Mon,15 June 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Mencari Jejak Burung Migran dengan Suara

Mencari Jejak Burung Migran dengan Suara

mencari-jejak-burung-migran-dengan-suara
Mencari Jejak Burung Migran dengan Suara
service

Bagi para peneliti burung migran, kehadiran ribuan spesies burung yang melintasi sejumlah benua setiap tahunnya selalu menjadi tantangan tersendiri untuk dipantau. Metode observasi langsung sering terbatas oleh waktu, tenaga, dan faktor alam seperti aktivitas burung yang banyak terjadi, misalkan di malam hari. Namun, sebuah pendekatan inovatif kini semakin menunjukkan manfaatnya, yakni Pemantauan Akustik Pasif (Passive Acoustic Monitoring/PAM) atau yang dikenal dengan pendekatan bioakustik untuk memantau satwa liar, termasuk burung migran. Dalam sebuah proyek kolaborasi internasional bernama Locally-led East Asian Flyway Acoustics (LEAFA) yang diinisiasi Cornell Lab of Ornithology, Cornell University, para peneliti lintas negara;  Kamboja, Taiwan, Filipina, Malaysia, dan Indonesia, menerapkan metode ini. Asman Adi Purwanto, Direktur Eksekutif BISA Indonesia, yang juga Lead Coordinator Project LEAFA untuk lima negara tersebut, melakukan riset burung migran menggunakan bioakustik. Menurut Asman, bioakustik merupakan pendekatan baru untuk penelitian satwa liar, bukan hanya burung migran. Metode ini berupa perangkat perekam akustik yang dipasang di lokasi-lokasi strategis, tempat persinggahan burung migran. Khususnya, burung pantai di Jalur Migrasi Asia Timur (East Asian Flyway). “Alat ini dapat merekam suara otomatis 24 jam serta dapat diatur, misalkan mulai dua minggu hingga satu bulan. Tujuannya, mendeteksi awal kehadiran burung-burung migran, jenis apa saja yang ada, durasi keberadaan, vokalisasi hingga perilakunya,” terangnya kepada Mongabay Indonesia, awal Desember 2025. Keunggulan utama metode ini adalah kemampuannya mengumpulkan data spasio-temporal (ruang dan waktu) secara berkelanjutan, tanpa kehadiran fisik pengamat setiap hari. Hal ini memungkinkan pemantauan lebih komprehensif dan efisien. Setelah periode pemasangan, data suara “dipanen” dan dianalisis untuk mengidentifikasi spesies berdasarkan panggilan khasnya. “Selama pemantauan kami di Muara Sungai Progo, Yogyakarta,…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.