Featured

David Bayu Beberkan Alasan Materi Musiknya Saat Berkarir Solo Tak Terasa ‘Fun’

Setelah hampir setengah dekade tidak merilis karya, vokalis dan penulis lagu David Bayu kembali meramaikan kancah musik Indonesia lewat album solo debutnya berjudul Di Dalam Jiwa. Dirilis oleh label Demajors, album ini merupakan offering perdana David sejak grup pop NAIF bubar secara mengejutkan bagi para penggemar pada 10 Mei 2021.

Tak lagi terikat band, David ternyata memilih langsung menenggelamkan diri ke dalam materi solo. Biarpun dua lagu—termasuk single pertama album “Deritaku”—sudah ditulis saat NAIF masih aktif, proses rekaman album Di Dalam Jiwa baru dimulai akhir 2020, dibantu keyboardis Erikson Jayanto dan gitaris Vega Antares dari Dewa 19.

Bagi penikmat karya-karya NAIF yang lebih ‘soft’, Di Dalam Jiwa bakal terdengar familiar. Vokal David yang lantang namun manis masih menjadi fokus, ditemani nomor-nomor ballad dengan influence musik 70an/80an yang ramah di telinga. Secara lirik, Di Dalam Jiwa lebih personal dan intim, seakan David sedang bernyanyi untuk dirinya sendiri, melepaskan berbagai emosi yang tertanam beberapa tahun terakhir.

Ambil contoh lagu berjudul “Manusia”. David melepas ego dan mengakui keterbatasannya. “Ku bukan cahaya / ku bukan pula gelap / Ku hanyalah manusia / Kecil di alam raya.” Sementara nomor penutup album “Berserah” terasa seperti sebuah renungan spiritual penuh kepasrahan: “Semakin jauh di dunia / Semakin dekat ke rumah / Apa yang akan ku bawa / Pulang ke sana / Semoga selaras dengan kehendak Nya.”

Terasa jelas album Di Dalam Jiwa punya punya makna tersendiri buat David Bayu. “Perasaan sih lega setelah album rilis, lega karena freedom of expression gue dua tahun…pas rilis kayak ‘ahhh,’” ujar David. “Anjir, pengen nangis juga gue. Keluar juga nih.”

Tidak lama setelah perilisan album Di Dalam Jiwa, Yudhistira Agato mewakili VICE berbincang-bincang dengan David Bayu di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Mereka membicarakan pengalaman emosional David manggung perdana setelah dua tahun, menulis lirik kontemplasi diri, dan bagaimana David menyikapi persepsi publik yang kadung melekatkan dirinya dengan NAIF. Berikut nukilan wawancaranya:

VICE: Album ini dirilis di hari yang sama dengan penampilan solo debut lo di Synchronize Festival 2022. Itu sengaja?

Sengaja di-pas-kan timingnya. Dari awal gue produksi album ada obrolan sama David Karto [Demajors] ada kesepakatan. Beliau yang mengawal proses album gue. Dan dia juga punya event synchronize festival yang masih jadi benchmark yang bagus, di mana local product dijadiin headliners. Buat gue synchronize itu pas, komposisi semuanya ada. Jadi gue mau main di situ. Terus sekalian rilis deh. Jadi ada tanggal itu, gue yang ngejar. Jadi semacam deadline buat gue.

Perasaan lo apa tampil live lagi setelah selama ini? Sempet khawatir gak gimana penonton bisa menerima lagu-lagu baru?

Kekhawatiran sebenernya gak ada. Tapi karena ini festival pertama gue setelah dua tahun—ini pertama kali gue mau terima main festival lagi—gue personally minta ke synchro panggung kecil aja deh. Bukannya gak pede, cuma gue mau start dari situ dulu. Gue berasa nyaman di situ. Dan akhirnya diberikan juga.

