Islami

Biografi Syekh Muhammad Saeful Anwar Zuhri Rosyid, pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Az-Zuhri Semarang

Daftar Isi: 4.     Karomah 5.     Mencintai Budaya Indonesia 6.    Referensi 1. Riwayat Hidup dan Keluarga 1.1 Lahir Syekh Muhammad Saeful Anwar Zuhri Rosyid atau yang akrab dengan sapaan Abah Syekh merupakan putra kedua dari tujuh bersaudara, yang lahir pada tanggal 6 juni 1950 di Sokaraja tengah, Banyumas, Jawa Tengah, dari pasangan Kyai Mudatsir

Daftar Isi:

4.    Karomah
5.    Mencintai Budaya Indonesia
6.    Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir
Syekh Muhammad Saeful Anwar Zuhri Rosyid atau yang akrab dengan sapaan Abah Syekh merupakan putra kedua dari tujuh bersaudara, yang lahir pada tanggal 6 juni 1950 di Sokaraja tengah, Banyumas, Jawa Tengah, dari pasangan Kyai Mudatsir Zuhri dan Sukarni.

Dalam silsilah keluarga besar Abah disebutkan bahwa Ayahandanya adalah adik kandung Prof. KH. Saifuddin Zuhri yang merupakan mantan Menteri Agama semasa Presiden Soekarno berkuasa. Walaupun Abah mempunyai nasab mulia, namun beliau tidak begitu suka bila ada orang yang mengagungkan dan mengunggulkan nasabnya.

Ayahanda beliau selain seorang priyayi juga kyai, yakni KH. Mudatsir Zuhri, walaupun sederhana tapi terkenal kejujurannya dalam menunaikan tugas sebagai pegawai negeri sipil. Ayahanda beliau selalu mengingatkan agar, “eling pedangane”, “eling purwaduksine”, yang artinya ingat dapur kita, ingat dari mana kita berasal, karena dengan begitu akan mencegah untuk bersikap arogan, sombong dan manja.

Sedangkan Ibunda beliau Nyai Sukarni, sosok istri yang patuh dan figur yang amat memperhatikan pendidikan putra-putrinya, pandai berbahasa asing seperti bahasa Belanda, Jepang dan Padang. Melalui Ibu, beliau belajar segala sesuatu tentang kewanitaan.

Tidak mengherankan, bila beliau paham betul tentang menyulam, menjahit, sanggul hingga memasak, bahkan tata cara makan dengan berbagai macam sendok, garpu dan pisau -yang pada waktu itu hanya orang kaya dan orang yang suka meniru kehidupan ala Belanda saja yang memahaminya. Ibundanya juga pernah bekerja menjadi maklar di pegadaian. Karena etos kerjanya yang tinggi menjadikannya sukses.

1.2 Riwayat Keluarga
Syekh Muhammad Saeful Anwar Zuhri Rosyid menikah dengan Nyai Hj. Faizzah Saiful Anwar. Setelah menikah Abah bersama istri tercinta hijrah ke Semarang tepatnya pada tahun 1971. Bersama Ibu Nyai, beliau mengontrak pada bapak Saman di jalan Badak Semarang. Kamar kontrakan relatif sempit suasana natural lebih terasa karena kamar kontrakan yang ditempatinya dekat kandang ayam.

Abah juga pernah bersama Istri waktu itu tidur di pos ronda. Bapak Murtadi, Bapak Munawir dan Bapak Juwahir adalah saksi bahwa Abah bersama Istri waktu itu tidur di pos ronda tersebut. Setahun kemudian, yaitu di tahun 1972 barulah Abah aktif bekerja Depag Provinsi Jawa Tengah. Setelah berapa tahun tinggal di Semarang, pada tahun 1979 Abah menempati rumah di Perumahan Ketileng tepatnya di Jl. Ketileng Indah III/6 Sendang Mulyo, Semarang.

1.3 Wafat
Abah Syekh wafat pada hari Selasa, 11 Februari 2013/2 Rabi’ul Akhir 1434 H.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan

2.1 Pendidikan
Abah kecil mulai masuk sekolah MI Maarif yang pada tahun 1955 pada awal perintisannya masih bernama SRI (Sekolah Rakyat Islam). Pendiri SRI itu adalah KH. Mudatsir Zuhri (Ayah kandungnya) dan KH. Muharir.

