Berbagai kalangan protes penambangan di sekeliling Gunung Slamet, seperti tambang batu granit di Desa Baseh, Kecamatan Kedungbanteng dan galian pasir di Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang, Banyumas, Jawa Tengah. Belum lama ini, ratusan warga Desa Baseh menggelar unjuk rasa ke kantor bupati dan DPRD Banyumas. Mereka menuntut pemerintah menutup tambang granit di sisi selatan Gunung Slamet itu. Mereka menilai, kehadiran tambang itu merusak lingkungan dan mengancam masa depan desa. Budi Tartanto, Koordinator Gerakan Musyawarah Masyarakat Baseh (Murba), mengatakan, selama ini warga sudah cukup bersabar dengan membiarkan tambang itu beroperasi. “Empat tahun warga Baseh bersabar. Tambang ini meninggalkan kerusakan alam yang besar. Setiap musim hujan kami selalu cemas karena risiko bencana makin tinggi,” katanya. Dari penuturan warga, aktivitas tambang itu telah mengubah lanskap bukit. Area yang sebelumnya tertutup pohon itu kini berubah berlubang hingga menghadirkan kerawanan bagi warga desa. Warga pun khawatir jelaga bekas tambang berdampak pada warga sekitar, terutama mereka yang berbatasan langsung dengan area tambang. Menurut Budi, para petani dan pembudidaya ikan di desanya merasakan langsung dampak dari tambang ini. Setidaknya ada 19 kolam ikan warga rusak karena sedimentasi dan limpasan lumpur dari area tambang. Air yang selama ini menjadi sumber kehidupan berubah keruh, kualitas menurun, dan mengancam keberlanjutan usaha warga. Sekitar 24 hektar sawah tertimbun pasir dan kerikil. Struktur tanah rusak, kesuburan menurun drastis, dan produktivitas pertanian terancam hilang. Lebih mengkhawatirkan lagi, warga mencemaskan keberlangsungan mata air yang selama ini menjadi sumber air bersih bagi lebih dari 100 keluarga. “Ini bukan hanya soal sawah dan kolam. Ini ancaman ekologis.…This article was originally published on Mongabay
Ramai-ramai Desak Tutup Tambang di Gunung Slamet
Ramai-ramai Desak Tutup Tambang di Gunung Slamet





Comments are closed.