Islami

Paku dan Demokrasi

Hari terjanjikan itu tiba: 14 Februari 2024. Jutaan orang berdatangan ke tempat-tempat yang telah ditentukan atas nama selebrasi demokrasi. Mereka datang untuk acara akbar yang membutuhkan “kemahiran” dan “melupakan”. Kemahiran itu membuka dan melipat kembali kertas berukuran besar. Di Indonesia, demokrasi masih bekertas. Sebutan puitis tapi membingungkan: surat suara . Dulu, kita mengerti surat itu

Hari terjanjikan itu tiba: 14 Februari 2024. Jutaan orang berdatangan ke tempat-tempat yang telah ditentukan atas nama selebrasi demokrasi. Mereka datang untuk acara akbar yang membutuhkan “kemahiran” dan “melupakan”.

Kemahiran itu membuka dan melipat kembali kertas berukuran besar. Di Indonesia, demokrasi masih bekertas. Sebutan puitis tapi membingungkan: surat suara. Dulu, kita mengerti surat itu mencantumkan nama pengirim (penulis) dan penerima (pembaca). Surat memuat kalimat-kalimat untuk dimengerti dan dikenang.

Pada saat hajatan demokrasi, surat itu mengandung sejenis “perintah”, “bujukan”, dan “iseng”. Surat (suara) sah bila memenuhi ketentuan-ketentuan: ukuran, warna, jenis huruf, dan komposisi. Surat dibuat dengan anggaran negara. Surat “dikeramatkan” dalam demokrasi. Surat dianggap “bersuara”.

Surat dijumpai sesaat. Kita bersama surat dalam hitungan detik atau menit. Kita melihat sejenak, tak membiarkan kertas itu mulus. Di atas meja, tergeletak benda untuk membuat surat atau kertas itu berlubang. Di tangan, paku itu menunaikan kerja mulia. Orang-orang memberi sebutan “coblos”. Demokrasi itu berpaku.

Kertas-kertas menunggu paku. Orang-orang memenuhi hasrat berdemokrasi dengan mencoblos: menggerakkan paku agar kertas berhak dihitung bila sudah berlubang. Kita berimajinasi dua benda bukan dalam persekutuan membahagiakan.

Kertas menerima takdir. Paku bukan sekadar benda dipandang sampai bosan. Kemuliaan paku jika berhasil “merusak” kertas mula-mula diharuskan mulus dan rapi. Paku dipegang jutaan orang dalam adegan tak romantis.

Hari berdemokrasi, hari berpaku. Berangkat dari rumah, orang-orang memiliki pengalaman bersama paku-paku. Rumah dibangun dengan paku-paku. Lemari, kursi, dan meja pun kuat gara-gara paku. Di dinding, paku-paku untuk orang-orang bisa memajang jam, kalender,  dan foto.

Di kebutuhan dan peristiwa berbeda, kita melihat tiang-tiang berpaku memungkinkan orang menaruh baju, peci, jaket, topi, dan lain-lain. Di dapur, paku-paku mengesahkan “pameran” panci dan wajan.  Rumah-rumah itu album paku dalam pelbagai pemandangan dan kepentingan.

Di keseharian, orang-orang bersama paku. Mereka belum wajib memberi pemaknaan paling mulia. Kesadaran termiliki mengenai paku dalam lakon arsitektur, desain, atau kerajinan. Paku-paku menancap menghasilkan “persatuan” dan “kekuatan”. Kita mengingat paku-paku itu memerlukan palu. Tangan memegang palu. Bergerak untuk memukul paku. Di Indonesia, palu itu mencipta peristiwa bersuara.

Di sejarah Indonesia, palu sempat bermasalah dalam imajinasi kubu ideologis. Palu mengisahkan orang-orang bercap buruh atau pekerja. Di tatapan negara, palu digunakan untuk bekerja bagi orang-orang mencari nafkah. Nasib kaum pekerja keras. Palu tak sendirian. Di ingatan Pemilu 1955, palu bersama arit. Dulu, gambar palu dan arit menimbulkan gairah berpolitik untuk menang berpamrih memihak kepentingan jutaan orang.

Sejarah “berpalu” memang tak sekadar Pemilu 1955. Pada masa 1920-an, palu sudah dimengerti ideologis dan mengingatkan perlawanan. Gambar palu bersama arit, bukan paku. Pada 1965, palu turut dalam nasib berpetaka.

Kita mengingat saat hari coblosan, palu tak diperlukan bagi pemberi suara. Panitia mungkin memerlukan palu dan paku saat mendandani tempat atau memasang pelbagai alat peraga pemilu. Palu dalam kerja-kerja sementara, tak semulia paku-paku ditaruh di meja dalam peristiwa pencoblosan.

Pada hari terjanjikan, kita diminta memberi perhatian besar untuk kertas, bukan paku. Kertas-kertas dihitung bersama untuk disebut “sah” atau “rusak”. Mata melihat hasil tindakan orang mencoblos kertas dengan paku. Di babak menghitung, kita dalam ingatan dan melupakan paku. Benda itu ditinggalkan di meja atau “terbuang”, tak perlu dihitung dalam kemenangan nama-nama ingin masuk parlemen dan istana kenegaraan.

