Islami

Pasa di Modjokuto (3): Saat Darus

Setelah menjalankan menjalankan tarawéh, kalangan santri biasanya tidak langsung pulang dari langgar atau masjid. Mereka masih harus melanjutkan rangkaian ibadah lainnya, yakni darus, membaca Al-Qur'an secara berjemaah yang sangat ditekankan selama bulan puasa. Banyak sekali yang melakukan darus di langgar. Biasanya ibu-ibu mengirimkan makanan dan minuman dari rumah. Sambil melakukan darus, para santri juga makan untuk

Setelah menjalankan menjalankan tarawéh, kalangan santri biasanya tidak langsung pulang dari langgar atau masjid. Mereka masih harus melanjutkan rangkaian ibadah lainnya, yakni darus, membaca Al-Qur’an secara berjemaah yang sangat ditekankan selama bulan puasa.
Banyak sekali yang melakukan darus di langgar. Biasanya ibu-ibu mengirimkan makanan dan minuman dari rumah. Sambil melakukan darus, para santri juga makan untuk kedua kalinya—meski kali ini tidak harus ada unsur nasi. Bagi orang Jawa, tanpa nasi, tentu saja tidak bisa dihukumi sebagai makan. 

Menarik, karena Clifford Geertz menempatkan darus sebagai basis konflik lainnya selain tarawéh. Konflik bukan hanya terkait dengan metode darus, tetapi juga pandangan keagamaan tentang nilai ibadah darus, orientasi pekerjaan dan ekonomi. Dalam The Religion of Java (1960), Geertz menulis:

“In general Muhammadiyah people simply do not do the darus at all, considering it pretty much of a kolot pattern anyway, but the simultaneous system is embraced by NU urbanites and the more moderate modernists who simply cannot afford to sit up all night chanting the Koran but cannot bring themselves to discard the darus altogether.” (hal. 222). 

Orang Muhammadiyah tidak mau darus. Alasannya sepele, itu merupakan cara santri-santri yang kolot. Meski begitu, tidak semua kalangan modernis menolak darus, sebagian mereka—bersama dengan kalangan NU perkotaan, tetap melakukan darus tapi tidak dengan semalaman duduk di langgar seperti yang umum dilakukan oleh para santri ‘kolot’. 

Kalangan modernis itu tidak kuat duduk berlama-lama. Sebagiannya karena alasan pekerjaan. Sebagian kalangan Muhammadiyah adalah pedangan dan tukang, sebagiannya lagi adalah tukang jahit. Menjelang hari raya, alasan orderan dan penambahan jumlah pekerjaan tidak memungkinkan mereka untuk duduk semalaman, hanya untuk darus.

Atas dasar ini Geertz berpandangan bahwa, konflik soal darus, tidak selalu terjadi antara santri modern dan santri kolot, tetapi juga antara santri yang tinggal di wilayah yang perkotaan (kecamatan) dan santri yang tinggal di desa. 

Santri kelas menengah perkotaan—umumnya kalangan Muhammadiyah, hampir tidak mungkin mengikuti gaya santri NU-pedesaan yang bisa menghabiskan waktu semalam suntuk melakukan kegiatan darus. Bagi mereka kegiatan darus sepanjang malam itu tidak masuk akal.

Di bagian lanjutan berikut ini, Geertz seolah-olah terlibat secara intens dalam kegiatan darus sehingga ia bisa memotret, memetakan dan membedakan dengan terperinci dua metode darus yang umum digunakan oleh santri NU.

Pertama, metode yang lazim berkembang di kalanga santri NU adalah membagi 30 juz Al-Quran, satu orang 1 juz, kemudian peserta darus secara bergantian menyimak untuk membenarkan bila terjadi kesalahan tajwid dalam membaca. Biasanya kelompok darus ini bersemangat mengkhatamkan al-Quran hingga 2 atau 3 kali selama bulan puasa. 

Kedua, setiap peserta darus membaca satu juz al-Quran secara bersamaan, sehingga dalam semalam bisa khatam. Tidak ada yang menyimak dan membenarkan bila terjadi salah dalam bacaan tajwid. Seisi langgar menjadi gaduh suara santri mengaji, bersahut-sahutan, dan hal ini bisa berlangsung hingga menjelang sahur. 

Bayangkan bila di zaman itu, kegiatan darus dilakukan dengan menggunakan pengeras suara. Maka sepanjang malam dalam sebulan, bisa dipastikan bagaimana gaduhnya suara kampung atau pedesaan di malam hari. 

Umumnya, santri-santri yang melakukan metode darus tersebut tidak tidur hingga saat sahur tiba. Itulah juga yang menjelaskan mengapa umumnya mereka memilih menghabiskan waktu untuk tidur di siang hari. 

Kalangan Muhammadiyah dan modernis lainnya, tidak mungkin melakukan cara-cara itu karena mereka memilih bekerja di siang hari, dan terutama persiapan hari raya jauh lebih penting bagi mereka dibandingkan dengan duduk semalaman di langgar. 

Dalam kadar tertentu, dalam pandangan Geertz, kalangan Muhammadiyah dan modernis tersebut sangat mirip dengan kelompok Protestan di Eropa yang lebih banyak menggunakan pertimbangan-pertimbangan rasional dalam beragama. 

***

Melalui amatan Geertz, kita menyaksikan polarisasi yang menganga di internal santri. Bukan hanya terkait dengan orientasi keagamaan, tetapi juga soal identitas dan pilihan-pilihan rasional dalam peribadatan. 

Bulan puasa di mata Geertz dipandang sebagai sistem kebudayaan santri. Di bulan baik ini, baik kalangan santri modern maupun santri yang dilabel ‘kolot’ tetap mengutamakan kegiatan peribadatan. Di salam sistem seperti ini, semua kegiatan di luar peribadatan dianggap sebagai kegiatan sekunder. Bahkan kegiatan politik pun mengalami pengenduran luar biasa di Modjokuto. 

Geertz mengaku memiliki informan seorang ketua Masyumi. Melalui informan tersebut, Geertz mendapatkan gambaran penting bahwa, baik Masyumi maupun NU, benar-benar menghentikan kegiatan politik—apalagi memanfaatkan momen puasa untuk syiar politik. Harus tetap diingat, proses penelitian ini berlangsung pada tahun 1954, sementara Pemilu pertama di Indonesia berlangsung pada tahun 1955. 

Bisa dikatakan, periode tersebut merupakan masa tinggi-tingginya eskalasi politik identitas yang terjadi pada Pemilu pertama. Di tengah gejolak politik aliran yang berkembang kala itu, tokoh-tokoh politik di Modjokuto—setidaknya dari kalangan Masyumi dan NU—telah berhasil meredam diri dengan mengendurkan seluruh kegiatan politik selama bulan puasa. 

Pengepul kebahagiaan dari temuan abad modern, berupa listrik, internet dan komputer. Hidup harmonis bersama barisan code dan segelas kopi kenangan.

Sign up for a newsletter today!

Want the best of KWFeeds Posts in your inbox?

You can unsubscribe at any time

What's your reaction?

Leave Comment

Related Posts

Celebrity Philantrophy Amazing Stories About Stories