetap tumbuh subur, di lahan yang terendam air secara periodik. “Di dalam, di sela-sela akar seperti inilah biasanya tempat ikan berkumpul.” Dengan tangan kosong, dia menggali tanah gambut di sela akar pohon. Sebuah lubang terbentuk, dalamnya sekitar satu meter. Pancing bambu dibenamkan ke tanah. Begitu seterusnya. “Prinsip ngampan seperti memberi makan…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.