Tue,14 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Mengapa Burung Kuntul Srondol, Ikon Semarang Nyaris Tinggal Kenangan?

Mengapa Burung Kuntul Srondol, Ikon Semarang Nyaris Tinggal Kenangan?

mengapa-burung-kuntul-srondol,-ikon-semarang-nyaris-tinggal-kenangan?
Mengapa Burung Kuntul Srondol, Ikon Semarang Nyaris Tinggal Kenangan?
service

Pohon asam Jawa di sekitar Markas Batalyon Infanteri Raider 400 Semarang, Jawa Tengah,  itu tampak rindang. Cahaya matahari senja yang keemasan sesekali menerobos di sela pepohonan itu. Dulu, menurut cerita warga sekitar, deretan pohon asam Jawa itu adalah ‘rumah’ bagi kawanan burung kuntul srondol. Pulang saat senja dan kembali pergi saat matahari merekah di pagi hari. Entah apa musabab, belakangan pemandangan itu tak pernah ada lagi. Lantas, kemana perginya kawanan burung yang menjadi ikon Kota Semarang itu? Suparti, pemilik warung kopi tak jauh dari lokasi tak tahu pasti apa yang menjadi sebab burung-burung itu pergi. Perempuan 50 tahun itu masih ingat, dulu ketika  remaja, kawanan burung itu menjadi pemandangan sehari-hari,  datang, hinggap dan pergi. “Ya itu, sejak pembangunan dan kota makin padat. Lahan sawah semakin berkurang mungkin  pergi,” katanya. Era 1990-an kawanan burung bermarkas di Markas Yonif. Para tentara disana kompak melindungi spesies yang pernah menjadi ikon kota itu dengan melarang  perburuan. Meski tidak tertulis, warga pun mengetahui peraturan itu. Yanto, warga Srondol Kulon  juga teman sepermainan Suparti ikut menimpali. Saat dia masih muda dulu, deretan pohon asam Jawa itu berjajar lebat di sepanjang kanan kiri jalan. Sekarang, hanya tersisa di bagian Markas Yonif saja. “Ya,  burung itu seperti kita manusia, pagi berangkat kerja dan sore pulang. Mereka gitu polanya. Pagi cari makan, senja balik pulang ke markas untuk tidur,” kenangnya. Jika  warga melewati kawasan itu, biasa selalu berkelakar ‘awas dapat rejeki’. Maksudnya  jika lewat area itu sering terkena kotoran burung, termasuk dia  juga pernah mengalami. “Dulu,  naik sepeda dapat…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.