Thu,11 June 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Nyadran Perdamaian 2026: Ruang Menjaga Tradisi, Toleransi, dan Kesetaraan Gender

Nyadran Perdamaian 2026: Ruang Menjaga Tradisi, Toleransi, dan Kesetaraan Gender

nyadran-perdamaian-2026:-ruang-menjaga-tradisi,-toleransi,-dan-kesetaraan-gender
Nyadran Perdamaian 2026: Ruang Menjaga Tradisi, Toleransi, dan Kesetaraan Gender
service

Lewat narasi budaya pop dan modern, desa sering digambarkan sebagai tempat dengan keterbatasan akses transportasi, listrik, internet, kesempatan kerja, minim fasilitas pendidikan, dan kemiskinan struktural. Tak jarang, muncul anggapan tertinggal dalam teknologi, inovasi dan gaya hidup. Semua itu kerap melahirkan stigma sosial: orang desa kurang gaul atau ndeso. 

Berani taruhan, anggapan itu masih ada sampai sekarang. Asumsi soal desa yang dipahami orang-orang kota telah tertancap sejak anak-anak. Buku, lagu, iklan, dan sinema banyak merepresentasikan demikian. Film yang pernah heboh pada masanya, Laskar Pelangi (2008, Riri Riza) atau FTV dengan tema orang kota ke desa banyak menampilkan hierarki yang kentara antara si kota yang sok dan si desa yang lugu. 

Sementara itu, saya dan mungkin juga banyak orang yang melihat desa hanya dari kacamata budaya pop dan modern diam-diam terus menyimpan sebuah pertanyaan penting soal ini: Apakah kehidupan di desa se-problematik itu? 

Saya mengikuti acara Nyadran Perdamaian 2026 di Dusun Krecek, Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Temanggung, Jawa Tengah, 13-16 Januari lalu. Acara itu didukung ‘The Asian Muslim Action Network’ (AMAN) Indonesia. Selama 4 hari 3 malam ada serangkaian kegiatan yang saya ikuti: kelas meditasi, kelas seni, kelas perempuan bertutur, jelajah alam, dan nyadran di makam. Di luar kelas-kelas itu, saya tinggal seatap dengan salah satu warga—untuk selanjutnya disebut induk semang.

Pengalaman yang bisa dibilang singkat itu, meninggalkan jejak tidak sedikit dalam pikiran saya. Anggapan soal kehidupan di desa yang ‘miring’ adalah omong kosong belaka. Desa punya basis dasar kehidupan yang kuat. Nilai-nilai yang tumbuh di dalamnya menyediakan ruang bagi nilai-nilai kemanusiaan untuk terus tumbuh tanpa batasan agama, gender, pilihan politik, dan kelas sosial. 

Tinggal Seatap dengan Induk Semang
Tanggal 13 Januari 2026, hujan turun saat sore. Saya dan Umi (teman sekamar)–dibantu warga– berjalan menuju rumah induk semang yang letaknya lebih jauh dari peserta lain. Sambil memegang payung berukuran cukup besar dan menarik koper dari belakang, saya hirup udara banyak-banyak, bentuk balas dendam karena sepanjang perjalanan dari Surakarta ke lokasi acara, perut saya dibuat mual menghirup terlalu lama AC mobil.

Aroma kopi menyeruak di udara, sesekali diselingi bau masakan yang berhasil membuat perut saya makin berisik. Kami melewati perkampungan, rumah-rumah tanpa pagar, dan aneka bunga yang sedap dipandang: mawar, kantil, anggrek tanah, bunga lili laba-laba, lili paris, dan bunga kertas. Banyak suara hewan berbaur menjadi satu, gabungan dari burung, tonggeret,  sapi, ayam, dan anjing.

