Islami

KH Maimoen Zubair Tidak Menganjurkan Santrinya Menikah di Bulan Syawal, Inilah Alasannya

Oleh: Fiqih Sofiyullah Masyarakat santri Sarang khususnya santri Pondok Pesantren Al-Anwar mungkin sudah familiar dengan dawuh Allah Yarham Syaikhana Maimoen Zubair yang kurang merekomendasikan santrinya untuk menikah di bulan Syawal. Syaikhuna Maimoen justru menganjurkan santri-santri untuk menikah di bulan Dzulhijjah, atau Jumadal Akhirah, dan ini sudah menjelma sebagai etika pakem bagi santri beliau khususnya. Penulis sendiri

Oleh: Fiqih Sofiyullah

Masyarakat santri Sarang khususnya santri Pondok Pesantren Al-Anwar mungkin sudah familiar dengan dawuh Allah Yarham Syaikhana Maimoen Zubair yang kurang merekomendasikan santrinya untuk menikah di bulan Syawal. Syaikhuna Maimoen justru menganjurkan santri-santri untuk menikah di bulan Dzulhijjah, atau Jumadal Akhirah, dan ini sudah menjelma sebagai etika pakem bagi santri beliau khususnya.

Penulis sendiri selama nyantri kepada beliau belum pernah mendengarkan langsung beliau berbicara tentang hal ini. Hanya saja dawuh itu sudah sangat familiar di kalangan santri-santrinya dari generasi awal dan mungkin juga sampai generasi pasca beliau tilar ndunyo (meninggal dunia).

Penulis mulai tahun 2011 hingga 2019 belum pernah melihat beliau mengakadnikahkan santrinya di bulan Syawal khususnya di Ndalem (kediaman) beliau. Berbeda ketika bulan Dzulhijjah, beliau sering kali mengakad lebih dari satu pasangan di Ndalem beliau, bahkan hingga akhir bulan jika beliau tidak berhaji.

Penulis mencoba meneliti lebih lanjut maksud dawuh beliau ini melalui beberapa informan mulai dari alumni hingga guru-guru penulis sendiri yang mempunyai kedekatan dengan beliau.

Berbagai informan tersebut memunculkan kesimpulan yang sama yakni dawuh beliau tentang nikah bulan Syawal memang berdasarkan ilmu titen atau pengamatan beliau terhadap kondisi sosio-kultural masyarakat Jawa yang melakukan akad nikah di bulan Syawal kurang bisa mencapai fase financial freedom dalam kehidupan pernikahannya.

Penulis mendapat informasi terkait almarhum KH Basthomi Mustai’n Gempol Pasuruan, anaknya bercerita kepada penulis bahwa Kiai Basthomi pernah di-ngendikani Syaikhuna Maimoen sebagai berikut: 

“Pak Bas, Sepurane seng akeh, Sampean mbiyen aku nikahno wulan Syawwal, kaprahe wong nikah wulan Syawal iku ora pati nyekel duit.” 
Artinya: Pak Bas, maaf sangat, Anda dulu saya nikahkan di bulan Syawal, kebanyakan orang yang menikah di bulan Syawal itu tidak begitu kaya.”

Sikap Syaikhuna Maimoen ini merupakan bentuk penghormatan terhadap etika masyarakat Jawa yang sarat akan kaidah-kaidah yang dibangun dari pengamatan kejadian yang biasa terjadi, meskipun etika itu tidak tertulis dalam teks-teks dalil agama bukan berarti tidak harus dihormati dan justru disepelekan.

Perlu digarisbawahi bahwa Syaikhuna tidak sama sekali melarang bahkan mencegah santri-santri untuk menikah di bulan Syawal, karena pada dasarnya dalam dalil agama tidak ada sama sekali larangan untuk menikah di bulan tertentu, bahkan dalam teks-teks para ulama banyak yang mensunnahkan pernikahan dilakukan di bulan ini. Beliau hanya memberikan pilihan kepada para santri atas dasar pengamatan beliau terhadap sosio-kultural masyarakat yang sejatinya bukan merupakan hukum pasti yang menjelma sebagai takdir yang pasti terjadi.

Bahkan menurut sebagian informan yang penulis wawancarai, godaan rumah tangga bagi yang menikah di bulan Syawal memang cenderung berat, jika bisa bertahan dan melaluinya maka akan mendapatkan derajat kehidupan yang tinggi. Hal ini berbanding lurus jika dikatakan menikah di bulan Syawal atas dasar ittiba’ Rasulillah, karena sudah diketahui oleh setiap Muslim bahwa kehidupan pernikahan Nabi penuh dengan cobaan bahkan cobaan ekonomi dan finansial karena kehidupan beliau bisa dikatakan dalam keadaan faqir sebagaimana hadits yang sering disebutkan.

Perlu digarisbawahi juga, pengamatan Syaikhuna Maimoen terhadap fenomena pernikahan di bulan Syawal bukan berarti sebuah tathayyur atau sebuah ramalan kesialan sebagaimana yang berlaku dalam sosio-kultural masyarakat jahiliyah pra-Islam. Sejatinya Syaikhuna hanya mengamati beberapa kejadian yang kerap terjadi dan tidak menggeneralisir menjadi suatu kaidah kuantitatif yang selalu tejadi sesuai dengan ketentuannya.

