Jakarta, Arina.id—Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami pelemahan dan berulang kali menyentuh titik terendah sepanjang sejarah atau all time low.
Kondisi ini dinilai berpotensi memicu kenaikan harga barang, perlambatan ekonomi, hingga ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).
Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda mengatakan pelemahan rupiah akan berdampak langsung pada meningkatnya inflasi impor (imported inflation), terutama terhadap barang yang masih bergantung pada bahan baku dan komponen dari luar negeri.
“Imported inflation akan terjadi, terutama untuk barang yang terkait impor, baik bahan baku, penolong, ataupun konsumsi,” kata Nailul kepada Arina.id, Senin, 18 Mei 2026.
Nailul memperkirakan kenaikan harga akan terjadi dalam dua hingga tiga bulan ke depan. “Akan mulai naik ke depan terutama akibat biaya distribusi naik, harga barang naik,” jelasnya
Salah satu komoditas yang mulai mengalami kenaikan harga adalah plastik dan bahan kemasan akibat distribusi yang mahal serta pelemahan nilai tukar rupiah.
“Akan semakin mahal harga plastik/kemasan ke depan. Akibatnya barang-barang yang menggunakan plastik juga meningkat harganya,” ujar Nailul.
Tak hanya itu, sektor elektronik juga diperkirakan terdampak karena sebagian besar komponennya masih berasal dari impor. Pelemahan rupiah membuat biaya produksi barang elektronik dalam negeri ikut meningkat.
Sektor pertanian juga dinilai turut terkena imbas. Nailul menjelaskan bahwa bahan baku pupuk, termasuk gas, masih sangat bergantung pada impor. Ketika pasokan terganggu, rupiah melemah, maka yang terjadi adalah kenaikan harga pupuk
“Jadi klaim Prabowo bahwa dolar naik, masyarakat desa tidak terdampak itu adalah klaim yang keliru. Belum lagi harga-harga pada naik, iya masyarakat di desa juga merasakan,” jelasnya.
Di tengah kondisi tersebut, daya beli masyarakat disebut belum membaik akibat tekanan ekonomi domestik. Produsen pun dinilai akan kesulitan menaikkan harga jual karena khawatir permintaan semakin turun.
“Yang ada, untuk saat ini margin dipertipis,” ucap Nailul.
Huda menilai kenaikan biaya produksi berpotensi membuat perusahaan melakukan efisiensi, termasuk Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Menurutnya, jika permintaan terus melemah, ancaman PHK dalam beberapa bulan mendatang akan semakin besar.
“Saya khawatir PHK ini akan memburuk dua-tiga bulan ke depan. Ekonomi kita akan semakin melambat. Efeknya ke rupiah yang tidak kunjung membaik Dipaksakan dalam negeri pun belum tentu produknya tersedia di pasar domestik,” bebernya.
Nailul juga menyoroti strategi substitusi impor yang dinilai belum efektif dalam jangka pendek. Pasalnya, sejumlah kebutuhan industri seperti chip dan semikonduktor masih harus didatangkan dari luar negeri karena belum bisa diproduksi di dalam negeri.
“Strategi substitusi impor ini tidak akan efektif dalam jangka pendek. Ujungnya perusahaan tidak bisa ekspansi, tidak ada penyerapan tenaga kerja, dan utilitas produksi rendah,” tegasnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut dapat membuat konsumsi rumah tangga stagnan dan memperlambat laju perekonomian nasional.
“Ekonomi akan berjalan lambat, daya beli terpukul, konsumsi rumah tangga stagnan. Seharusnya ini menjadi alarm bagi pemerintah,” pungkasnya.





Comments are closed.