Islami

Atmosfer Ramadhan di Negeri Tirai Bambu

Menjalani puasa di Tiongkok tentu saja tidak sama dengan di Indonesia. Ramadhan di Negeri Tirai Bambu ini tampak tak berbeda dengan hari-hari biasa di sana. Meskipun demikian, hal tersebut memberikan atmosfer tersendiri bagi Muslim di sana. Virdika Rizky Utama, misalnya, yang merasakan puasa di tempat yang telah ditempatinya di tahun kedua ini lebih privat. Sebab

Menjalani puasa di Tiongkok tentu saja tidak sama dengan di Indonesia. Ramadhan di Negeri Tirai Bambu ini tampak tak berbeda dengan hari-hari biasa di sana. Meskipun demikian, hal tersebut memberikan atmosfer tersendiri bagi Muslim di sana.

Virdika Rizky Utama, misalnya, yang merasakan puasa di tempat yang telah ditempatinya di tahun kedua ini lebih privat. Sebab, Ramadhan di sana dijalankan tanpa keramaian layaknya di tanah air yang menjelang buka hingga sahur pun terasa betul suasananya. Hal demikian ini, menurutnya, justru membuat puasanya terasa lebih khusyuk.

Tidak seperti di Indonesia yang buka bersama berulang kali dengan sejumlah komunitasnya, puasa di Tiongkok tidak demikian. Sebab, kegiatan keagamaan tidak bisa diselenggarakan begitu saja, terlebih di tempat publik seperti kampus.

Karenanya, suasana puasa akan sedikit tampak di masjid. Di Shanghai, tempatnya menempuh studi, hanya ada 8 masjid. Paling dekat yang bisa dijangkau juga lumayan menempuh waktu, sekitar 6 km dari asrama yang ditempatinya.

“Biasanya tiap malam ada bazar, tempat makan,” kata penulis buku Menjerat Gus Dur itu kepada Arina pada Selasa (26/3/2024).

Puasa di sana dijalaninya tak jauh berbeda dengan Indonesia. Karenanya, untuk durasi puasa sendiri tidak menjadi masalah baginya. Puasa di sana dimulai selepas Subuh. Kemudian, berbuka pun dilakukan setelah menunaikan shalat Maghrib.

“Tahun ini lebih sebentar dari tahun lalu. Sekarang semakin 14 jam lebih karena udah mulai ‘otw’ summer. Subuh ngikutin NU Online, 4.22  WiB dan Maghribnya 18.16 WIB,” ujarnya.

Untuk makan sahur sendiri, ia biasanya membelinya sekalian saat berbuka dan menyimpannya di lemari pendingin. Saat hendak berbuka, ia menghangatkannya di microwave.

Sebagai mahasiswa, di asrama tempatnya tinggal, ia juga sendiri sebagai Muslim di antara rekan-rekannya dari Indonesia. Namun, mereka sangat menghormati keberadaan dan kondisinya yang berpuasa. Tak ayal, saat bersama, mereka enggan makan dan minum di hadapannya atau bahkan menunggu waktu berbuka.

“Kalau pesan makan, mereka akan ngasih tahu ini ada kandungan babinya atau tidak,” kata Virdi.

Sikap demikian ini mengingatkannya kepada sosok yang pernah ia teliti secara mendalam, yaitu Gus Dur. “Demokrasi bukan banyak-nanyakan, seberapa kita bisa melindungi yang minoritas,” katanya sebagaimana mengutip Gus Dur.

Untuk mengobati kerinduannya kepada suasana Ramadhan di tanah air, Virdika mengikuti kegiatan buka bersama di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Shanghai. Di sana, ia bisa menikmati makanan Indonesia. Walaupun tetap beda rasanya, tetapi setidaknya ia bisa merasakan kembali kuliner Indonesia, seperti telor balado, lontong sayur, dan sebagainya. Hal itu pun diikutinya pada Selasa (26/3/2024).

Sementara makanan khas Ramadhan yang paling banyak adalah khas Uighur, dengan daging kambing atau sapi sebagai bahan utamanya. Meskipun pada mulanya merasa aneh dan kaget, tetapi pada akhirnya ia mulai terbiasa.

“Awal-awal secara rasa agak kaget. Dimakan tuh bukan pedas, tapi kebas,” ujarnya.

Pengepul kebahagiaan dari temuan abad modern, berupa listrik, internet dan komputer. Hidup harmonis bersama barisan code dan segelas kopi kenangan.

Sign up for a newsletter today!

Want the best of KWFeeds Posts in your inbox?

You can unsubscribe at any time

What's your reaction?

Leave Comment

Related Posts

Celebrity Philantrophy Amazing Stories About Stories