Islami

Biografi KH. M. Hasyim Mochtar El-Husaini, Pendiri Pesantren Hidayatullah Martapura, Kalimantan Selatan

Daftar Isi: 1.     Riwayat Hidup dan Keluarga 1.1   Lahir 1.2   Riwayat Keluarga 1.3   Wafat 2.      Sanad Ilmu dan Pendidikan 2.1   Pendidikan 2.2   Guru-Guru 1.  Riwayat Hidup dan Keluarga 1.1 Lahir KH. M. Hasyim Mochtar El-Husaini Lahir di Pasayangan, Martapura pada tanggal 13 April 1918, beliau merupakan anak ketiga dari 12 orang bersaudara

Daftar Isi:

1.     Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1   Lahir
1.2   Riwayat Keluarga
1.3   Wafat

2.     Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1   Pendidikan
2.2   Guru-Guru

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir
KH. M. Hasyim Mochtar El-Husaini Lahir di Pasayangan, Martapura pada tanggal 13 April 1918, beliau merupakan anak ketiga dari 12 orang bersaudara dari pasangan H. Muchtar Husen dengan Hj. Salamah Abdul Mutholib.

1.2 Riwayat Keluarga
Pada usia yang masih muda, KH. M. Hasyim Mochtar menikah dengan Nyai Hj. Sofiyah Nawawi, yang tidak hanya menjadi pasangan hidupnya, mereka mengabdikan diri dalam berbagai aktivitas keagamaan dan sosial, memberikan kontribusi yang berarti bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Kebersamaan mereka tidak hanya terbatas pada rumah tangga, tetapi juga meluas ke dalam kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan umat serta menyebarkan nilai-nilai keislaman. Dari pernikahan beliau dikaruniai 5 orang anak, yakni:
1. Nyai Siti Romlah (Alm),
2. Drs. Fuad Fahruddin (Alm),
3. Nyai Faridah (Alm),
4. Nyai Hj. Mahmudah (menikah dengan KH. M. Shaleh Abdurrahim, Lc),
5. Nyai Fadlullah (Alm).

1.3 Wafat
KH. M. Hasyim Mochtar wafat pada hari Sabtu Tanggal 19 Shafar 1406 H/2 November 1985 M, dalam usia kurang lebih 67 tahun dan dimakamkan dikompleks Pemakaman Muslimin Karangan Putih, Keraton, Martapura.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan

2.1 Pendidikan
KH. M. Hasyim Mochtar El-Husaini dibesarkan dalam keluarga yang kental dengan keislaman dan penuh dengan nilai-nilai agama. Sejak masa mudanya di Pondok Pesantren Darussalam Martapura, beliau menunjukkan komitmen yang kuat terhadap pendidikan agama dan pengabdian kepada masyarakat.

Setahun setelah menikah, beliau pergi ke Tanah Suci Makkah bersama beberapa ulama terkenal seperti KH. Seman Mulia, KH. Salman Djalil, dan lainnya. Mereka berkuliah di Masjidil Haram Makkah, dan kemudian KH. Hasyim Muchtar melanjutkan studinya ke Ma’had Ilmi di Arab Saudi.

2.2 Guru-Guru
1. Syekh KH. M. Kasyful Anwar,
2. Sayyid Muhammad Amin Al-Kutbi,
3. Syekh Ali Abdullah Banjar,
4. Syekh Hasan Al-Masysyath,
5. Syekh Umar Hamdan,
6. Sayyid Alwi Al-Maliki,
7. Syekh Abdul Qodir Al-Mandzili,
8. Syekh Abdullah Al-Injeliji.

3.1 Mendirikan Pesantren
KH. M. Hasyim Mochtar El-Husaini, bersama KH. M. Nashrun Thahir dan KH. Ahmad Nawawi Marfu, mendirikan Pondok Pesantren Hidayatullah pada 1 Muharram 1370 H/13 September 1950 M. Mereka dikenal sebagai “3 serangkai muassis

4. Karya-Karya
Semasa hidup beliau pernah menulis kitab:
– Tarikh Al Islami,
– Syarah Matan Bayquniyah.
– Ilmu Tauhid.

5. Keistimewaan
Sangat Disiplin

Pada tahun 1982, KH. M. Hasyim Mochtar El-Husaini masih menjabat sebagai Pimpinan Umum Pondok Pesantren Hidayatullah Martapura. Meskipun berusia senja, beliau tetap aktif mengajar di pondok tersebut. Beliau menggunakan sepeda ontel tua untuk pergi dari rumah di Pesayangan ke Pondok Pesantren Hidayatullah di Jl. Pangeran Hidayatullah dan sebaliknya.

Saat tiba di pondok, beliau menunggu di depan pagar untuk para santri yang telat dengan aturan bahwa setiap keterlambatan setelah pukul 07.00 WITA akan dikenakan denda sebesar Rp100. Aturan ini membantu meningkatkan kedisiplinan para santri agar datang lebih awal ke sekolah.

Ingatan yang Kuat
KH. M. Hasyim Mochtar El-Husaini memiliki keistimewaan dalam hapalan hadis yang sangat kuat. Suatu ketika, saat melintas di luar sebuah ruang kelas, beliau melihat seorang guru menuliskan beberapa hadis di papan tulis. Dengan cepat, beliau mengetahui ada kesalahan pada salah satu hadis yang ditulis guru itu.

Tanpa diduga, beliau memasuki ruang kelas, menunjuk kesalahan tersebut, dan membantu guru tersebut memperbaiki kesalahan tersebut. Meski jarak antara beliau dan papan tulis sekitar 6 meter, KH. Hasyim Mochtar masih bisa mengamati kesalahan tulisan hadis dengan jelas.

6. Referensi
Diolah dan dikembangkan dari data-data yang dimuat di situs: ponpeshidayatullahtamanhudaya.blogspot.com

Sign up for a newsletter today!

Want the best of KWFeeds Posts in your inbox?

You can unsubscribe at any time

What's your reaction?

Leave Comment

Related Posts

Celebrity Philantrophy Amazing Stories About Stories