Tue,11 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Legenda Asal Usul Batu Poaro, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara

Legenda Asal Usul Batu Poaro, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara

legenda-asal-usul-batu-poaro,-cerita-rakyat-dari-sulawesi-tenggara
Legenda Asal Usul Batu Poaro, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara
service

15 Juli 2026 18.59 WIB • 2 menit

Legenda Asal Usul Batu Poaro, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara | Pexels/mohd hasan


Batu Poaro adalah salah satu situs yang ada di Kelurahan Wameo, Kecamatan Batupoaro, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Konon ada sebuah cerita rakyat dari daerah Sulawesi Tenggara yang menceritakan tentang legenda asal usul Batu Poaro tersebut.

Menurut legendanya, batu ini merupakan tanda yang ditinggalkan oleh seorang ulama sakti di masa lalu. Batu ini menjadi pengingat sekaligus penanda atas sebuah kejadian yang pernah terjadi dulunya.

Simak kisah dari legenda asal usul Batu Poaro tersebut dalam artikel berikut ini.

Legenda Asal Usul Batu Poaro, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara

Dilihat dari buku Cerita Rakyat Buton dan Muna di Sulawesi Tenggara, diceritakan pada zaman dahulu Kesultanan Buton berada dalam masa jayanya. Kesultanan ini menjelma menjadi sebuah negeri yang makmur, aman, dan sentosa.

Pada suatu masa, datang seorang penyair dari tanah Arab ke daerah tersebut. Penyair tersebut bernama Syekh Abdul Wahid.

Penyair ini memiliki ketampanan yang di atas rata-rata. Setiap orang yang melihatnya akan terpesona dengan tampilan fisik dari Syekh Abdul Wahid tersebut.

Kedatangan Syekh Abdul Wahid ini disambut dengan tangan terbuka oleh Sultan Buton. Sang sultan menerima Syekh Abdul Wahid sebagai tamu kehormatan di istana.

Sang penyair pun ditempatkan di sebuah kamar yang pintunya menghadap tangga menuju loteng. Loteng sendiri merupakan tempat istri serta selir-selir tertinggi sultan beristirahat.

Pada suatu hari, Syekh Abdul Wahid beraktivitas seperti biasa. Selain menjadi tamu, penyair tersebut juga menyebarkan ajaran agama Islam yang dia bawa dari tanah Arab.

Setelah beraktivitas seharian, Syekh Abdul Wahid kemudian kembali ke kamarnya. Di sana dia pun membersihkan badan dan mandi begitu sampai di kamar.

Saat selesai mandi, Syekh Abdul Wahdi tanpa sengaja menengadah ke arah loteng. Ternyata mata Syekh Abdul Wahid bertatapan langsung dengan mata istri sultan.

Istri sultan terpaku layaknya tersihir saat itu juga. Matanya tertuju pada ketampanan Syekh Abdul Wahid.

Tiba-tiba istri sultan langsung jatuh hati pada Syekh Abdul Wahid. Dirinya langsung melemparkan sapu tangan ke arah Syekh Abdul Wahid.

Hal ini langsung diketahui oleh sang sultan. Amarah sultan langsung meledak karena menduga Syekh Abdul Wahid sudah menggoda istrinya.

Sultan kemudian memerintahkan pengawalnya membawa Syekh Abdul Wahid ke hadapannya. Tanpa pikir panjang, sang sultan langsung menjatuhkan hukuman pada Syekh Abdul Wahid.

Sang penyair dihukum untuk dibuang ke laut. Pengawal terpilih pun diperintahkan untuk membawa Syekh Abdul Wahid.

Namun keajaiban tiba-tiba terjadi. Saat perahu sudah pergi jauh ke lautan, tiba-tiba Syekh Abdul Wahid terlihat berjalan dengan santai di tepi pantai.

Melihat hal ini, sang sultan kembali memerintahkan pengawalnya untuk membawa Syekh Abdul Wahid ke lautan. Syekh Abdul Wahid kembali dibawa ke laut seperti perintah sang sultan.

Namun kejadian serupa kembali terulang. Ketika perahu sudah menjauh ke laut, tiba-tiba Syekh Abdul Wahid kembali berjalan dengan santai di tepi pantai.

Kejadian serupa terus berulang sebanayak tujuh kalinya. Hingga saat kali ketujuh, Syekh Abdul Wahid berkata bahwa dia akan kembali ke tanah Arab dan meninggalkan daerah itu.

Sebelum pergi, Syekh Abdul Wahid meninggalkan sebuah tanda di sana. Tanda ini menjadi pengingat jika di sana pernah terjadi ketidakadilan yang menghakimi orang tidak bersalah.

Setelah itu, Syekh Abdul Wahid mengembangkan sorban putihnya. Dalam sekejap, Syekh Abdul Wahid terbang dengan sorbannya dan kembali ke daerah asalnya.

Konon tanda yang ditinggalkan oleh Syekh Abdul Wahid inilah yang menjadi asal usul Batu Poaro. Batu ini juga menjadi tanda penyebaran agama Islam di daerah Buton dulunya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.