Pohon asam Jawa di sekitar Markas Batalyon Infanteri Raider 400 Semarang, Jawa Tengah, itu tampak rindang. Cahaya matahari senja yang keemasan sesekali menerobos di sela pepohonan itu. Dulu, menurut cerita warga sekitar, deretan pohon asam Jawa itu adalah ‘rumah’ bagi kawanan burung kuntul srondol. Pulang saat senja dan kembali pergi saat matahari merekah di pagi hari. Entah apa musabab, belakangan pemandangan itu tak pernah ada lagi. Lantas, kemana perginya kawanan burung yang menjadi ikon Kota Semarang itu? Suparti, pemilik warung kopi tak jauh dari lokasi tak tahu pasti apa yang menjadi sebab burung-burung itu pergi. Perempuan 50 tahun itu masih ingat, dulu ketika remaja, kawanan burung itu menjadi pemandangan sehari-hari, datang, hinggap dan pergi. “Ya itu, sejak pembangunan dan kota makin padat. Lahan sawah semakin berkurang mungkin pergi,” katanya. Era 1990-an kawanan burung bermarkas di Markas Yonif. Para tentara disana kompak melindungi spesies yang pernah menjadi ikon kota itu dengan melarang perburuan. Meski tidak tertulis, warga pun mengetahui peraturan itu. Yanto, warga Srondol Kulon juga teman sepermainan Suparti ikut menimpali. Saat dia masih muda dulu, deretan pohon asam Jawa itu berjajar lebat di sepanjang kanan kiri jalan. Sekarang, hanya tersisa di bagian Markas Yonif saja. “Ya, burung itu seperti kita manusia, pagi berangkat kerja dan sore pulang. Mereka gitu polanya. Pagi cari makan, senja balik pulang ke markas untuk tidur,” kenangnya. Jika warga melewati kawasan itu, biasa selalu berkelakar ‘awas dapat rejeki’. Maksudnya jika lewat area itu sering terkena kotoran burung, termasuk dia juga pernah mengalami. “Dulu, naik sepeda dapat…This article was originally published on Mongabay
Mengapa Burung Kuntul Srondol, Ikon Semarang Nyaris Tinggal Kenangan?
Mengapa Burung Kuntul Srondol, Ikon Semarang Nyaris Tinggal Kenangan?





Comments are closed.