Islami

Refleksi Rajab: Jangan Nodai dengan Hujatan Politik

Bulan Rajab pada tahun ini bertepatan dengan masa kampanye terbuka. Alangkah indahnya, bulan mulia ini tidak ternoda dengan perang saling menghujat.   *** Mendekati hari pencoblosan, suhu politik terasa makin panas. Meski tak sekeras di dua pemilu sebelumnya, masa kampanye terbuka yang berlangsung sejak 21 Januari silam hingga 10 Februari 2024 telah banyak menghasilkan gesekan

Bulan Rajab pada tahun ini bertepatan dengan masa kampanye terbuka. Alangkah indahnya, bulan mulia ini tidak ternoda dengan perang saling menghujat.  

***

Mendekati hari pencoblosan, suhu politik terasa makin panas. Meski tak sekeras di dua pemilu sebelumnya, masa kampanye terbuka yang berlangsung sejak 21 Januari silam hingga 10 Februari 2024 telah banyak menghasilkan gesekan di masyarakat. 

Saat debat Pilpres berlangsung bahkan sesudahnya, kita melihat dan merasakan ketegangan itu. Di aplikasi percakapan seperti Whatsapp, misalnya. Di sana, selama lima kali penyelenggaraan debat, masyarakat pun terlibat dalam narasi saling serang. Tiada beda dengan yang dilakukan para capres dalam debat itu. 

Mereka pun terjebak dalam pembicaraan saling menghujat pilihan capres-cawapres satu sama lain. Hingga tak jarang terjadi cekcok dalam grup percakapan yang berisi teman-teman kerja, alumni sekolah, bahkan keluarga. Semua terjadi semata perbedaan pilihan dan sikap fanatik terhadap pilihan masing-masing. Tak jarang ada yang sampai memutus silaturahmi dengan keluar dari grup.

Patut disayangkan, memang. Padahal, banyak masyarakat yang tak menyadari bahwa selama penyelenggaraan masa kampanye terbuka, termasuk di dalamnya debat capres, saat itu pula bertepatan dengan bulan Rajab dalam perhitungan kalender Hijriah. 

Bulan ini bukan bulan biasa. Melainkan seperti yang sering disebut dalam Hadits Nabi, Rajab termasuk sebagai syahrullah yakni bulan milik Allah. Dalam bulan-bulan itu, umat Islam diperintahkan untuk banyak berbuat amal saleh, seperti berpuasa dan memperbanyak Istighfar. 

Abdul Hamid bin Muhammad Ali Kudus dalam kitabnya Kanzun Najah was Surur fil Ad’iyah allati Tasyrahus Shudur menyebutkan beberapa nama lain dari bulan ini. Salah satunya adalah al-Asham yang bermakna tuli. Disebut demikian karena dalam bulan Rajab sama sekali tidak terdengar suara peperangan. Pada masa awal Islam, Allah melarang untuk melakukan peperangan pada waktu Asyhurul Hurum. 

Bersama Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, Rajab merupakan salah satu dari Asyhurul Hurum (bulan-bulan mulia). Seperti yang disebut dalam al-Qur’an surat al-Taubah ayat 36:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗ 

Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauhulmahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya ada empat bulan haram”.

Dalam tradisi Arab kuno, saat asyhurul hurum mereka menghentikan perang atau gencatan senjata. Bahkan di masa kelam, yakni masa jahiliyah sebelum datangnya Islam, bahkan diceritakan demi penghormatan terhadap asyhurul hurum, mereka tidak membunuh atau melukai orang yang telah membunuh ayah ataupun saudaranya. Begitu pula saat mereka bertemu musuh-musuhnya.

Menurut catatan Kiai Nawawi Banten dalam tafsirnya Marah Labid li Kasyfi Ma’na Al-Qur’anil Majid, tradisi bangsa Arab yang memuliakan asyhurul hurum tak lepas dari pengaruh dari ajaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Pada bulan-bulan itu mereka sama sekali tidak berperang dan berburu. Padahal mereka bertahan hidup dengan cara berburu dan melakukan invasi serta agresi.

Jadikan Bahan Refleksi

Tentu saja tradisi yang dilakukan bangsa Arab itu menjadi bahan refleksi atau perenungan bagi siapa pun. Kita tahu masyarakat Arab pada era jahiliyah terkenal sebagai generasi terburuk. Perilaku mereka sulit diterima dengan akal sehat. Misalnya karena merasa malu karena mendapatkan bayi perempuan, mereka memilih membunuhnya. Namun, mereka saat bulan Rajab datang, mereka memilih menghentikan peperangan dan pertumpahan darah, meskipun musuh berada di depan mata. 

Bagaimana dengan kita? Di sini, bertepatan dengan datangnya asyhurul hurum, dalam beberapa pekan ini, kita malah asyik dengan isu politik dan saling menghujat pilihan satu sama lain. Menyedihkan lagi itu terjadi dalam ruang lingkup keluarga dan kerabat dekat. 

Kita tidak sedang berperang secara fisik apalagi saling membunuh. Namun yang kita lakukan adalah pembunuhan mental dan peperangan psikologis. Sehingga pemilu yang seharusnya ramah dan penuh dengan filosofi demokrasi yang begitu khidmat berubah ajang saling menghina satu sama lain atas dasar perbedaan pilihan. Bahkan di dua kali pilpres lalu sampai memunculkan polarisasi “cebong” dan “kampret” yang memanas dalam waktu yang cukup lama.

Sesungguhnya pemilu dan pilpres hanya dilaksanakan dalam waktu beberapa menit saja di sebuah tempat yang bernama bilik tempat pemilihan suara. Sedangkan persaudaraan dan pertemanan berlangsung dalam jangka panjang. Sungguh sangat tidak bijaksana hanya karena perbedaan pilihan membuat hubungan antara saudara atau teman menjadi rusak semata akibat saling menghujat pilihan.  

Negara ini memang sedang melakukan pesta demokrasi untuk menentukan pemimpin di masa berikutnya. Namun saling menghujat, termasuk cara kotor dengan melakukan kampanye hitam, bukanlah esensi dari demokrasi itu sendiri. Selain itu, sikap fanatik terhadap salah satu capres adalah kesalahan dan kebodohan yang nyata. 

Alangkah bijaknya, dalam berkampanye menggunakan asas saling menghormati pilihan orang lain. Sehingga masyarakat semakin memahami asas filosofis negara ini yakni asas kebhinnekaan dan persatuan atas dasar nasionalisme.

Siapapun nanti yang terpilih itulah pilihan rakyat. Namun bukan berarti kemenangan bagi para pendukungnya. Sebab ini bukan peperangan dan perebutan tahta. Sebaliknya, mereka yang jagoannya kalah, tidak elok bila kemudian terus menghujat. Presiden terpilih kelak, sebagai Muslim yang baik dan warga negara yang bijaksana, wajib kita taati sebagaimana konsep mentaati perintah yang sah. Wallahu a’lam bisshawab.

Pengepul kebahagiaan dari temuan abad modern, berupa listrik, internet dan komputer. Hidup harmonis bersama barisan code dan segelas kopi kenangan.

Sign up for a newsletter today!

Want the best of KWFeeds Posts in your inbox?

You can unsubscribe at any time

What's your reaction?

Leave Comment

Related Posts

Celebrity Philantrophy Amazing Stories About Stories