Ada nama-nama dalam sejarah yang tidak pernah benar-benar pergi. Ia tidak lagi hidup sebagai peristiwa, tetapi sebagai bayangan. Ia hadir di buku pelajaran, pidato kenegaraan, mural kota, dan imajinasi kolektif yang diwariskan tanpa banyak pertanyaan. Majapahit adalah salah satu nama itu. Ia tidak sekadar kerajaan masa lampau, tetapi janji tentang kejayaan yang terus kita panggil kembali setiap kali masa kiwari terasa rapuh.
Dalam konteks inilah buku Majapahit: Intrik, Pengkhianatan, dan Peperangan di Kerajaan Terbesar Indonesia (Kepustakaan Populer Gramedia, 2025) karya sejarawan Herald van der Linde menjadi penting. Bukan karena ia menawarkan kisah heroik anyar, melainkan karena ia dengan tenang bertanya apakah kejayaan itu pernah sesederhana yang kita bayangkan.
Van der Linde tidak menulis Majapahit sebagai monumen yang berdiri utuh dan megah. Ia menulisnya sebagai lanskap yang berubah-ubah. Sebuah dunia politik dan budaya nan cair, penuh negosiasi, konflik, ritual, dan tafsir. Buku ini tidak memanjakan nostalgia. Ia justru mengusik kenyamanan pembaca yang terbiasa memandang Majapahit sebagai simbol persatuan nasional pramodern. Dalam bahasa yang tenang dan argumentasi yang ketat, van der Linde mengajak kita memahami bahwa Majapahit bukanlah negara bangsa sebelum waktunya, melainkan sebuah proses historis yang kompleks dan tidak selalu stabil.
Majapahit terasa relevan bukan hanya bagi sejarawan, tetapi bagi siapa pun yang hidup di Indonesia hari ini. Sebab pertanyaan tentang Majapahit pada akhirnya adalah pertanyaan tentang kita sendiri. Ihwal bagaimana kita membangun identitas nasional. Tentang masa silam seperti apa yang kita pilih untuk dirayakan. Dan perihal kerapuhan apa yang kita tutupi dengan cerita kejayaan.
Van der Linde membuka pembahasannya dengan sikap hati-hati terhadap sumber. Pararaton, Nagarakretagama, kidung, dan kronik Jawa tidak diperlakukan sebagai laporan faktual nan netral. Ia membacanya sebagai teks yang ditulis dalam konteks kekuasaan tertentu. Teks yang memiliki fungsi ritual, legitimasi, dan simbolik. Dengan pendekatan ini, Majapahit tidak lagi tampil sebagai kerajaan yang memiliki kontrol teritorial luas sebagaimana peta nasionalisme modern sering melukiskannya. Kekuasaan Majapahit, menurut van der Linde, lebih bersifat relasional. Ia bekerja melalui jaringan elit, ikatan dinasti, dan pengakuan simbolik, bukan melalui birokrasi terpusat yang seragam.
Argumen ini mengguncang cara populer kita meneroka sejarah. Selama ini Majapahit sering diproyeksikan sebagai cikal bakal Indonesia. Sebuah kerajaan yang dianggap telah menyatukan Nusantara sebelum kolonialisme datang. Van der Linde tidak sepenuhnya menolak pengaruh luas Majapahit, tetapi ia menolak penyederhanaan. Ia menunjukkan bahwa konsep kekuasaan pada abad ketiga belas hingga kelima belas berbeda secara mendasar dari konsep negara modern. Mengukur Majapahit dengan ukuran nasionalisme abad kedua puluh adalah anakronisme yang nyaman tetapi menyesatkan.
Di sinilah kekuatan reflektif buku ini terasa. Van der Linde tidak hanya menulis tentang masa lalu. Ia secara implisit mengajak pembaca merenungkan bagaimana masa lalu digunakan. Majapahit menjadi cermin bagi kebutuhan psikologis bangsa modern. Ketika identitas nasional terasa goyah, kita mencari jangkar historis. Tatkala pluralitas terasa melelahkan, kita memanggil kembali imaji persatuan masa lalu. Buku ini mengingatkan bahwa imaji itu dibangun melalui seleksi, penekanan, dan penghapusan.
Salah satu bagian paling menarik dari buku ini adalah pembahasan tentang agama dan kosmologi politik. Van der Linde menunjukkan bahwa sinkretisme Siwa Buddha di Majapahit bukan sekadar toleransi religius. Ia adalah bahasa kekuasaan. Raja diposisikan sebagai figur kosmik yang menjembatani dunia manusia dan dunia ilahi. Ritual dan simbol keagamaan menjadi sarana legitimasi yang kuat. Kekuasaan tidak hanya dijalankan melalui kekuatan militer atau ekonomi, tetapi melalui makna.
Pembacaan ini penting bagi Indonesia kontemporer. Kita hidup di negara yang terus bernegosiasi dengan agama dalam ruang publik. Perdebatan tentang peran agama sering dipahami sebagai konflik modern. Buku ini menunjukkan bahwa relasi antara agama dan kekuasaan telah lama menjadi bagian dari tradisi politik Nusantara. Namun van der Linde juga mengingatkan bahwa agama dalam konteks Majapahit tidak dapat dipisahkan dari struktur elit. Ia bukan suara rakyat jelata yang bebas dari kepentingan, melainkan bagian dari arsitektur legitimasi.