Pas manggung, saking udah lamanya gak berinteraksi dengan audiens yang lebih banyak gitu, feedback ke gue sangat kenceng. Abis itu gue gak bisa kontrol emosi, bahasanya kena hit lah feelingnya. Jadi dalem hati gue nangislah gitu. Mau jaga composure tapi gak bisa juga. Jadi kadang gue diem dulu, biarin mereka yang nyanyi. Satu set gitu terus. Mungkin gue gak bagus buat menutupi itu [tertawa].

Sebelum rilis Di Dalam Jiwa, lo sempet upload foto cover album dulu. Pas liat, gue kirain musiknya bakal 80s hard rock ala Thin Lizzy gitu.

Kecele ya hahahahaha.

Apa cerita di balik pilihan estetika artworknya?

Pas photo session, pas gue ganti baju, fotografernya nyuruh gue diem, terus dia jepret satu dua kali. Terus dia ngasih liat hasilnya, ‘ini gimana?’ Ih anjir, gue langsung bilang ini mau gue pake buat cover gimana pun caranya. Gue waktu itu lagi demen estetika late 70s dan early 80s jadi gue kasih referensi segala macam kayak Chrisye. Pas desainer ngasih, ternyata Thin Lizzy banget. Tapi gue suka sih.



Gue sangat mikirin estetika artwork design, karena gue dari situ juga [David lulusan desain komunikasi visual-red]. Dulu suka gak maksimal dalam menuangkan estetika karena ada banyak kepala gitu. Kalau sekarang kayaknya lebih fokus semuanya dari artwork sampe music video karena satu kepala, turunannya dari yang gue mau semua. Enak banget.

Hampir semua lagu d album ini ballad-ballad 80an yang sendu….

Emang gue konsepin sih [tertawa]. Tadinya sempat kepikiran dari pihak demajors, ‘udah lo gitaran aja gitu akustik.’ Tapi gue kayak gak pede dan akhirnya ngajak  pemain piano, tetep kurang ngisi. Akhirnya full band juga [tertawa].  Gue pilih ballad soalnya lebih mudah buat gue nyiptain lagu-lagu kayak gitu, dan nyanyiinnya juga.

Lirik-liriknya personal ya, di track kayak ‘Manusia’ dan ‘Berserah’ malah ada nuansa spiritualnya. Ada pengalaman pribadi yang mendasari? 

Rico (Mocca) bilang “albumnya religi ya?” [tertawa]. Wah anjing gue bilang. Gak ada tendensi ke situ sih, tapi personal experience itu nulisnya juga lebih gampang, gak jauh-jauh. Kalau lo menangkap ada yang berbau spiritual, mungkin emang yang gue pikirin ke situ.

Gue orang yang menangkap yang terjadi di sekitar gue. Sesuatu yang bisa terjadi ke semua orang, tapi seringnya terjadi di sekitar. Enggak harus di-relate dengan yang terjadi ke gue, tapi sesuatu yang beneran terjadi. True story.

Tema penyesalan dan penerimaan diri sering muncul di album, pas lagi nulis apakah lo banyak kontemplasi diri?

Dalam berkarya atau apa pun lo berkontemplasi pasti. Kalo gue tipikal yang gak jago nulis yang intrinsik, tersirat gitu. Gue lebih nulis yang gampang dimengerti aja lah, simpe. Di sini liriknya mungkin simplifikasi dari yang gue pikirkan dan rasakan.

DSC09643.JPG

Meski lirik lagu-lagu di album ‘Di Dalam Jiwa’ terasa sendu, David Bayu cukup sumringah selama wawancara. Foto oleh Zachary Ibrahim/VICE

Gue hanya menangkap yang gue rasain [dua tahun belakangan]. Album itu capturing moment si pengkarya, semacam foto. Misalkan album pertama NAIF ada vibe tertentu, ya itu karena ditulis pas umur gue 20-an.

Kadang orang remake lagu dari album pertama, itu gak akan dapet. Lagunya dibawain masih enak, fun-fun aja, tapi gak akan bisa meng-capture momen yang sama. Rolling Stone atau musisi level legend-legend pun gak akan bisa mengulang momen itu.