Di buku lama berjudul Pemilihan Umum 1971 terbitan Pantjuran Tudjuh (Jakarta), kita melihat gambar di sampul: tangan kanan memegang paku dan tangan kiri memegang tiga lembar kertas. Paku diakui penting dalam pemilu. Gambar paku memastikan tugas besar. Di babak terpenting, kertas dihitung tapi paku “ditinggalkan” dalam album sejarah demokratisasi di Indonesia.

Paku-paku justru bermasalah di luar tempat pemungutan suara. Sekian tahun sebelum 14 Februari 2024, jalan-jalan dan ruang publik dihiasai ribuan baliho. Konon, pemasangan baliho memerlukan paku, kawat, tali, dan lain-lain. Paku-paku menancap di dinding dan pohon. Pada tindakan terkejam, paku-paku menjadikan baliho itu kuat dan tegak dalam menampilkan foto orang-orang bernafsu politik dan logo partai politik.

Di pelbagi kota, orang-orang prihatin dan marah mengetahui paku-paku menancap di pohon menimbulkan lara dan kerusakan. Baliho terlalu dipentingkan ketimbang pohon. Baliho memang “mahapenting” dalam politik picik di Indonesia. Goenawan Mohamad (2021) menganggap “baliho itu sebuah ringkasan”. Ia melihat dan mengamati pemasangan atau pameran baliho di pelbagai kota.

“Penggubah puisi itu jengkel: Sebab wajah-wajah di baliho itu sebenarnya sederet siluman dari hasrat untuk diakui dan ambisi berkuasa – versi lunak dari raut muka raja yang sedang hendak merebut wilayah. Tak ada yang akan melihat wajah di baliho itu seperti pemuda kasmaran yang melihat di wajah kekasih sebutir bulan yang ‘menerangi hati gelap rawan’. Bahkan sembari orang duduk di kursi bus atau taksi, apalagi di atas sadel sepeda motor, tak banyak yang tergerak menatap baliho di tepi jalan itu.” Ia mengejek baliho, lupa tak melihat dan menulis tentang paku.

Di baliho-baliho, kita sering melihat gambar paku berukuran besar menancap di nomor atau nama. Baliho memberi pesan agar orang-orang menggunakan paku tapi diharapkan tepat sasaran. Paku jangan salah sasaran. Paku menentukan suara sah. Gambar-gambar paku memicu imajinasi “tajam” dan “rusak”. Paku digunakan dalam menguatkan pemasangan baliho ikut bertambah peran saat ditampilkan sebagai gambar dalam menunaikan misi demokrasi.

Iklan-iklan partai politik di televisi pun menampilkan paku. Kita melihat paku-paku tanpa merek. Paku mudah dibeli di toko besi dan bangunan. Paku-paku itu diusahakan tak berkarat atau bengkong. KPU “wajib” menampilkan gambar paku dalam iklan-iklan resmi disajikan di koran-koran. Kita ingat di bagian bawah: gambar maskot pemilu memegang kertas dan paku. Demokrasi itu berpaku.

Di kesan-kesan demokrasi, paku tak terlalu bermasalah ketimbang kertas. Di pelbagai tempat, panitia kehabisan kertas disebut surat suara. Kelebihan kertas pun dianjurkan pemusnahan agar tak digunakan untuk kepentingan-kepentingan jahat. Penghitungan kertas menimbulkan ketegangan dan debat. Paku terlibat dalam keributan bagi pihak-pihak bernafsu meraih kemenangan dan pantang kalah. Paku mengantar nama-nama berhasil menghuni parlemen.

Kita masih mungkin mengingat pemilu mutakhir dengan membaca atau mengoleksi majalah Tempo edisi 11 Februari 2024. Di sampul depan, kita melihat dua tangan memegang paku. Di situ, mata tak melihat kertas atau surat suara. Kita justru melihat ada tangan ketiga tanpa harus memegang paku. Gambar paku di sampul menguak beragam masalah dalam Pemilu 2024. Paku dalam pemaknaan penting pemilu sambil orang-orang menuruti curiga-curiga atas perwujudan langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.

Para tokoh berlagak paham politik bersorak dan meratap. Pemilu mencipta kemenangan dan kekalahan atau keberhasilan dan kegagalan. Konon, baliho-baliho diperintahkan untuk turun atau menghilang sebelum hari pencoblosan. Baliho-baliho berhasil dihilangkan dari tatapan publik seiring membiarkan paku tertinggal di pohon-pohon sampai berkarat.

Hari terjanjikan itu berlalu tapi kita masih menemukan baliho-baliho di pinggir jalan. Kemalasan melanda bagi pemasang. Janji membongkar atau menurunkan tak dipenuhi. Paku-paku masih menjadi masalah saat baliho memberi pemandangan buruk, malu, tragis, dan aib. Begitu.

Pengepul kebahagiaan dari temuan abad modern, berupa listrik, internet dan komputer. Hidup harmonis bersama barisan code dan segelas kopi kenangan.

Sign up for a newsletter today!

Want the best of KWFeeds Posts in your inbox?

You can unsubscribe at any time

What's your reaction?

Leave Comment

Related Posts

Celebrity Philantrophy Amazing Stories About Stories