Indonesia mungkin tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel, tetapi teknologi yang lahir dari pendudukan Palestina kini menyusup ke ruang demokrasi kita. Dari spyware Pegasus hingga sistem pengawasan lain, alat yang diuji pada masyarakat terjajah itu kini dipakai pemerintah untuk memetakan, memata-matai, dan membungkam warga di negeri sendiri. Dampaknya, demokrasi melemah dan rasa aman publik runtuh.
Antony Loewenstein menempatkan fenomena ini dalam sejarah panjang hubungan tersembunyi Indonesia–Israel sejak era Soeharto. Ia menilai warisan kedekatan itu masih terasa hari ini, terlihat dari pendekatan rezim Prabowo terhadap AS dan Israel serta kultur impunitas atas kekerasan negara, dari 1965 hingga Papua. Negara yang enggan mengakui masa lalunya, tegasnya, akan lebih mudah mengulang pola represif, termasuk mengadopsi teknologi yang dikembangkan dan dipakai untuk menindas populasi lain.
Di dunia pasca-9/11, istilah “terorisme” berubah menjadi senjata politik, dan media besar kerap menjadi corong kekuasaan. Di Indonesia, pola yang sama terlihat ketika kritik dibalas tuduhan makar dan teror. Antony Loewenstein mengamati media independen bertumbuh – seiring masyarakat meninggalkan media arus utama – dan berperan krusial dalam mempertahankan ruang demokrasi agar tidak kian menyempit.
Jurnalis/host: Ronna Nirmala
Produser: Ricky Yudhistira
Videografer: Abdil, Ricky Yudhistira
Fotografer: Ricky Yudhistira
Editor: Hafitz Maulana





Comments are closed.