Abah kecil mulai masuk sekolah pada tahun 1955 bersama kakaknya yang bernama Kyai Anwar Haryono. Itupun sebenarnya sudah termasuk ketinggalan, karena pada zaman dulu seorang bocah baru diperkenankan sekolah bila tangan yang dilingkarkan kepalanya sudah bisa menyentuh telinga.

Beranjak dewasa, Abah muda sudah mulai berperan di dalam kehidupan bermasyarakat. Di antaranya, beliau membentuk grup drum band yang bernama “Al-irsyad” yang selalu menjadi perhatian setiap kali ada festival. Berita tentang gebrakan Abah muda membuat grup drum band cepat menyebar dan menjadi inspirasi para remaja lain untuk menirunya.

2.2 Guru-Guru

  1. KH. Mudatsir Zuhri (ayah),
  2. Nyai Sukarni (ibu),
  3. KH. Muharir.
  4. Habib Hamid Sokaraja,
  5. Eyang Abdul Ghoni,
  6. Mbah Ahmad Arif.

3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
Abah muda juga pernah menjadi wali dari ayahnya sendiri yaitu setelah Ibunda Sukarni wafat, sebagai seorang putra, tentu beliau rindu akan kehadiran seorang Ibu. Di samping itu, sebagai seorang lelaki yang menginjak dewasa, beliau tanggap dan paham betul perasaan ayahnya yang tentu saja membutuhkan pendamping untuk berbagi suka dan duka.

Berbekal alasan tersebut, beliau memberanikan diri matur pada Ayahanda untuk meminta ijin akan mencarikan pendamping hidup bagi ayahnya yang sedang menduda. Kalimat berkesan yang dijadikan pembuka dialog dengan ayahnya adalah “Maaf, Ayah ! Kali ini saya akan berbicara bukan sebagai anak kepada orang tuanya, tetapi saya ingin berbicara sebagai sesama lelaki dewasa”.

Ayahanda tentu saja kaget dengan pernyataan putranya, dan akhirnya ayahnya mengijinkan putranya. Dengan ijin dan restu Ayah, Abah muda berangkat menemui seorang wanita yang dulu pada angkatan tahun 1950 merupakan kekasih ayahanda di waktu muda menjadi aktivis fatayat NU.

Wanita tersebut tidak lain adalah Ibu Hj. Baqiyah yang dulu sampai sekarang bertempat tinggal di Wonosobo merupakan sosok wanita yang gemi, nastiti, ngati-ngati dan amat pandai menyulam. Masih banyak peran penting dalam masa remajanya bagi kehidupan keluarga dan masyarakat sekitarnya.

3.1 Mendirikan Pesantren
Pada masa itu, daerah Ketileng dan sekitarnya termasuk daerah yang tergolong gersang dan rawan yang dalam analisis beliau dikarenakan masyarakatnya jauh dari sentuhan nilai-nilai agama. Walaupun Abah mengaku bahwa pada saat itu masih ummi atau masih dangkal pengetahuan tentang agama, namun beliau berusaha membentengi diri dan keluarga dengan syariat Islam.

Melihat kenyataan dan kondisi masyarakat tempat tinggal beliau tersebut, sebagai seorang muslim yang punya tanggung jawab dan kewajiban untuk berdakwah, maka beliau memulai dakwahnya di lingkungan sendiri.

Dengan penuh kesabaran dan keuletan beliau juga memulai dakwahnya di kampung Ketileng, kita bisa bertanya pada warga asli Ketileng tentang bagaimana kesabaran dan sikap tanpa pamrih yang dicontohkan beliau, kita bisa bertanya pada mereka tentang kesabaran dan ketekunan dalam mengajak mengumpulkan bocah-bocah angon yang dekil dan kotor untuk mengaji.

Jangankan hafal Surat Al-Fatihah, membaca alif, ba’, ta’ saja mereka belum ada yang bisa, belum lagi beliau harus menunggu saat ada bocah yang berteriak, “Mengko disik, Pak Saiful..! Wedhusku kesrimpet”.

Terbayang seberapa besar kesabaran dan kerja keras yang dikerahkan beliau untuk menancapkan aqidah atau anak seusia mereka. Waktu itu mana ada yang mau mendekati bocah lusuh, dekil, dan mambu manuk itu, mana ada yang sudi mengurusi mereka.