Hewan terakhir, memberi banyak kesan untuk saya, dari kedatangan hingga kepulangan. Anjing turut memberi banyak cerita–lain waktu akan diceritakan khusus. Sesuatu yang menarik, Anjing-anjing di Krecek tidak galak dan rakus. Mereka juga tidak sering menjulurkan lidah dan mengeluarkan liur. Jadi, aman-aman saja bagi yang tidak mau repot mencuci tangannya dengan tanah. 

Ketika sampai di rumah induk semang, kami disambut tiga anjing–dua cukup besar. Satu berwarna hitam, lalu cokelat, dan hitam putih. Saya dan Umi merasa bergidik disambut gonggongan. Sempat terbesit pikiran “Apa sungguh ini rumahnya?” 

Tapi saya lekas ingat pesan panitia acara, anjing di dusun Krecek tidak akan menyakiti manusia. Jika menggonggong itu tanda perkenalan. Semua warga di dusun ini memang terbiasa hidup bersama anjing. Hewan ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Bahkan, setiap anjing punya nama dan diberi makan yang sama seperti pemiliknya. Ini membuat saya mengingat sebuah novel yang digandrungi banyak orang: Ajengan Anjing (2025) susunan Ridwan Malik. Isinya hampir serupa, bedanya, dalam novel itu masyarakat menganut agama islam sementara di dusun Krecek beragama budha. 

Di depan pintu rumah bercat kuning terang–nantinya kami diberi tahu usia rumah ini sudah lebih dari tiga puluh lima tahun. Nantinya juga, saya menjadi tahu di sisi kiri rumah, menempel bangunan tanpa cat yang berisi enam belas kambing. Sebelah kanan ada dapur luas yang cukup diisi dua puluh orang. Di halaman depan, ada  bunga tumbuh subur dan Butsudan, altar persembahan atau pemujaan. 

Pemilik rumah mempersilakan kami masuk, tampak lenggang dan luas tanpa plafon. Rumah ini ditinggali empat orang: Mbah Karsito  (80) Ibu Partimah (48), Bapak Suradi , Rendi (15). Formasi keluarga lengkap: kakek, orang tua, dan anak. Sebuah senyum yang manis muncul dari bibir Ibu Partimah, perempuan manis berkulit sawo matang. Rambutnya bergaya ‘sleek low bun’, cepol santai yang memberi kesan natural. Di awal, saya dan Umi dihinggapi rasa canggung saat bertemu induk semang, untungnya bisa cepat mencair. 

Hari kedua, mendekati jam sepuluh malam, selepas pulang kelas, saya tak langsung ke kamar, tapi memilih ngobrol dengan Pak Suradi. Obrolan kami acak, tapi diakhir menjurus ke teologi. Saya tercekat dengan pandangannya soal agama. Jika yang bicara seorang akademisi, pemuka agama, atau peneliti, mungkin saya akan biasa-biasa saja, tapi ini keluar dari seorang petani di desa yang jauh dari gedung-gedung universitas atau lembaga-lembaga. Saya takjub dan amat senang. 

“Ya agama kan hanya jalan, tujuannya satu. Ibaratnya kayak kita kalo mau ke Krecek, bisa lewat sini bisa lewat situ, tapi tujuannya sama, ke Krecek. Jadi kalau ada perbedaan ya jangan diributkan.”

Tak jauh dari kalimat di atas kami ngobrol soal surga-neraka. Baginya, kedua hal itu sudah ada sejak di dunia. Bahagia itu suga, sengsara dan penderitaan itu neraka. Keyakinan itu bisa mendorong manusia untuk berbuat demi hari ini tanpa mesti menunggu setelah mati, karena sesungguhnya kita tidak benar-benar tahu apa yang akan terjadi setelah kematian.Yang paling penting saat ini adalah berupaya berbuat baik. 

“Soalnya enggak ada yang pernah mati, idup lagi, terus cerita di sana gimana, iya, kan?”

