Setiap hari orang menghasilkan sampah. Tapi berapa banyak yang mau membuat pupuk? Nasih Widya Yuwono punya kerisauan akan hal itu. Sebagai dosen ilmu kesuburan tanah, juga mengampu mata kuliah keharaan tanaman, dia paham benar bahwa biomassa yang mudah busuk bisa diolah menjadi pupuk yang kaya nutrisi bagi tanaman. Sampah yang bisa diubah menjadi pupuk sebenarnya sudah menjadi pengetahuan umum. Namun masih banyak yang belum tahu caranya, juga belum mau. Salah satu faktor penyebabnya, karena membuat pupuk dianggap sulit dan membutuhkan peralatan rumit. Kerisauan itu kian relevan ketika melihat kondisi Yogyakarta. Kota yang dikenal sebagai kota pelajar dan wisata itu juga menghadapi persoalan serius terkait sampah. Di sudut-sudut kampung dan kawasan padat penduduk, sampah rumah tangga kerap menumpuk karena tak terangkut tepat waktu. Tap masalah ini tak semata soal pengangkutan, namun juga soal cara pandang terhadap sampah. Sampah masih dianggap residu yang harus dibuang sejauh mungkin, bukan sumber daya yang bisa diolah di dekat tempat dihasilkan. Padahal, sebagian besar sampah rumah tangga di Yogyakarta adalah sampah organik, biomassa, bahan terbaik pupuk alami. Nasih pun putar otak. Andai di setiap rumah ada reaktor pupuk sederhana, persoalan sampah bisa diselesaikan di tingkat rumah. Matanya tertuju pada ember, wadah yang hampir selalu ada di lingkungan tempat tinggal. Dengan modifikasi sederhana, dua buah ember dijadikan reaktor pupuk dengan cara ditumpuk. Reaktor itu kemudian diberi nama ember tumpuk. Saat ini ember tumpuk menjadi salah satu teknologi yang paling sederhana dan murah untuk mengolah sampah organik dapur menjadi pupuk organik cair. “Dengan setiap orang bisa membuat pupuk,…This article was originally published on Mongabay
Nasih, Ember Tumpuk, dan Ikhtiar Memuliakan Tanah
Nasih, Ember Tumpuk, dan Ikhtiar Memuliakan Tanah





Comments are closed.