Sebelumnya tidak ada gambaran maupun angan-angan dalam benak beliau untuk memiliki santri, apalagi merintis berdirinya pondok pesantren, namun karena minat masyarakat untuk mengikuti pengajian kian bertambah, barulah dirasa akan pentingnya untuk mendirikan sebuah pondok pesantren. Usaha dan kerja keras beliau untuk mendirikan sebuah pondok pesantren kini sudah terlaksana, walaupun perjuangan beliau disertai berbagai rintangan, cemoohan dan ancaman.

Perjuangan yang tidak mudah karena awalnya Desa Ketileng masih gersang secara geografis maupun secara mental spiritual. Tantangan dan hambatan tentu ada, dari persoalan tanah, tantangan berkelahi dari seorang pendekar di Ketileng hingga gangguan secara metafisik juga beliau hadapi.

Namun berkat pertolongan dan ridho Allah SWT, semua itu bisa teratasi. Hingga pada akhirnya kehadiran Pondok Pesantren Salafiyah Az-Zuhri justru semakin memberi dampak positif bagi masyarakat sekitarnya.

3.2 Dekat dengan Ulama
Banyak kejadian yang membuka tabir kekaromahan Abah Syekh yang diakui beberapa ulama di antaranya, Habib Syekh Hamid Sokaraja yang bisa dibilang guru, sahabat, bahkan murid Abah Syekh, sebuah hubungan guru-murid yang unik karena demikianlah biasanya sikap tawadhu para Auliya Wira’i. Demikian pula hubungan beliau dengan para ‘Alim Thoriqoh Mu’tabaroh di Sokaraja-Banyumas .

Kekaguman para Ulama Banyumas semakin bertambah saat Abah Syekh meminta jasad KH. Muhammad Hidayat (Kyai Dayat) dipindahkan dari pemakaman umum ke sebidang tanah dekat Masjid Al-Makmur kompleks Ponpes Al-Makmur, karena Abah Syekh sendiri mendapat pesan dari Kyai Dayat. Walaupun semula ditentang keluarga namun akhirnya justru ada hikmahnya, dengan pemindahan jasad tersebut barulah secara langsung mereka menyaksikan bahwa jasad Kyai Dayat masih utuh.

Begitupun Abah Dimyati Pandeglang (KH. Muhammad Dimyati) Banten tokoh Tarekat Sadziliyah justru kagum dengan Tarekat yang diamalkan Abah Syekh, Tarekat Az-Zuhri sebuah tarekat yang berpegang teguh pada “Mengaji sampai mati,” yeng menginspirasi Abah Dimyati untuk tidak memiliki santri tarekat terlalu banyak, cukup 40 santri saja. KH. Ma’shum Lasem, KH. Abdul Hamid (Mbah Hamid) Pasuruan, Mbah Ridwan Sidogiri pun mengagumi tarekat beliau.

Abah Syekh pernah suatu ketika ada seseorang yang tidak menyukai metode Abah Syekh dalam mendidik santri lalu mengadu pada beberapa Ulama di antaranya mengadu pada KH. Ahmad Abdul Haq Dalhar (Mbah Mad) Watucongol, pada Syekh Durrahman, dan pada KH. Munif Zuhri Girikusumo namun apa yang didapat dari pengadu tersebut justru di luar dugaannya. Para Ulama tersebut justru membenarkan apa yang sudah dilakukan Abah Syekh.

KH. Hasan Asy’ari (Mbah Hasan Mangli) suatu hari langsung memutar balik mobilnya saat menyadari berpapasan dengan Abah Syekh hanya demi untuk bisa bersalaman dengan beliau. Bahkan Al-Maghfurllah KH. Abdur Rahman Wahid (Gus Dur) pernah meminta doa restu pada Abah Syekh saat menjabat sebagai Presiden RI saat itu.

Dalam kesempatan berbeda baik Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi maupun KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al-Banjari (Tuan Guru Sekumpul) pernah sowan pada Al-Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assegaf Jeddah, “Dalam daftar ini ada seseorang bernama Saeful Anwar di tempatmu,” demikian yang dikatakan Al-Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assegaf Jeddah seraya menunjukkan daftar dzurriyah Rasullullah SAW.

Dan dari informasi tersebutlah yang pernah membuat Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya pernah mencari-cari informasi tentang siapa “Saeful Anwar” dan akhirnya bertemulah beliau pada Abah Syekh di tahun 90an dan memutuskan untuk bermukim di Semarang.

