Hari ini, 23 Januari 2026, Prof. Dr. (H.C.) Hj. Megawati Soekarnoputri genap berusia 79 tahun. Ia lahir di Yogyakarta, 23 Januari 1947, dengan nama lengkap Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri—sebuah nama yang sejak awal memanggul sejarah, sekaligus takdir panjang pengabdian kepada bangsa. Pada usia ini, waktu tidak sekadar menambah angka, melainkan menyempurnakan laku: keteguhan yang matang, kesabaran yang dalam, dan kebijaksanaan yang meneduhkan.
Ulang tahun ke-79 ini bukan semata perayaan personal. Ia adalah momentum syukur kolektif bagi jutaan kader dan simpatisan PDI Perjuangan, bahkan bagi banyak warga bangsa, yang memanggilnya dengan satu sebutan sederhana namun sarat makna: Ibu. Panggilan itu lahir bukan dari formalitas politik, melainkan dari pengalaman batin—pengalaman diasuh oleh keteladanan yang tidak riuh, tetapi konsisten.
Ada cara memimpin yang tidak mengejar sorak-sorai. Tidak larut dalam gemerlap kekuasaan. Cara itu lebih menyerupai laku—pelan, tekun, dan setia. Dari situlah Megawati menjalani perannya dalam sejarah Indonesia: bukan sekadar memimpin, melainkan merawat pertiwi. Ia hadir tidak selalu dengan pidato panjang, tetapi dengan sikap. Tidak selalu di depan kamera, tetapi terasa di ruang batin mereka yang bekerja bersamanya.
Keibuan Megawati bukanlah romantisme. Ia lahir dari pengalaman sejarah yang keras—masa disingkirkan, menunggu dalam kesunyian, hingga akhirnya memikul amanah sebagai Presiden ke-5 Republik Indonesia (2001–2004). Dari jalan terjal itulah tumbuh kebijaksanaan yang tidak meledak-ledak, tetapi kokoh. Ia mengajarkan bahwa politik bukan sekadar soal menang dan kalah, melainkan kesetiaan pada nilai, keberanian menjaga prinsip, dan kesabaran merawat harapan rakyat.
Sebagai putri Proklamator Bung Karno, Megawati mewarisi sekaligus menghidupkan ajaran Trisakti: berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Prinsip ini tidak ia simpan sebagai slogan masa lalu, melainkan dijadikan kompas moral masa depan. Dalam berbagai pidato, ia berulang kali menegaskan bahwa pembangunan Indonesia harus berpijak pada kedaulatan rakyat dan keberlanjutan alam, sebab tanpa alam yang lestari, keadilan sosial hanya akan menjadi janji kosong bagi generasi mendatang.
Di sinilah makna merawat pertiwi menemukan kedalamannya. Bagi Megawati, Indonesia bukan sekadar wilayah administratif, melainkan rumah bersama. Tanah, air, manusia, dan kebudayaan adalah satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan. Karena itu, kepeduliannya pada lingkungan hidup, pertanian berkelanjutan, dan kedaulatan pangan bukanlah wacana sesaat. Ia berulang kali mengingatkan bahwa bumi Indonesia bukan warisan yang boleh dihabiskan, melainkan titipan yang wajib dijaga. Cinta tanah air, baginya, bukan sekadar simbol, tetapi laku etis dalam memperlakukan alam dan sesama manusia.
Namun merawat pertiwi tidak berhenti pada alam. Ia juga berarti merawat manusia Indonesia, terutama mereka yang kerap terpinggirkan oleh arus besar pembangunan. Keberpihakan pada wong cilik—istilah yang kerap ia ucapkan—bukan retorika politik. Ia adalah sikap yang berakar pada empati. Dalam laku keibuannya, Megawati memandang rakyat bukan sebagai angka statistik, melainkan sebagai subjek yang harus dilindungi martabatnya.
Keibuan itu terasa kuat dalam cara ia memimpin PDI Perjuangan. Bagi jutaan kader, Megawati bukan hanya ketua umum, melainkan ruang pulang. Di tengah kerasnya dinamika politik, ada keteduhan yang mengingatkan bahwa bekerja politik sejatinya adalah kerja merawat harapan rakyat kecil. Ia mendidik dengan keteladanan, menegur dengan ketegasan yang terukur, dan memberi kepercayaan tanpa melepaskan nilai. Ia memahami bahwa kaderisasi bukan sekadar regenerasi struktural, melainkan proses pewarisan etika dan karakter. Jabatan boleh berganti, tetapi nilai harus tinggal.
Perhatiannya pada sejarah dan kebudayaan juga merupakan bagian dari laku merawat pertiwi. Bagi Megawati, sejarah bukan nostalgia, melainkan sumber kesadaran moral. Bangsa yang tercerabut dari ingatan sejarah akan mudah kehilangan arah. Karena itu, nasionalisme yang ia rawat bukan nasionalisme yang sempit dan menyingkirkan, melainkan nasionalisme yang berkeadaban—menghormati keberagaman, menolak politik kebencian, dan menjunjung tinggi kemanusiaan. Indonesia, dalam pandangannya, tidak dibangun dari keseragaman, tetapi dari kesanggupan hidup bersama dalam perbedaan.
Di usia 79 tahun, wajah kepemimpinan Megawati menampilkan kematangan yang utuh. Tidak tergesa, tidak reaktif. Ia memilih merawat kesinambungan—menyemai kaderisasi, menumbuhkan kepemimpinan kolektif, dan menjaga api ideologi tetap menyala tanpa membakar. Seperti seseorang yang merawat kebun, ia tahu kapan harus menyiram, kapan memangkas, dan kapan membiarkan tanaman tumbuh dengan caranya sendiri.
Hari-hari ini, ketika politik sering terjebak pada kecepatan, citra, dan kegaduhan, laku Megawati terasa kontras. Ia mengingatkan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dipercepat: membangun karakter bangsa, merawat alam, dan menanam nilai. Semua itu membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan keberanian untuk setia pada prinsip—sikap yang justru kian langka.
Maka, menyebut Megawati Soekarnoputri adalah menyebut sebuah jalan hidup. Jalan yang memilih merawat daripada menguasai. Jalan yang percaya bahwa kekuasaan sejati terletak pada kemampuan menjaga, bukan menghabiskan. Dalam laku itulah pertiwi dirawat, dan nilai-nilai kebangsaan diwariskan.
Di hari lahirnya yang ke-79 ini, ucapan selamat ulang tahun adalah juga ungkapan terima kasih. Terima kasih atas keteguhan yang tidak berisik. Terima kasih atas kesabaran yang panjang. Terima kasih atas keyakinan bahwa politik masih bisa dijalani dengan nurani, kebudayaan, dan cinta pada bumi pertiwi.
Selamat ulang tahun ke-79, Ibu Megawati. Semoga kesehatan, ketenangan, dan kejernihan batin senantiasa menyertai. Dan semoga laku merawat pertiwi yang telah Ibu teladankan terus menjadi pelita bagi perjalanan Indonesia ke depan.
Wibowo Prasetyo
Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan





Comments are closed.