Sun,24 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Mengelola MBG di Pesantren Beralas Tradisi Mayoran

Mengelola MBG di Pesantren Beralas Tradisi Mayoran

mengelola-mbg-di-pesantren-beralas-tradisi-mayoran
Mengelola MBG di Pesantren Beralas Tradisi Mayoran
service

Di pesantren, bunyi centong beradu dengan dandang adalah panggilan kebudayaan. Setelah terdengar aba-aba, para santri segera bergerak bersama membawa nampan besar. Pada zaman terdahulu, daun pisang adalah alas terbaik. Mereka duduk melingkar. Menunggu nasi. Lauk seadanya. Menyantap tanpa sendok apalagi garpu. Berbaur, hangat suasana persis nasi yang baru ditumpahkan dari kuali besar. Tradisi itu disebut mayoran. 

Mayoran bukan sekadar makan bersama, melainkan bagian dari tata laku kehidupan pesantren. Dari mayoran, santri belajar berbagi, menunggu sahabat, menahan diri, dan menghabiskan makanan tanpa menyisakan apa pun. Tidak ada meja khusus. Tidak ada lauk istimewa untuk golongan tertentu. Anak kiai, anak petani, turunan pejabat atau ningrat, duduk pada lantai yang sama. Bahkan santri yunior bisa langsung menyelinap masuk dalam lingkaran. Di pesantren, makanan bukan hanya urusan perut. Ia adalah adab.

Karena itu mayoran selalu meninggalkan kenangan batin yang panjang. Santri mungkin sudah lupa apa menu makanannya, tetapi tidak pada suasananya; seperti rebutan nasi yang panas di mulut dan di tangan, rebutan kerupuk yang akhirnya malah hancur, suara tawa selepas makan, atau obrolan ringan melepas lelah setelah ngaji seharian.

Mayoran lahir dari kesederhanaan. Ia adalah cara pesantren menyiasati keterbatasan. Ketika lauk sedikit, kebersamaan membuat semuanya terasa cukup. Ketika fasilitas sederhana, rasa guyub menjadi penguat kehidupan pondok. Tetapi zaman berubah. Pesantren hari ini tidak lagi seluruhnya hidup dalam keterbatasan seperti dulu. Banyak pesantren berkembang besar, memiliki ribuan santri, unit usaha, dapur modern, bahkan sistem manajemen yang maju. Di titik itulah muncul pertanyaan menarik, mungkinkah semangat mayoran bertemu dengan program MBG?

Dari Mayoran menuju MBG Khas Pesantren

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sesungguhnya memiliki titik temu yang kuat dengan kultur pesantren. Keduanya sama-sama berbicara tentang makan bersama, pemerataan, dan perhatian terhadap generasi mendatang. Namun pesantren bisa memberi warna yang khas. Jika mayoran dahulu lahir untuk menyiasati “yang tidak ada”, maka MBG khas pesantren bisa menjadi cara mengelola “yang sudah ada”. Dari sekadar bertahan hidup menuju membangun kualitas hidup.

Karena itu MBG di pesantren tidak cukup hanya membagikan makanan. Ia perlu disusun sebagai kultur makan yang sehat, tertib, dan tetap berciri khas pesantren. Model prasmanan misalnya, bisa menjadi bentuk baru mayoran modern. Santri tetap makan bersama, tetapi dengan pengaturan gizi yang lebih baik. Nasi, sayur, protein, buah, dan susu ditata rapi. Santri mengambil secukupnya sesuai kebutuhan dan aturan. Tradisi kebersamaan tetap hidup, tetapi kualitas nutrisi meningkat.

Pesantren juga dapat mengatur jadwal makan sesuai tradisi pondok. Misalnya memperkuat budaya puasa Senin-Kamis yang sejak lama hidup di banyak pesantren. Pada hari puasa, MBG bisa difokuskan untuk menu berbuka dan sahur yang sehat dan bergizi. Kurma, protein, sayur hangat, buah, dan air yang cukup menjadi bagian dari pola hidup santri.

Di situ MBG tidak sekadar program bantuan makan, tetapi menjadi pendidikan pola hidup sehat berbasis tradisi pesantren. Bahkan dapur pesantren dapat menjadi pusat pendidikan pangan. Santri belajar tentang kebersihan makanan, gizi, pertanian, pengelolaan limbah, hingga ekonomi dapur pondok. Pesantren tidak hanya menjadi penerima program, tetapi juga pusat pemberdayaan pangan masyarakat.

Pesantren dan Masa Depan Budaya Makan

Selama ini banyak orang memandang pesantren hanya sebagai lembaga pendidikan agama. Padahal pesantren adalah ruang kebudayaan yang lengkap. Ia memiliki tradisi tidur bersama, belajar bersama, bekerja bersama, hingga makan bersama. Dan mayoran adalah salah satu warisan budaya pesantren yang paling kuat.

Sosiolog Clifford Geertz dalam The Religion of Java (1960) pernah melihat pesantren sebagai bagian penting dari kultur komunal masyarakat Jawa. Kebersamaan bukan hanya nilai moral, tetapi cara hidup sehari-hari. Karena itu makan bersama di pesantren tidak pernah terasa sekadar aktivitas rutin. Ia adalah peristiwa sosial. MBG khas pesantren seharusnya menjaga ruh itu. Jangan sampai makan menjadi sekadar distribusi paket makanan tanpa suasana kebersamaan. Sebab yang membuat mayoran bertahan bukan hanya nasinya, tetapi rasa persaudaraannya. 

Pesantren memiliki peluang besar untuk melahirkan model MBG yang unik yaitu bergizi tetapi tetap sederhana, modern tetapi tidak kehilangan tradisi, tertata tetapi tetap hangat. Karena pada akhirnya, yang dibangun pesantren bukan hanya tubuh santri yang sehat, tetapi juga jiwa sosialnya. Dan mungkin di situlah keistimewaan pesantren, ia selalu mampu mengubah hal-hal sederhana menjadi pendidikan kehidupan, termasuk dengan sepiring nasi.

Terakhir saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah mutiara hikmah dari pesantren, “Al-‘ilmu bila adabin kan narin bila hathabin. Wa adabu bila ‘ilmin kar ruhin bila jasadin, ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu. Dan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh” demikian spirit dalam Al-Jami’ li Akhlaq Al-Rawi wa Adab Al-Sami’ karya Al-Khatib Al-Baghdadi, dan pesantren mengajarkan bahwa adab itu bahkan dimulai dari cara santri duduk melingkar, berbagi lauk, dan menghabiskan sepiring nasi dalam tradisi mayoran sebagai fondasi masa depan budaya makan yang sehat, guyub, dan penuh berkah.


$data['detail']->authorKontri->kontri”>                       </p>
<p><a href=Fahmi Arif El Muniry
Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.