Islami

Sinta Nuriyah Wahid, 21 Tahun Merawat Keberagaman dengan Sahur Keliling

Upaya merajut persatuan bangsa di tengah keragaman terus dilakukan oleh istri mendiang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Sinta Nuriyah. Salah satunya melalui budaya sahur keliling yang dimulai sejak tahun 2000 saat mendampingi Gus Dur di Istana Negara. Nyai Sinta, begitu ia kerap disapa, telah merawat budaya ini selama 21 tahun bersama masyarakat dhuafa, kelompok marjinal

Upaya merajut persatuan bangsa di tengah keragaman terus dilakukan oleh istri mendiang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Sinta Nuriyah. Salah satunya melalui budaya sahur keliling yang dimulai sejak tahun 2000 saat mendampingi Gus Dur di Istana Negara.

Nyai Sinta, begitu ia kerap disapa, telah merawat budaya ini selama 21 tahun bersama masyarakat dhuafa, kelompok marjinal, dan mereka yang beda agama, etnis maupun suku dari berbagai daerah pelosok tanah air.

Sinta menceritakan asal muasal kegiatan sahur keliling dilaksanakan. Saat itu menjelang bulan Puasa 2000 di Istana Negara dia berbincang-bincang dengan beberapa staf pribadi mengenai kegiatan selama Ramadhan. 

Salah seorang staf menawarkan, bagaimana kalau  membagikan nasi untuk makan sahur kepada kaum dhuafa, marjinal, anak-anak jalanan, serta sahur bersama mereka?

Muncullah bayangan di benak Sinta, mbok-mbok bakul yang pada pukul 03.00 WIB sudah di atas kendaraan bak terbuka. Mereka berjuang mencari sesuap nasi untuk keluarganya. Begitu juga dengan kuli-kuli bangunan yang tidurnya di bawah kolong jembatan atau tukang-tukang becak yang setiap malam tidur meringkuk di becaknya.

Sinta lantas berpikir tentu kaum itu tidak bisa makan sahur dengan baik, bila ingin berpuasa. “Saya jadi teringat sabda Nabi (Muhammad) yang bunyinya, “Tidak beriman seseorang, jika ia tidur nyenyak karena kekenyangan, sementara tetangganya dibiarkan kelaparan,” ujar Sinta di sela-sela menerima penghargaan Doktor Honoris Causa (H.C) di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga atau UIN Yogya pada Rabu, 18 Desember 2019 silam.

Sinta berinisiatif makan sahur bersama mereka kaum dhuafa, marjinal, tukang becak, pengamen, pemulung, dan sebagainya. Pelaksanaannya juga tidak di tempat yang mentereng dan terang benderang, melainkan di kolong jembatan, dekat terminal atau stasiun, di tengah pasar, di lokasi bencana.

Kenapa makan sahur, bukan buka puasa bersama? Menurut Sinta kegiatan buka bersama sudah umum dilakukan bahkan di kota-kota besar. Orang berlomba-lomba menyelenggarakan buka puasa bersama, sekalipun penyelenggara dan pesertanya banyak yang tidak berpuasa.

Aspirasi warga miskin yang didapat saat Sahur Keliling menurut Sinta dijadikan masukan untuk membuat kebijakan yang berdampak pada mereka. Sahur Keliling ini terus dilakukan Sinta, meski Gus Dur tak lagi menjadi presiden sejak 2001.

Tetapi selama 10 tahun terakhir, Sinta lebih menekankan masalah toleransi dalam setiap ceramahnya. “Intoleransi kian menguat, kerukunan itu digoyang-goyang, negara dan bangsa itu selalu diteror dan sebagainya, saya merasa bahwa kebhinekaan itu harus diperkuat,” kata Sinta dalam wawancara bersama wartawan BBC News.

Bagi Sinta, berpuasa bukan hanya merupakan rutinitas keagamaan tahunan, tetapi di dalamnya banyak terkandung pesan moral serta ajaran nilai-nilai luhur yang harus diterapkan. Oleh karena itu, dia mengajak semua komponen suku dan agama di Indonesia untuk bergabung dalam kegiatan sahur keliling.

