Islami

Eyang Djuwahir, Pujangga Sepuh Pencipta ‘Sekar Sari Kidung Rahayu’ Tafsir atas Ayat Al-Qur’an

Pramila nalika gesang haywa mung arta-bandha kang den upadi ing tembe bakal keduwung Sakehing donya-brana tan pedah kalamun tanpa srana telu: Iman, Islam lawan Ihsan minangka sanguning pati. Bait ketujuh sekar Pangkur laras Slendro Pathet 6 pun tuntas mengalun dari bibir tua H Achmad Djuwahir Anom Widjaja, suatu melam menjelang Ramadhan lalu. Di usianya yang

Pramila nalika gesang
haywa mung arta-bandha kang den upadi
ing tembe bakal keduwung
Sakehing donya-brana
tan pedah kalamun tanpa srana telu:
Iman, Islam lawan Ihsan
minangka sanguning pati.

Bait ketujuh sekar Pangkur laras Slendro Pathet 6 pun tuntas mengalun dari bibir tua H Achmad Djuwahir Anom Widjaja, suatu melam menjelang Ramadhan lalu. Di usianya yang sudah menginjak 87 tahun, tentu suaranya tak lagi merdu ketika di usia utama. Eyang Djuwahir—panggilan sayang anak cucunya— adalah budayawan dan pujangga dari Banjarnegara Jawa Tengah. Sebutan pujangga tak berlebihan tersemat untuknya. Dialah penulis Buku Macapat Sekar Sari Kidung Rahayu.  

Lahir di Banjarnegara, 15 Januari 1937, Djuwahir lulus Sekolah Guru Agama (SGA) Purwokerto tahun 1959. Ia memulai karir dari guru SD, Kepala Sekolah, Penilik, hingga menjabat Kepala Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Banjarnegara. Dalam dunia politik, Djuwahir pernah menjadi anggota DPRD periode 1999-2004.

Ia juga adalah sesepuh warga Muhammadiyah Banjarnegara yang sangat dihormati, dan kerap tampil mengisi ceramah pengajian di berbagai tempat. Di masa mudanya, Djuwahir dikenal sebagai panatacara (MC Jawa) yang kondang serta guru panatacara yang punya banyak siswa. Beliau ahli dalam adat tata cara Jawa dalam ritual pernikahan. 

Latar belakang dan perjalanan panjang dalam jagad pendidikan dan syiar agama, serta berbekal pengetahuan seni budaya yang lengkap inilah, yang mendorong lahirnya Sekar Sari Kidung Rahayu. Melalui karyanya, Anomwidjadja mengombinasikan nilai-nilai Al-Qur’an dengan budaya lokal, yaitu budaya Jawa. Konsep Sekar Sari Kidung Rahayu adalah penafsiran terjemah ayat suci Al-Qur’an melalui muatan budaya atau tembang macapat Jawa, yang jumlahnya ada 11 dari Mijil hingga Pucung. 

Buku Sekar Sari Kidung Rahayu merupakan kumpulan tembang (sekar) macapat yang berisi tafsir atas terjemahan Al-Qur’an. Sudah ada 4 buku Sekar Macapat buah karya Eyang Djuwahir yang ditulis sejak muda, yakni Sekar Macapat Terjemah Juz-amma, Sekar Macapat Terjemah Yaasin, Sekar Macapat Terjemah Al-Baqarah, dan Sekar Macapat Terjemah Ali Imran. 

“Orang Jawa itu kan seneng nembang, seneng guneman (bersenandung-red). Dengan lagu, kadang materi pelajaran gampang nyantel, termasuk ajaran agama Islam. Melalui tembang pesan mudah diingat,” ujar Eyang Djuwahir yang berperawakan tinggi dan masih tegap. Matanya yang kelabu masih menyisakan semangat. Sisa-sisa kegagahan terlihat jelas.

Kepada Arina.id, Eyang Djuwahir memilihkan tembang Pangkur yang berisi tafsir terjemah Surat At Takatsur (Bermegah-Megahan) yang ada di buku Sekar Macapat Terjemah Juz-amma. Dalam terjemah Surat At Takatsur ini, ia membuat tujuh bait tembang macapat, sementara isinya mengingatkan manusia agar tak terlena dengan silaunya kehidupan dunia. 