Dimensi liyan yang kerap terabaikan dalam narasi besar Majapahit adalah peran perempuan. Van der Linde memberi perhatian khusus pada posisi perempuan dalam aliansi dinasti dan suksesi politik. Ia menunjukkan bahwa perempuan bukan sekadar figur pendamping, tetapi aktor penting dalam menjaga kesinambungan kekuasaan. Pernikahan, garis keturunan, dan simbol kesucian perempuan memainkan peran strategis dalam politik Majapahit.
Pembacaan ini menantang historiografi lama yang maskulin dan militeristik. Ia juga relevan bagi perdebatan identitas nasional hari ini yang masih sering menempatkan perempuan di pinggiran narasi sejarah. Dengan mengangkat kembali peran perempuan Majapahit, buku ini mengingatkan bahwa masa lalu Indonesia tidak sesempit yang sering diajarkan.
Van der Linde juga menolak narasi kejatuhan Majapahit sebagai peristiwa tunggal yang dramatis. Tidak ada satu tanggal sakral ketika kerajaan runtuh dan digantikan oleh Islam atau kekuatan baru. Yang ada adalah proses panjang transformasi. Perubahan jalur perdagangan, pergeseran pusat ekonomi, fragmentasi elit, dan munculnya kekuatan regional baru secara perlahan mengubah lanskap politik Jawa. Islamisasi, dalam pembacaan ini, bukanlah pemutusan total, melainkan kelanjutan dengan bentuk berbeda.
Argumen ini penting karena ia menolak logika biner yang sering mendominasi wacana identitas. Lama dan baru. Hindu Buddha dan Islam. Jawa dan luar Jawa. Van der Linde menunjukkan bahwa sejarah bekerja melalui tumpang tindih, bukan penggantian mutlak. Pemahaman semacam ini sangat dibutuhkan dalam konteks Indonesia hari ini yang kerap terjebak dalam polarisasi identitas.
Tentu saja pendekatan kritis ini tidak bebas dari risiko. Ada pembaca yang mungkin merasa bahwa dekonstruksi semacam ini melemahkan kebanggaan nasional. Jika Majapahit tidak sebesar yang kita bayangkan, lalu apa yang tersisa dari narasi persatuan Nusantara. Van der Linde menyadari kegelisahan ini. Akan tetapi ia tampaknya percaya bahwa identitas yang sehat tidak dibangun di atas mitos yang rapuh. Ia dibangun di atas pemahaman yang jujur tentang kompleksitas masa silam.
Arkian, buku yang diterjemahkan oleh Arif Bagus Prasetyo ini mengajarkan bahwa kekuatan suatu bangsa tidak terletak pada kesempurnaan masa lalunya, tetapi pada kemampuannya membaca sejarah dengan kedewasaan. Majapahit tidak perlu dipuja sebagai altar. Ia lebih berguna sebagai cermin. Cermin yang menunjukkan bahwa kekuasaan selalu lahir dari negosiasi. Bahwa persatuan selalu rapuh. Identitas selalu merupakan hasil perbincangan panjang antara ingatan dan harapan.
Membaca Majapahit karya van der Linde di tengah perdebatan identitas nasional Indonesia hari ini terasa seperti diajak berhenti sejenak dari teriakan politik. Buku ini tidak menawarkan slogan. Ia menawarkan kesabaran intelektual. Ia mengajak pembaca duduk bersama teks, prasasti, dan artefak, lalu bertanya dengan jujur apa yang sebenarnya kita cari ketika menyebut nama Majapahit.
Jawabannya mungkin tidak semenjana. Kita mencari legitimasi. Kita mencari kontinuitas. Kita mencari alasan untuk percaya bahwa keberagaman dapat disatukan tanpa kekerasan. Van der Linde tidak merampas harapan itu. Ia hanya mengingatkan bahwa harapan tidak boleh dibangun di atas penyederhanaan.
Pada akhirnya buku ini adalah undangan untuk berdamai dengan masa lalu yang tidak rapi. Majapahit tidak selalu agung. Ia penuh konflik. Ia sarat intrik. Ia hidup dari kompromi. Walakin justru di situlah letak nilainya bagi Indonesia hari ini. Sebuah bangsa yang majemuk tidak membutuhkan mitos kesempurnaan. Ia membutuhkan tradisi berpikir yang mampu menampung ketidaksempurnaan.
Majapahit karya Herald van der Linde layak dibaca perlahan. Bukan untuk mencari kebanggaan instan, tetapi untuk membangun kedewasaan historis. Dalam dunia yang terus mencari identitas dengan cara lajak, buku ini mengingatkan bahwa sejarah menuntut waktu, kerendahan hati, dan keberanian untuk tidak selalu merasa benar.
Majapahit, dalam pembacaan van der Linde, tidak pernah benar-benar maherat. Ia hidup dalam cara kita membayangkan diri sebagai bangsa. Pertanyaannya bukan apakah Majapahit pernah jaya. Pertanyaannya adalah apakah kita siap membangun identitas nasional yang tidak bergantung pada bayangan kejayaan, tetapi pada kemampuan memahami kompleksitas sejarah kita sendiri.
Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.




Comments are closed.