Tawa saat meledak mendengar celetukan itu disambut senyum laki-laki berusia 56 tahun di hadapan saya. Iya, memang ada begitu banyak tafsiran soal agama, surga dan negara. Setiap orang berhak untuk meyakini apa yang dianggap benar. Tapi pendapat Pak Suradi menarik, mengingatkan saya pada kisah seorang sufi perempuan dari Irak, Rabiah Al-Adawiyah. 

Rabi’ah Al Adawiyah diceritakan pernah berlari-lari di Kota Baghdad sambil menenteng seember air dan memegang obor di tangan kirinya. Orang-orang yang melihat, bingung dan bertanya pada Rabi’ah. Sufi itu menjawab bahwa ia ingin membakar surga dan menyiram api neraka. 

Orang-orang yang mendengar jawaban Rabi’ah semakin bingung, meminta penjelasan lebih. Rabi’ah mengatakan bahwa surga dan neraka telah membuat umat islam menjadi semakin jauh dari cintanya kepada Allah.  Mereka lebih berharap dan takut kepada surga dan neraka ketimbang Allah.

Agaknya semua masyarakat di Krecek dan desa sekitarnya mengamini keyakinan bahwa perbedaan dalam agama tidak boleh dijadikan pertengkaran. Perbedaan dimaknai sebagai anugerah yang dibuat Tuhan untuk saling belajar, mengenal, dan mengasihi. Ini yang diucapkan Mbah Sukoyo, Pimpinan Adat dan Sesepuh Desa Krecek: “Saya menempatkan kemanusiaan di atas agama.”

Nyadran di Makam
Ada film menarik berjudul Coco (2017, Lee Unkrich). Film realis magis ini berkisah tentang ikatan manusia dengan leluhur. Diceritakan pada Hari Raya Día de los Muertos, masyarakat akan datang ke makam keluarga membawa benda-benda, bunga dan banyak makanan. Mereka meyakini orang yang telah meninggal ruhnya masih tetap ada, hanya tubuhnya yang musnah. Maka untuk terus menjalin ikatan itu, mereka akan rutin ke makam saat hari raya tiba.

Saya teringat film itu saat menghadiri Nyadran Makam, Jumat (16/1/2026). Orang-orang dari Dusun Krecek dan Gletuk berkumpul di sekitar makam yang letaknya di dataran tinggi, dikelilingi pepohonan besar. Saat hari H tiba, warga desa menggelar tikar, memakai baju terbaik, berdoa dan makan bersama. Nyadran diyakini sebagai wujud syukur, kebersamaan, dan ruang untuk mendoakan para leluhur. Tujuan tradisi ini sering dikaitkan dengan upaya menghormati leluhur, mempererat silaturahmi, toleransi, dan mengingat kematian. Maka, dalam doanya pun kita akan mendengar ada lantunan dari pemuka agama Isalam dan Budha. 

Salah satu hal yang menarik, perempuan di desa punya peran penting dalam tradisi nyadran. Peran ini ikut menjadi penentu suksesnya pelestarian tradisi. Sebelum acara, mereka yang memastikan makam bersih dan siap untuk acara. Sehari sebelum nyadran berlangsung, biasanya sejak sore hingga malam, perempuan ikut mempersiapkan makanan dan kebutuhan. Induk semang saya mengolah aneka pangan; ayam kampung ingkung, daging sapi semur, ikan bawal goreng, oseng jeroan ati ayam, balado kentang, sayur krecek dan kapri, oseng sawi bakso, oseng buncis bakso. Beragam kue juga turut diadakan: Lapis, sengkulun, wajik, jenang, kue kering, dan mata kebo. 

Dalam prosesi acara, perempuan punya posisi yang setara dengan laki-laki. Tidak ada perbedaan tempat, makanan, hingga kepemimpinan. Semua duduk satu tempat, bicara apa saja, dan makan bersama. Nyadran Perdamaian 2026 di dusun Krecek dan Gletuk menjadi ruang untuk menjaga tradisi, toleransi, dan kesetaraan gender dalam satu peristiwa. 

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.