Mon,15 June 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Business
  3. Ketika Forum WEF Davos Bicara Ketahanan di Tengah Kegaduhan Trump

Ketika Forum WEF Davos Bicara Ketahanan di Tengah Kegaduhan Trump

ketika-forum-wef-davos-bicara-ketahanan-di-tengah-kegaduhan-trump
Ketika Forum WEF Davos Bicara Ketahanan di Tengah Kegaduhan Trump
service

KABARBURSA.COM — Di tengah hiruk-pikuk politik global yang kembali memanas, para pembuat kebijakan ekonomi dunia justru menyuarakan pesan yang bertolak belakang dengan suasana gaduh. Dari panggung World Economic Forum (WEF) Davos, mereka meminta negara dan pelaku usaha untuk tidak larut dalam konflik politik—terutama drama seputar pemerintahan Donald Trump—dan kembali fokus pada agenda yang lebih mendasar: pertumbuhan ekonomi dan pengurangan ketimpangan.

Dalam diskusi panel pada Jumat, 23 Januari 2026, pimpinan bank sentral, lembaga keuangan, dan organisasi perdagangan dunia sepakat bahwa ekonomi global menunjukkan daya tahan yang tak terduga. Ketua Bank Sentral Eropa Christine Lagarde, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva, dan Direktur Jenderal WTO Ngozi Okonjo-Iweala menilai bahwa di balik kebisingan politik, fondasi ekonomi dunia belum runtuh.

Namun, mereka juga mengingatkan bahwa bertahan saja tidak cukup. Resiliensi itu tetap terjadi meski dunia diguncang kebijakan perdagangan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump.

Sepanjang forum Davos, Trump sempat mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara-negara yang mendukung Greenland menghadapi upaya pengambilalihan oleh AS—ancaman yang kemudian ditarik kembali. Episode itu menambah panjang daftar ketidakpastian, tetapi menurut para panelis, tidak sampai mematikan arus perdagangan global.

Masalah sesungguhnya, kata mereka, justru terletak pada utang pemerintah yang menggunung dan ketimpangan yang makin menganga. Pertumbuhan ekonomi yang ada dinilai belum cukup kuat untuk menjawab dua tantangan besar itu.

Kristalina Georgieva menyinggung proyeksi terbaru IMF yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun ini sebesar 3,3 persen. Angka itu, menurutnya, terlihat menjanjikan—namun berbahaya jika membuat dunia terlena.

“Ini indah, tapi tidak cukup… jangan jatuh dalam rasa puas diri,” kata Georgieva, dikutip dari AP, Sabtu, 24 Januari 2026.

Ia menegaskan bahwa tingkat pertumbuhan tersebut belum mampu mengikis beban utang global yang terus menghantui banyak negara. Pemerintah, ujarnya, juga tidak boleh menutup mata terhadap kelompok masyarakat yang tertinggal.

“Pertumbuhan itu tidak cukup untuk menggerus ‘utang yang menggantung di leher kita’,” katanya. Pemerintah, lanjutdia, harus memastikan perlindungan bagi “mereka yang terjatuh dari gerbong” pembangunan.

Christine Lagarde menambahkan, dunia kini perlu bersiap menghadapi berbagai skenario. Menurutnya, kegaduhan politik yang terjadi selama sepekan di Davos justru menuntut kejernihan berpikir. “Kita harus melihat ke Rencana B, atau Rencana B-B lainnya,” kata Lagarde.

“Saya kira minggu ini penuh kebisingan… dan kita perlu membedakan antara sinyal dan kebisingan… kita seharusnya berbicara soal alternatif,” imbuhnya.

Lagarde juga menanggapi kritik tajam terhadap Eropa yang mengemuka di forum tersebut. Alih-alih defensif, ia justru menyambutnya sebagai cambuk. “Kita seharusnya berterima kasih kepada para pengkritik,” ujarnya, karena kritik itu menegaskan kebutuhan Eropa untuk memperbaiki iklim investasi dan mendorong inovasi.

Ia juga meredam dampak pidato kontroversial Perdana Menteri Kanada Mark Carney, yang menyebut pendekatan Trump sebagai sebuah “rupture” atau retakan terhadap tatanan internasional berbasis aturan, perdagangan, dan kerja sama—seraya menyatakan bahwa model lama itu “tidak akan kembali”.

Adapun Lagarde memilih menekankan saling ketergantungan global. “Dari sudut pandang ekonomi dan bisnis, kita saling bergantung satu sama lain,” katanya.

Sementara itu, Ngozi Okonjo-Iweala mengingatkan meskipun dunia dilanda apa yang ia sebut sebagai gangguan terbesar dalam 80 tahun, sistem perdagangan global belum runtuh. Data WTO menunjukkan bahwa 72 persen perdagangan dunia masih berlangsung di bawah aturan WTO, di mana negara-negara sepakat mengenakan tarif yang sama kepada semua mitra dagang.

“Ketahanan sudah tertanam dalam sistem, dan itu kini terlihat,” ujar Okonjo-Iweala. Meski begitu, ia mengakui, “Saya tidak berpikir kita akan kembali ke kondisi seperti sebelumnya.”

Georgieva menutup dengan refleksi historis yang bernuansa filosofis. Menurutnya, perdagangan global tidak pernah benar-benar berhenti, tapi hanya berubah bentuk.

“Kita selalu berdagang dan akan selalu berdagang. Perdagangan itu seperti sungai, seperti air. Anda pasang penghalang, ia akan mengalir mengitarinya. Ya, bentuknya akan berbeda, tapi akan selalu ada kebutuhan akan peran Dr. Ngozi untuk menjaga perdagangan dunia,” katanya.

Namun perubahan itu, kata Georgieva, bersifat permanen. “Berapa banyak dari Anda yang pernah menonton film The Wizard of Oz?… Kita sudah tidak lagi berada di Kansas.”

Pesan dari Davos pun menjadi jelas bahwa dunia tidak sedang runtuh, tetapi juga tidak bisa kembali ke masa lalu. Di tengah kegaduhan geopolitik, ekonomi global dituntut beradaptasi agar lebih inklusif, lebih produktif, dan lebih sadar bahwa stabilitas tanpa pertumbuhan yang adil hanyalah ilusi.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.