Ramalan nasib buruk (tathayyur) atau kesialan (tasya’um) tentang pernikahan bulan Syawal oleh masyarakat pra-Islam dalam catatan sejarah didasarkan atas beberapa hal. Di antaranya adalah nama Syawal itu sendiri sebagaimana catatan al-Qurthubi berikut:

فَكَأَنَّهُمْ كَانُوْا يَتَوَهَّمُوْنَ أنَّ كلَّ مَنْ تَزَوَّجَ في شوَّالٍ مِنْهُنَّ شَالَ الشَنَآنُ بينَهَا وبين الزوجِ ، أو شَالَتْ نَفْرَتُهُ ، فلَمْ تَحْصُلْ لها حَظْوَةٌ عندَهُ

Artinya: “Seakan mereka (masyarakat pra-Islam) menganggap setiap pernikahan di bulan syawal menaikkan tensi kebencian diantara suami istri, atau menghilangkan rasa simpati dan tidak bisa memunculkan kemurahan hati dan kehormatan dalam pernikahan yang dijalani.” (Ahmad bin Umar al-Qurthubi, Al-Mufhim lima Asykala min Talkhishi Kitabi Muslim, [Maktabah Syamilah], juz 12, hal. 148.).

Muhammad bin Said al-Bashri mencatat persepsi negatif pra-Islam tentang fenomena ini juga didasari atas wabah endemik yang menular (tha’un) sebagai berikut:

وقال أبو عاصم: إِنَّمَا كَرِهَ الناسُ أنْ يَدْخلُوا النساءَ في شوالٍ لطَاعُوْنٍ وقَعَ في شوالٍ في الزمنِ الأولِ

Artinya: “Abu Ashim al-Nabil al-Dhahak mengatakan masyarakat pra-Islam tidak menyukai memulai membina rumah tangga di bulan syawal karena pernah terjadi wabah endemik di bulan syawal pada era pertama”. (Ibnu Said al-Bashri, Thabaqatul Kubra, [Maktabah Syamilah], juz 8, hal. 60.).

Ibnu Rajab juga mencatat sebagaimana Ibnu Said sebagai berikut:

وكَذَلِكَ تَشَاؤُمُ أهلِ الجاهلِيَّةِ بشَوَّالٍ في النكاحِ فيِهِ خاصةً وقَدْ قِيْلَ: إنَّ أَصْلَهُ أنَّ طَاعُوْنًا وقَعَ في شوالٍ في سنةٍ من السِّنِيْنَ فمَاتَ فِيْهِ كثيْرٌ مِنْ العَرَائِسِ فتشَاءَمَ بِذَلِكَ أهلُ الجَاهِلِيَّةِ. وقَدْ وَرَدَ الشرعُ بإِبْطَالِهِ

Artinya: “Begitu juga persepsi sial masyarakat pra-Islam terhadap pernikahan di bulan syawal, dikatakan bahwa akar persepsi negatif itu berdasarkan wabah endemik yang terjadi di bulan syawal pada suatu tahun yang menyebabkan banyak angka kematian terhadap pengantin baru, kemudian masyarakat pra-Islam menyematkan bulan itu dengan kesialan, dan syariah Islam datang untuk menolaknya”. (Ibnu Rajab al-Hambali, Lathaiful Ma’arif fima li Mawasimil Am minal Waza’if, [Maktabah Syamilah], juz 1, hal. 70.).

Memilih hari yang baik yang memang dianggap baik adalah suatu kebaikan tersendiri, meskipun tidak ada istilah hari sial dalam catatan syariah Islam. Memilih hari baik untuk menikah bisa atas dasar kesunnahan sebagaimana catatan teks-teks ulama yakni pada bulan syawal, namun tidak menutup kemungkinan untuk melakukan pernikahan di selain bulan itu. 

Pengamatan seseorang akan hari baik untuk melakukan sesuatu yang spesial atas dasar kasus kualitatif yang banyak terjadi bukan merupakan generalisir menjadi suatu rumus kuantitatif yang probabilitas kejadiannya mencapai 90%. Pengamatan itu juga merupakan hasil research yang memiliki kesimpulan tersendiri bagi peneliti yang boleh saja untuk dianut oleh pemerhati penelitian itu.

Tidak ada konfrontasi antara dawuh Syaikhuna tentang kurang merekomendasi untuk menikah di bulan syawal dengan status kesunnahannya sebagaimana teks para ulama. Syaikhuna sendiri sejatinya sama sekali tidak melarang, bahkan memberikan pilihan dengan berbagai pertimbangan yang sama sekali tidak didasari oleh persepsi buruk, tidak sebagaimana dasar tathayur dan tasyaum masyarakat pra-Islam.

Semua kembali kepada pilihan masing-masing, boleh menganut boleh tidak, dan tidak menyalahkan sama sekali mereka yang melakukan pernikahan di bulan Syawal karena bagaimanapun juga kasus-kasus dalam pengamatan penelitian adalah bersifat kualitatif yang terkadang mempunyai fenomenanya tersendiri, yang tidak bisa diukur dengan alat kuantitatif yang bersifat kausalitas matematis. Wallahu a’lam bisshawab.   
   

Pengepul kebahagiaan dari temuan abad modern, berupa listrik, internet dan komputer. Hidup harmonis bersama barisan code dan segelas kopi kenangan.

Sign up for a newsletter today!

Want the best of KWFeeds Posts in your inbox?

You can unsubscribe at any time

What's your reaction?


    Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 226
    Awesome
    Awesome

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 15
    EW
    Ew!

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 12
    FUNNY
    Funny

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 9
    LOL
    Lol

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 98
    Loved
    Loved

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 54
    OMG
    Omg!
Leave Comment

Related Posts

Celebrity Philantrophy Amazing Stories About Stories