Dua tahun terakhir, selain pandemi, lo menghadapi bubarnya NAIF. Ini meresap ke album juga gak?

Ngaruh pasti. Kena vibes-nya. Mungkin gak literal, gak harus literally lirik soal itu, tapi momen-momen dalam dua tahun terakhir, gue ngerasain kayak gitu. Kalo ada yang misalnya nanya, ‘Kok gak ada yang fun lagunya?’, ya album gue foto keadaan gue dua tahun terakhir [tertawa].

Apakah setelah NAIF bubar lo langsung fokus buat album solo?

Lagu pertama yang jadi duluan itu ‘Di Dalam Jiwa’. Itu sebelum pandemi dan pas gue masih di band. Tapi belum direkam sih. Masih genjrengan doang, raw banget. Begitu NAIF bubar, gue malah jadi all out. Kondisi bisa jadi bahan bakar juga kan. Kata orang, bless in disguise. Manfaatin itu aja. Kayak misalnya lo patah hati, itu bisa lo jual. Bisa jadi cuan [tertawa].

Ada referensi musik khusus buat album solo ini?

Gue orang tua yang banyak dengerin yang baru-baru juga. Kadang dulu-duluan sama anak gue. Misalnya gue tahu Tame impala dari anak gue. Tapi gue demen Boy Pablo duluan sebelum dia. Jadi gue selalu demen dengerin sesuatu yang baru. Lama dan baru sama-sama ngasih referensi.

So far, transisi dari band jadi solo seperti apa rasanya? Ada yang beda?

Beda sih. Ada yang sama dalam proses penulisan atau proses kreasinya. Tapi eksekusinya beda jauh banget. Dulu ada empat kepala, kalau ini one direction only.

Buat materi solo, ada upaya ngebedain dengan materi NAIF?

Gak ada. As it is aja. Semua orang juga udah langsung paham kemiripannya dengan NAIF. Itu juga gue yang nyanyi. Masa gue mau ubah suara? Dikasihnya udah begitu [tertawa]. No big deal for me. Ini lagu yang gue bikin kayak gini, mau dibilang mirip sama NAIF, ya enggak apa-apa.

Sosok David Bayu terlanjur lekat banget sama NAIF. Misal kelak dapet request bawain lagu-lagu NAIF, apakah ini mengganggu buat lo?

Kalau gue sih malah jangan sampe karya-karya lama itu [terlupakan]. Dengan gue bawain [lagu NAIF] kan melestarikan aja, ngingetin orang. Kalau sampai risih mungkin karena sempat ditanyain mulu kapan reuni segala macem. Entar dululah, gue lagi berkarya sendiri dulu ini. Itu agak annoying buat gue [ketawa].

Apa ekspektasi lo buat album Di Dalam Jiwa?

Sederhananya, gue masih bisa berkarya. Gue masih bisa bikin sesuatu lho. Diterima [publik] itu bonus aja sih. Prosesnya maksimal gue kasih. Intinya gue masih mau di industri ini, di kancah musik Indonesia ini. 

Ternyata feedback dua mingguan [pasca perilisan album] ini bagus banget, dan itu ngasih sparks lebih lagi. Bohong kalo lo gak seneng dengan feedback yang bagus. Sesimpel itu buat gue.

Terakhir, gimana cara David Bayu menghindari penderitaan?

Penderitaan tak dapat dihindari…eh salah. Sakit tak dapat dihindari, tapi penderitaan itu pilihan. Itu kata buddha [ketawa]. Jadi pilihan lo, apakah lo mau menderita, atau menghindari penderitaan. 


Yudhistira Agato adalah jurnalis lepas yang bermukim di Jakarta, fokus mengamati kancah musik Indonesia. Laporannya bisa dibaca di VICEthe Jakarta Post, serta NME. Follow dia di Twitter

Sign up for a newsletter today!

Want the best of KWFeeds Posts in your inbox?

You can unsubscribe at any time

What's your reaction?

Leave Comment

Related Posts

Celebrity Philantrophy Amazing Stories About Stories