“Semua makhluk akan mati, dan setelahnya kita sendiri yang harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang dikerjakan selama di dunia fana ini. Harta benda, tidak akan dibawa mati,” pesannya.

Diterbitkan Bentang
Putra Eyang Djuwahir, Sutjinto Djatiriadi yang setia mendampingi mengatakan, pada tahun 1992 buku Sekar Sari Kidung Rahayu pernah diterbitkan oleh Penerbit Bentang bekerja sama dengan Masyarakat Puitika Indonesia pimpinan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dan IKIP Muhammadiyah Yogyakarta, serta mendapat kata pengantar KH. AR. Fachrudin yang merupakan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah kala itu.

Djuwahir pernah berpesan kepada Sutjinto untuk melestarikan Sekar Sari Kidung Rahayu. Bukan hanya dicetak, namun juga direkam. Maka pada tahun 2009, Sutjinto membawa ayahnya ke studio rekaman untuk merekam tembang-tembang macapat itu. 

“Butuh waktu setahun lebih untuk merekam semua tembang, mengingat saat itu pun Eyang sudah sepuh sehingga butuh  tenaga, waktu dan suasana yang nyaman untuk rekaman,” kenang Sutjinto.

Dijual online
Sutjinto punya rencana ingin mencetak ulang buku tersebut. Awalnya, Sutjinto melihat unggahan media sosial penulis serial Babad Banyumas, Nassirun Purwokartun.

Di Padepokan Bale Pustaka Mandirancan Banyumas, Nassirun mendirikan paguyuban macapat ‘Pangastawa’ yang sedang belajar macapatan dari buku Sekar Sari Kidung Rahayu karangan ayahnya. Sutjinto pun langsung mengajak ayahnya ke padepokan Bale Pustaka untuk macapatan bersama anggota Paguyuban Pangastawa.

“Dari obrolan dengan teman-teman di sini saya tahu, buku Sekar Sari Kidung Rahayu ternyata banyak beredar di toko online dengan harga yang lumayan mahal,” ungkapnya.

Hak cipta di tangan penulis
Sutjinto tak mempermasalahkan buku tersebut beredar dalam perniagaan jagad maya, meski sang penulis tak mendapatkan royalti. Namun, ia ingin menunjukkan bakti sebagai anak untuk merawat karya-karya ayahnya. Ia ingin mencetak ulang buku Sekar Sari Kidung Rahayu. Dan kini, hak cipta total ada di tangan Djuwahir Anom Widjaja, ayahnya.

“Eyang berpesan, yang penting syiar agamanya sampai. Namun, kami ingin memberikan penghargaan kepada orang tua kami dengan mencetak lagi secara ekslusif,” ucap Sutjinto sambil menunjukkan bukti kepemilikan hak cipta buku tersebut.

Untuk hal ini, Sutjinto juga berharap kepada pembaca agar bisa membantu penerbitan buku Sekar Sari Kidung Rahayu untuk syiar Islam. Ia bersyukur, di era digital ini banyak channel Youtube yang menampilkan konten Sekar Sari Kidung Rahayu. 

Djuwahir Anom Widjaja dan anaknya berharap, melalui buku dan konten Sekar Sari Kidung Rahayu itu, masyarakat terutama para pendidik dan pengajar dapat memahami dan meneruskan penyampaian karya tafsir yang ada dalam tembang macapat itu untuk syiar Islam, sambil  menjaga  serta melestarikan budaya lokal yang ada. 

“Semoga Sekar Sari Kidung Rahayu akan menjadi warisan kami untuk anak cutu, dan berguna untuk syiar agama, yang menyebarkan benih-benih kebajikan kepada sesama,” pungkas ayah dan anak ini kompak.

Pengepul kebahagiaan dari temuan abad modern, berupa listrik, internet dan komputer. Hidup harmonis bersama barisan code dan segelas kopi kenangan.

Sign up for a newsletter today!

Want the best of KWFeeds Posts in your inbox?

You can unsubscribe at any time

What's your reaction?


    Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 227
    Awesome
    Awesome

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 15
    EW
    Ew!

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 12
    FUNNY
    Funny

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 9
    LOL
    Lol

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 99
    Loved
    Loved

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 54
    OMG
    Omg!
Leave Comment

Related Posts

Celebrity Philantrophy Amazing Stories About Stories