“Kita ajak yang Katolik, Protestan, Hindu, Budha, Konghucu. Ternyata mereka meresponsnya dengan baik, mereka merasa dianggap,” ujarnya.

Sejak itu, kegiatan Sahur Keliling tak pernah absen melibatkan para pemuka agama bahkan lokasi sahur bersama kerap diadakan di gereja atau vihara. Pada kegiatan Sahur Keliling Ramadhan tahun 2024 ini dilaksanakan di 28 titik.

Hambatan
Tak mudah bagi Sinta Nuriyah merajut perdamaian lewat Sahur Keliling. Sering kali dalam berbagai kesempatan ia mendapat teguran, hujatan, fitnah, beragam peristiwa kerusuhan hingga teror. Ia pernah mendapatkan penolakan dari ormas Islam di Semarang dan Belitung.

“Berbuka di tempat seperti itu akan merontokkan akidah orang Islam katanya gitu. Haduh kok murah banget ini orang Islam,” kata Sinta heran.

Meski begitu Sinta memilih pendekatan yang berbeda terhadap kelompok yang menentangnya. Ia merangkul ormas tersebut dengan kasih sayang.

“Kita dekati mereka dengan kasih sayang. Selama ini mereka ditempa dengan kekerasan sampai akhirnya hatinya membeku. Kalau dekati dengan kasih sayang sebagaimana manusia pasti hatinya tersentuh. Tidak mungkin manusia tidak punya hati nurani,” kata Nyai Sinta.

Pentingnya merawat toleransi 
Nyai Sinta menyebut dalam bukunya Perempuan dan Pluralisme, ada dua arus yang menggerus beragam tradisi yang sarat nilai demokrasi dan toleransi.

Pertama, maraknya gerakan puritanisme agama yang antitradisi. Gerakan ini tidak bisa menerima khzanah tradisi yang dianggap sebagai bid’ah. Sebagai gantinya, mereka menawarkan budaya Islam yang bias dengan tradisi Arab.

Kedua, kebudayaan dan tradisi lokal dilindas oleh arus modernitas yang bias dengan tradisi dan budaya Barat. Kedua arus tersebut sama-sama menyebabkan sikap intoleran. 

Bagi perempuan yang pernah melakukan analisis kritis terhadap kitab Uqudullujain fi Bayani Huquq al-Zauijain karya Syekh Nawai al-Bantani ini, kesadaran untuk menerima kodrat sebagai bangsa yang beragam suku, etnik, agama, dan budaya yang merupakan sunnatullah, melahirkan berbagai norma dan etik untuk saling menghargai dan menghormati.

Perbedaan bukanlah sumber konflik dan perpecahan, melainkan menjadi keindahan dan kekayaan. Karenanya, Sinta Nuriyah tidak pernah lelah merawat tradisi Sahur Keliling yang telah melibatkan banyak pihak lintas iman dan budaya, seperti Yayasan Puan Amal Hayati, yayasan yang didirikan oleh Nyai Sinta pada tahun 2001.

Penghargaan
Atas kegigihan dan semangatnya memperjuangkan martabat kemanusiaan, memperjuangkan keadilan perempuan maupun rakyat yang tertindas, ia pernah mendapat penghargaan, ‘100 Orang Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia’ Versi Majalah Time, dalam kategori ‘Tokoh Pejuang Perempuan dan Kaum Minoritas (2018).

Kemudian ada juga penghargaan Perempuan Paling Berpengaruh Versi Harian New York Times (2107), dan penghargaan internasional maupun nasional lainnya.

Atas kiprahnya dalam merawat nilai-nilai toleran serta gerakan pluralisme ini, mengantarkan Nyai Sinta mendapat anugerah Gelar Doktor Honoris Causa (H.C) di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 18 Desember 2019.

Pengepul kebahagiaan dari temuan abad modern, berupa listrik, internet dan komputer. Hidup harmonis bersama barisan code dan segelas kopi kenangan.

Sign up for a newsletter today!

Want the best of KWFeeds Posts in your inbox?

You can unsubscribe at any time

What's your reaction?

Leave Comment

Related Posts

Celebrity Philantrophy Amazing Stories About Stories