Islami

Biogafi KH. Muhammad Zen Sukri, Mursyid Tarekat Sammaniyah di Palembang

Daftar Isi: 1.    Riwayat Hidup dan Keluarga 1.1  Lahir 1.2  Riwayat Keluarga 1.3  Wafat 2.     Sanad Ilmu dan Pendidikan 2.1  Pendidikan 2.2  Guru-Guru 3.     Perjalanan Hidup dan Dakwah 3.1  Mendirikan Pondok Pesantren 3.2  Menjadi Mursyid Tarekat 3.3  Kiprah di Nahdlatul Ulama 4.    Referensi 1.  Riwayat Hidup dan Keluarga  1.1 Lahir KH. Muhammad Zen Syukri lahir pada

Daftar Isi:

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga
1.3  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Pendidikan
2.2  Guru-Guru

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Mendirikan Pondok Pesantren
3.2  Menjadi Mursyid Tarekat
3.3  Kiprah di Nahdlatul Ulama

4.    Referensi

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga 

1.1 Lahir
KH. Muhammad Zen Syukri lahir pada hari Senin Subuh, 10 Oktober 1919 M, bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal. Putra bungsu dari pasangan K.H. Hasan Syakur dengan Nyimas Hj. Sholha Azhari. Berasal di kampung 26 Ilir, Jeramba Karang Palembang.

1.2 Riwayat Keluarga
KH. Muhammad Zen Syukri menikah pada tahun 1941 dengan seorang perempuan berketurunan Arab dan juga merupakan jiran di kampung 26 Ilir. Setelah pulang dari nyantrinya di Tebuireng dan beberapa Kyai di Jawa Timur. Dari pernikahan pertama dengan Nyai Sholha ini beliau dikaruniai anak;
1. Hj. Fatimah (almh),
2. Gus M. Husni Ateh
3. Gus Amin Fauzi,
4. Gus Ahmad Riduan (alm)
5. Gus Helwiyah.

KH. Muhammad menikah kembali setelah wafatnya istri pertama (Nyai Sholha Azhari). Pernikahan kedua beliau dengan Hj. Onah Siddik pada tanggal 13 Rajab 1834 bertepatan dengan tanggal 27 Oktober 1966. Dari pernikahan kedua ini beliau dikaruniai anak;
1. Nyai Zainnunah (almh)
2. Nyai Izzah,
3. Nyai Luthfiah,
4. Aisyah
5. Ramzul Ikhlas
6. Su’ada’
7. Zumroh
8. Si kembar Ibnu dan Syukron,
9. Tamam Asyro.

Dari kedua pernikahan ini beliau dikaruniai lebih dari 68 cucu.

1.2 Wafat
KH. Muhammad Zen Syukri, wafat pada hari Kamis pukul 16:10 WIB 22 Maret 2012. Beliau dimakamkan di samping Masjid Nurul Hidayah Cinde, Palembang.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan

2.1 Pendidikan
KH. Muhammad Zen Syukri memulai pendidikan dasarnya di Madrasah Ahliyah Depaten, 27 Ilir Palembang hingga tingkat Tsanawiyyah. Kemudian saat remaja hendak melanjutkan studinya ke Saudi Arabia mengurungkan niatnya karena tidak direstui ayahnya. Pelabuhan akademik selanjutnya ialah Pesantren Tebuireng.

Di sinilah KH. Muhammad Zen nyantri memperdalam ilmu agama. Beliau mengabdikan diri sebagai khadam dari KH. Hasyim Asy’ari, mengurus keperluan sehari-hari sang guru, membersihkan rumah, melipat pakaian, hingga membawa kitab sang guru ketika mengajar.

2.2 Guru-Guru

  1. KH. Hasan Syakur (ayah),
  2. Nyimas Hj. Sholha Azhari (ibu),
  3. KH. Muhammad Akib Muara Siring,
  4. KH. Zainal,
  5. KH. Kemas Abdul Roni Azhar,
  6. KH. Masagus Nanang Masri,
  7. KH. Abdul Qohhar,
  8. KH. Muhammad Idrus bin H. Abdul Manan,
  9. Kyai Mattjik,
  10. KH. Mas Agus Abdurrohman,
  11. Kyai Sayyid Salim Jidan,
  12. KH. M. Hasyim Asy’ari,
  13. KH. Abdul Wahab Chasbullah,
  14. KH. Bisri Syansuri.

3. Perjalanan Hidup dan Dakwah

3.1 Mendirikan Pondok Pesantren
Pondok pesantren Muqimus Sunnah Palembang salah satu lembaga formal yang berbasis pesantren didirikan pada tahun 2008 oleh salah satu tokoh ulama Palembang yakni KH. Muhammad Zen Sukri. Dan sekarang yang mengambil alih pimpinan ialah putri kandungnya yakni Dr. Hj. Izzah Zen Syukri dan sebagai mudirnya yaitu Ust H. Husni Thamrin Yunus.

3.2 Menjadi Mursyid Tarekat
KH. Muhammad Zen Syukri juga dikenal sebagai khalifah tarekat Sammaniyah di Palembang. KH. Muhammad Zen Syukri mendapatkan ijazah tarekat Sammaniyah dari ayahnya sendiri yaitu Hasan Ibn ‘Abd al-Shukur dan masih sempat menimba ilmu dengan kakeknya yaitu Syaikh Muhammad Azhari Ibn ‘Abd Allah al-Jawi al-Palimbani.

