Telisik

Sharenting Berujung Ketemu Fetisher | Bangku Belakang – Remotivi

Saya trauma dengan laki-laki mesum menyamar jadi anggota grup MPASI.

Saya sebagai ibu rumah tangga yang aktif menulis novel, cerpen, esai, artikel dan pantun. Bermimpi menjadi penulis produktif yang handal.

“’Bun, kirim lagi dong gambar anak Bunda yang pakai baju singlet!”’

Itu adalah sebaris kalimat yang dikirim seseorang pada saya ketika anak sulung saya baru berusia tujuh bulan.

Awalnya, saya ikut grup MPASI di sebuah akun media sosial Facebook. Di sini yang bergabung memang kebanyakan ibu-ibu muda yang belajar MPASI atau sekadar berbagai menu MPASI sehat bagi para bunda lainnya.

Setelah berbulan-bulan bergabung, banyak pelajaran yang sangat membantu saya dalam menyajikan menu bervariasi ketika anak saya GTM (gerakan tutup mulut). Selain itu, saya mendapat pengalaman bunda-bunda lain menangani anak ketika GTM atau anak sakit dan rewel. Ini benar-benar grup yang mendukung ibu muda seperti saya. 

Suatu hari, saya mencoba untuk membagikan kisah saya dengan memposting menu MPASI yang saya masak hari itu. Selain menulis tahapan memasak menu MPASI tersebut, saya juga membagikan foto saat anak saya makan. Tentu saja ditemani oleh semangkuk menu MPASI sebelum dan sesudah dimakan. Saat itu, anak saya mengenakan baju singlet. Banyak anggota lain juga memposting foto anaknya ketika akan makan dengan baju singlet, beberapa bahkan tanpa baju sama sekali. Jadi, saya tidak berpikir jauh apa akibatnya setelah postingan itu diserbu like dan komentar positif dari bunda-bunda lainnya.

Tiba-tiba ada inbox masuk dari salah satu anggota, sebut saja namanya M. M mengatakan suka sekali melihat anak saya yang doyan makan. Setelah itu, dia jadi lebih sering mengirimi saya inbox. Ia berbasa-basi tanpa canggung selayaknya ibu-ibu lain yang berbagi kisah. Dia menanyakan usia anak saya dan juga memberikan dukungan moral bagi saya di saat anak saya terkadang kambuh GTM-nya. Sesekali dia juga menanyakan kabar dan kadang bertukar kisah pengalaman mengasuh balita. Kami biasanya akan menutup cerita atau berpamitan setelah ngobrol panjang. Ia tanpa sungkan akan meminta foto anak saya hari itu dan foto favoritnya adalah ketika anak saya pakai baju singlet. Mirisnya, saat itu saya kirimi sekenanya tanpa menaruh curiga. 

Pada suatu hari, grup MPASI digemparkan dengan laporan dari salah satu anggota bernama Z. Ia mendapatkan pesan “mesum” dari salah satu anggota… dari M. M meminta Z mengirimkan gambar atau foto anaknya pakai baju singlet. Z sangat curiga karena M tidak hanya sekali meminta hal serupa tapi sering, meski ia tak pernah mengirimkan foto yang diminta M. M sepertinya mengincar ibu-ibu yang berbagi kisah di grup sembari dibubuhi gambar anak. 

Setelah Z angkat bicara di grup, banyak laporan serupa dari anggota grup sehingga M diminta untuk klarifikasi kepada anggota lain. Namun, M tidak kunjung muncul dan membuat admin grup bertindak lebih jauh yakni mencari tahu siapa sebenarnya orang ini. Usut punya usut, M ternyata adalah seorang pria yang menyamar dengan akun wanita. Ia juga banyak bergabung di grup-grup “penyimpangan seksual” sehingga admin menyimpulkan jika M merupakan seorang predator anak. 

Modus orang ini hanya satu, jika ia bisa mendapatkan mangsa berupa foto atau gambar anak yang pakai singlet, ia akan diakui sebagai pria hebat oleh anggota grup “menyimpangnya”. Bahkan, komunitas mereka akan mengapresiasinya karena telah berhasil mendapatkan mangsa baru.  Mirisnya lagi, banyak di antara mereka yang berusaha untuk mewujudkan impiannya dengan berangan-angan suatu hari akan mencari si anak (yang ada dalam foto) ke alamat rumahnya. 

Hal ini tentu saja sangat menimbulkan keresahan dan ketakutan anggota grup MPASI. Grup dianggap tidak selalu aman bagi anak dan ibu sehingga admin memberikan peringatan kepada setiap anggota agar hati-hati dan tidak mudah memberikan foto atau gambar anak pada orang lain, sekalipun dia anggota grup. 

Hari itu juga, admin mendepak M dari grup. Siapa saja yang kira-kira memiliki kriteria sama seperti M akan dikeluarkan dari grup tanpa persetujuan dan klarifikasi terlebih dahulu demi kenyamanan anggota grup.

Setelah kejadian itu, saya berhenti mengunggah foto anak saya di beberapa media sosial. Jika pun akan mengunggah, saya sangat hati-hati sekali sebab masih takut dengan peristiwa itu. Saya juga memperingatkan suami, adik-adik, dan juga orang tua saya. Jika mereka ingin mengunggah foto anak saya, mereka harus mendapat izin dan persetujuan saya. Saya begitu takut ternyata banyak di luar sana fetisher anak yang berupaya mencari mangsa, baik secara diam-diam maupun terang-terangan.

Baca Edisi Bangku Belakang Lain

Pengepul kebahagiaan dari temuan abad modern, berupa listrik, internet dan komputer. Hidup harmonis bersama barisan code dan segelas kopi kenangan.

Sign up for a newsletter today!

Want the best of KWFeeds Posts in your inbox?

You can unsubscribe at any time

What's your reaction?

Leave Comment

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.