Abuya As-Sayyid Muhammmad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani seorang Ulama terkemuka di Makkah yang memiliki santri ribuan dari berbagai penjuru dunia, suatu hari justru pernah bersilaturrahmi pada Abah Syekh hari di mana membuat putra bungsu Abah Syekh Gus Luqman Hakim sendiri kaget, karena sosok yang dikagumi dan ingin dijadikan Guru justru sedang duduk bersama Ayah beliau sendiri, di rumah sendiri.

Dalam percakapan beliau berdua memakai bahasa masing-masing, Abah Syekh meminta ijin untuk tetap berbahasa Jawa walaupun Sang Tamu menggunakan Bahasa Arab, anehnya beliau berdua tetap paham isi pembicaraan. Abuya As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani justru kagum dengan prinsip Abah Syekh tersebut dalam memegang teguh prinsip dan tradisi. Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Maka seyogyanya para Ahlul Bait dzurriyah Baginda Rasulullah Muhammad SAW di manapun berada haruslah menghargai dan menjunjung tinggi tradisi lokal tempatnya berada.

4. Karomah
Sejak remaja beliau sudah jadog (sakti), ilmu kebal senjata, tidak terlihat oleh musuh, merubah daun menjadi uang, sampai ketika lapar cukup memandang burung dan burungpun jatuh, sebuah keistimewaan yang bagi beliau sendiri hanyalah “dolanan bocah” (mainan anak kecil).

Jika terlambat sekolah beliau seringkali mencegat kereta api hanya dengan menggaris relnya dan terhentilah kereta api pada garis yang dibuat itu. Dalam kereta api seringkali beliau menawarkan jadi kuli panggul hanya demi menambah uang saku, dalam kereta api pula beliau berinteraksi dengan para pencopet yang ternyata punya aturan tidak boleh mencopet wanita hamil.

Saat muda Abah seringkali, pernah menjadi konsultan Presiden Soekarno era akhir (1967) dan era Pak Suharto awal berkuasa. “Ipung” tak pernah diperbolehkan mengaji, selalu mendapatkan penolakan dari para Kyai Sokaraja manakala meminta ijin untuk dijadikan santri. Sebut saja Ustadz Asy’ari, KH. Muharir, KH. Dayat dan KH. Ahmad Syatibi. Bahkan di tempat Eyang Halimi bukannya ‘Si Ipung’ diperbolehkan mengaji malah disuruh melinting tembakau. KH. Ma’shum juga menolak beliau, malahan “Ipung” dicengkiwing (diangkat kerah bajunya).

Suatu ketika KH. Jamhari yang masyhur bagus bacaan Al-Qur’annya di kalangan Kyai Purwokerto mendengar Abah Syekh muda melantunkan bacaan Al-Qur’an, beliau berkata “Bagus, bagus… saya kalah,” mendengar pernyataan demikian spontan Abah Syekh muda kaget dan matur, “Kawulo maos mekaten marga ngidolakke Panjenengan”. Sebuah peristiwa yang membuat beliau, abah Syekh memahami bahwa sebenarnya para Kyai Sokaraja menolak beliau mengaji disebabkan mereka para Kyai merasa tak pantas menjadi Guru bagi Abah Syekh muda.

5. Mencintai Budaya Indonesia
Kecintaan dan penghargaan beliau Abah Syekh pada nilai-nilai budaya lokal dicontohkan pula dengan kegitan rutin Pagelaran Wayang Kulit di setiap malam tahun baru 1 Muharam. Nilai-nilai nasionalisme juga beliau tanamkan pada para santri dengan setidaknya dengan pelaksanaan rutin upacara peringatan kemerdekaan RI setiap tanggal 17 Agustus.

Nilai-nilai itu bahkan diteruskan oleh dzuriyyah beliau hingga kini, itulah kenapa peringatan Haul Abah Syekh diperingati pada tanggal nasional-nya yaitu setiap 11 Februari

6. Referensi
Diolah dan dikembangkan dari data-data yang dimuat di situs:
Facebook: Debi Nurhidayahtullah – Ponpes Az-Zuhri

Sign up for a newsletter today!

Want the best of KWFeeds Posts in your inbox?

You can unsubscribe at any time

What's your reaction?

Leave Comment

Related Posts

Celebrity Philantrophy Amazing Stories About Stories