Melalui KH. Muhammad Zen Syukri inilah, komunitas tarekat Sammaniyah di Palembang mengalami kemajuan yang cukup pesat, beliau memiliki kelompok pengajian yang bernama Majelis Ta’lim Ahlus Sunnah Wal Ja-ma’ah yang tersebar di sejumlah masjid di Palembang.

Sebagai guru Tarekat Sammaniyah, KH. Muhammad Zen Syukri memiliki banyak murid di Palembang yang meliputi buruh, pedagang, pegawai, dan mahasiswa. Perkembangan yang pesat ini erat kaitannya dengan kemasyhuran KH. Muhammad Zen Syukri di Palembang. Beliau adalah seorang ulama sufi kharismatik yang diakui masyarakat Palembang.

KH. Muhammad Zen Syukri adalah alumni Pesantren Tebuireng yang menjadi murid Syaikh Hasyim Asy’ari yang menguasai seluruh bidang ilmu agama Islam dengan spesialisasi pada tauhid dan tasawuf. Peranan yang dilakukan oleh KH. Muhammad Zen Syukri dalam memelihara dan mempertahankan tarekat Sammaniyah ini adalah dengan mengadakan pengajian-pengajian di masjid dan langgar bahkan di rumahnya sendiri.

Pengajaran dan bimbingan diberikan menurut tiga tingkatan murid tersebut sehingga masing-masing tingkatan mendapat materi yang sesuai dengan kapasitas masing-masing. Pada tingkatan mubtadi materi utama yang diberikan adalah dasar-dasar keimanan dan ketauhidan dengan menggunakan kitab-kitab al-‘Ashariyah.

Pada tingkatan mutawwasit materi yang disampaikan berupa tasawuf akhlaqi dengan menggunakan kitab-kitab karya Imam al-Ghazali dan tingkatan muntahi materi yang diberikan berupa tasawuf falsafi (teosofi) dengan menggunakan kitab-kitab karya Ibn al-‘Arabi.

3.3 Kiprah di Nahdlatul Ulama
Sebagai salah seorang santri Tebuireng dan murid KH. Hasyim Asy’ari, beliau mendapat posisi terhormat di pengurusan NU Palembang. Kemampuan yang  beliau bawa dari pesantren Tebuireng bukan hanya penguasaan dan kemahiran dalam menyampaikan ilmu agama, tetapi juga kecakapan berorganisasi, sehingga NU di Palembang terus mencapai kemajuan.

Pada tahun 1943 beliau dipilih sebagai Ketua Tanfidziyah NU Cabang Palembang. KH. Muhammad Zen Syukri juga rajin mengadakan pengajian ke berbagai pelosok daerah. Dengan kedalaman ilmunya, pada tahun 1950 beliaumendapat kehormatan untuk mengajar di Masjid Agung Palembang. Tidak mudah untuk dapat diterima sebagai pengajar di Masjid Agung kalau keilmuannya tidak benar-benar mumpuni.

Di sana, beliau bertugas mengajarkan fiqih, tauhid, dan terutama tasawuf. Akhirnya, KH. Muhammad Zen Syukri menjadi pemimpin tertinggi serta imam di Masjid Agung. Kesibukan mengelola Masjid Agung tidak menghambat aktivitas KH. Muhammad Zen Sukri di NU, bahkan beliau diangkat menjadi pengurus NU Wilayah Sumatera Selatan dan terpilih menjadi Rais Am Syuriah (Ketua Umum Dewan Syuro) NU Wilayah Sumatera Selatan selama tiga periode, mulai 1984 hingga 1999.

KH. Muhammad Zen Sukri juga sempat terpilih sebagai salah seorang mustasyar (penasihat) Pengurus Besar NU (PBNU). Kemudian atas ketokohannya di NU beliau dipilih sebagai anggota MPR sebagai wakil daerah.

4. Karya-Karya
– 
Beberapa buah buku yang ditulis oleh Zen Syukri antara lain:
– Pedoman Puasa (1954),
– Risalah Tauhid (1960),
– Rahasia Sembahyang,
– Melepaskan diri dari Bahaya Syirik (1964),
– Keimanan kepada Allah SWT (1972),
– Al-Qurbah (Pendekatan Diri kepada Allah),
– Menuju Haji yang Mabrur,
– Qut Al-Qulbi (Santapan Rohani),
– Sejarah Thariqat Sammanniyah Berkembang di Palembang,
– 10 Iman dan Menghadapi Maut,
– Menyegarkan Iman dengan Tauhid,
– Nur ‘Ala Nur (Cahaya di atas Cahaya),
– Kumpulan doa di Tanah Suci.

5. Referensi
Diolah dan dikembangkan dari data-data yang dimuat di situs: 

  1. muqimussunnah.com
  2. Alif.ID
  3. Manaqib Shaykh Muhammad Samman al-Madani”, karya Syekh Muhammad Azhari al-Palimbani, (Makkah: Al-Mirriyah, 1331)

Artikel ini sebelumnya dibuat pada tanggal 5 November 2023 dan kembali diedit dengan penyelarasan bahasa pada tanggal 22 Maret 2024

Sign up for a newsletter today!

Want the best of KWFeeds Posts in your inbox?

You can unsubscribe at any time

What's your reaction?

Leave Comment

Related Posts

Celebrity Philantrophy Amazing Stories About Stories