Sat,13 June 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Nilai Tukar Rupiah Melemah, Ekonom Wanti-Wanti Ancaman Inflasi Hingga Gelombang PHK

Nilai Tukar Rupiah Melemah, Ekonom Wanti-Wanti Ancaman Inflasi Hingga Gelombang PHK

nilai-tukar-rupiah-melemah,-ekonom-wanti-wanti-ancaman-inflasi-hingga-gelombang-phk
Nilai Tukar Rupiah Melemah, Ekonom Wanti-Wanti Ancaman Inflasi Hingga Gelombang PHK
service

Jakarta, Arina.id—Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami pelemahan dan berulang kali menyentuh titik terendah sepanjang sejarah atau all time low. 

Kondisi ini dinilai berpotensi memicu kenaikan harga barang, perlambatan ekonomi, hingga ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).

Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda mengatakan pelemahan rupiah akan berdampak langsung pada meningkatnya inflasi impor (imported inflation), terutama terhadap barang yang masih bergantung pada bahan baku dan komponen dari luar negeri. 

“Imported inflation akan terjadi, terutama untuk barang yang terkait impor, baik bahan baku, penolong, ataupun konsumsi,” kata Nailul kepada Arina.id, Senin, 18 Mei 2026.

Nailul memperkirakan kenaikan harga akan terjadi dalam dua hingga tiga bulan ke depan. “Akan mulai naik ke depan terutama akibat biaya distribusi naik, harga barang naik,” jelasnya 

Salah satu komoditas yang mulai mengalami kenaikan harga adalah plastik dan bahan kemasan akibat distribusi yang mahal serta pelemahan nilai tukar rupiah. 

“Akan semakin mahal harga plastik/kemasan ke depan. Akibatnya barang-barang yang menggunakan plastik juga meningkat harganya,” ujar Nailul.

Tak hanya itu, sektor elektronik juga diperkirakan terdampak karena sebagian besar komponennya masih berasal dari impor. Pelemahan rupiah membuat biaya produksi barang elektronik dalam negeri ikut meningkat.

Sektor pertanian juga dinilai turut terkena imbas. Nailul menjelaskan bahwa bahan baku pupuk, termasuk gas, masih sangat bergantung pada impor. Ketika pasokan terganggu, rupiah melemah, maka yang terjadi adalah kenaikan harga pupuk

“Jadi klaim Prabowo bahwa dolar naik, masyarakat desa tidak terdampak itu adalah klaim yang keliru. Belum lagi harga-harga pada naik, iya masyarakat di desa juga merasakan,” jelasnya. 

Di tengah kondisi tersebut, daya beli masyarakat disebut belum membaik akibat tekanan ekonomi domestik. Produsen pun dinilai akan kesulitan menaikkan harga jual karena khawatir permintaan semakin turun.

“Yang ada, untuk saat ini margin dipertipis,” ucap Nailul. 

Huda menilai kenaikan biaya produksi berpotensi membuat perusahaan melakukan efisiensi, termasuk Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Menurutnya, jika permintaan terus melemah, ancaman PHK dalam beberapa bulan mendatang akan semakin besar.

“Saya khawatir PHK ini akan memburuk dua-tiga bulan ke depan. Ekonomi kita akan semakin melambat. Efeknya ke rupiah yang tidak kunjung membaik Dipaksakan dalam negeri pun belum tentu produknya tersedia di pasar domestik,” bebernya.

Nailul juga menyoroti strategi substitusi impor yang dinilai belum efektif dalam jangka pendek. Pasalnya, sejumlah kebutuhan industri seperti chip dan semikonduktor masih harus didatangkan dari luar negeri karena belum bisa diproduksi di dalam negeri.

“Strategi substitusi impor ini tidak akan efektif dalam jangka pendek. Ujungnya perusahaan tidak bisa ekspansi, tidak ada penyerapan tenaga kerja, dan utilitas produksi rendah,” tegasnya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut dapat membuat konsumsi rumah tangga stagnan dan memperlambat laju perekonomian nasional.

“Ekonomi akan berjalan lambat, daya beli terpukul, konsumsi rumah tangga stagnan. Seharusnya ini menjadi alarm bagi pemerintah,” pungkasnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.