Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اِتَّقُوْ اللهَ، وَاعْمَلُوا الصَّالِحَاتِ وَاجْتَنِبُوا الْمُنْكَرَاتِ وَاذْكُرُوا اللهَ فِي أَيَّامٍ مَعْلُوْمَتٍ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kehidupan kepada kita semua. Allahlah yang menciptakan langit dan bumi dengan keseimbangan yang sempurna, menumbuhkan pepohonan dari tanah yang kering, mengalirkan sungai-sungai sebagai sumber kehidupan, serta menjadikan alam semesta sebagai tempat kita menjalani amanah kehidupan ini.
Sebagai wujud syukur, marilah kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya tercermin dalam ibadah ritual seperti sholat dan puasa, tetapi juga dalam sikap hidup kita terhadap sesama manusia dan terhadap lingkungan dan alam semesta.
Allah SWT berfirman dalam Al-Baqarah ayat 183:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Puasa yang kita jalani saat ini, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa adalah proses pendidikan ruhani yang melatih kesabaran, kesederhanaan, pengendalian diri, serta kesadaran akan nikmat Allah yang selama ini sering kita abaikan. Pendidikan yang didapat dari puasa ini sangat relevan untuk menguatkan kembali komitmen kita dalam merawat lingkungan dan alam.
Puasa Ramadan sesungguhnya mengandung nilai-nilai penting dalam membangun kesadaran ekologis. Ketika kita berpuasa, kita belajar menahan diri dari konsumsi berlebihan. Kita belajar bahwa manusia tidak harus selalu hidup dalam kemewahan dan pemborosan. Kita belajar merasakan lapar yang mungkin setiap hari dirasakan oleh orang lain. Puasa mengajarkan kesederhanaan. Puasa mengajarkan pengendalian diri. Puasa mengajarkan rasa syukur.
Perlu kita pahami bahwa salah satu penyebab kerusakan lingkungan hari ini adalah gaya hidup manusia yang berlebihan. Konsumsi yang tak terkendali, pemborosan sumber daya, serta eksploitasi alam tanpa batas.
Melalui puasa, Allah mendidik kita untuk kembali kepada keseimbangan. Kita diajarkan untuk tidak berlebihan dalam makan, minum, dan menggunakan nikmat Allah. Jika nilai-nilai puasa ini benar-benar kita hayati, maka puasa akan melahirkan manusia yang lebih bijak dalam menggunakan sumber daya alam, lebih peduli terhadap lingkungan, dan lebih sadar bahwa bumi ini adalah amanah yang harus dijaga.
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Di tengah berbagai krisis lingkungan yang terjadi saat ini seperti kerusakan hutan, pencemaran air, banjir, polusi udara, serta perubahan iklim, Islam telah memberikan panduan moral yang sangat kuat bagi kita untuk senantiasa menjaga keseimbangan alam.
Alam semesta ini bukan sekadar benda mati. Alam adalah ciptaan Allah yang sarat dengan makna spiritual, etis, dan religius. Langit yang terbentang luas, gunung yang menjulang tinggi, pepohonan yang tumbuh subur, serta sungai yang mengalir, semuanya adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang mengajak kita untuk berpikir dan bersyukur.
Semua ini juga mampu menjadi indikator level keimanan kita. Jika kita tidak tergetar hatinya sama sekali terhadap ciptaan Allah berupa alam yang menjadi tanda-tanda kekuasaan Allah, maka keimanan kita patut dipertanyakan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Anfal ayat 2:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ ٢
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah, gemetar hatinya dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal.”
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Dalam perspektif Islam, alam bukan sekadar objek yang boleh dieksploitasi tanpa batas. Alam adalah amanah dari Allah yang harus dijaga. Bukan hanya Islam, setiap agama pun memandang alam sebagai tanda kebesaran Allah yang harus dipelajari, dihormati, dan dilestarikan.
Dalam ajaran Islam, manusia disebut sebagai khalifah di bumi. Dengan amanah kekhalifahan ini berarti kita diberi tanggung jawab untuk merawat bumi, menjaga keseimbangannya, dan memastikan keberlangsungan kehidupan di dalamnya.
Karena itu, merusak lingkungan sejatinya adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah tersebut. Kerusakan lingkungan berarti melukai keseimbangan ciptaan Allah yang telah ditata dengan begitu sempurna.
Konsep inilah yang dalam bahasa modern saat ini sering disebut sebagai ekoteologi yakni kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan. Merawat alam bukan sekadar tindakan sosial atau kepedulian ekologis, tetapi juga wujud pengabdian kepada Allah.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Merawat lingkungan bukan hanya etika sosial, tetapi juga wujud nyata ibadah dan keimanan kita kepada Allah. Ketika kita menjaga air agar tidak tercemar, tidak membuang sampah sembarangan, menjaga hutan agar tidak rusak, serta menjaga bumi agar tetap lestari, sesungguhnya kita sedang menjalankan amanah Allah SWT.
Rasulullah telah mengingatkan kita untuk terus merawat alam sebagai sebuah ibadah:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا، أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا، فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ، وَلَا إِنْسَانٌ، إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ (رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ)
Artinya: “Tidaklah seorang Muslim menanam suatu tanaman atau menanam suatu biji-bijian, lalu dimakan oleh burung atau manusia, melainkan hal itu menjadi sedekah baginya,” (HR. Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu, mari kita jadikan puasa sebagai momentum untuk memperkuat kesadaran ini. Mari kita mulai dari hal-hal sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, tidak menyia-nyiakan makanan, menghemat air dan energi, serta menjaga lingkungan di sekitar kita. Karena menjaga bumi adalah menjaga amanah Allah.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ





Comments are closed.